Pesisir Baru Ulu Dibersihkan, Warga Balikpapan Diingatkan Laut Bukan Tempat Sampah

BALIKPAPAN, inibalikpapan.com — Pesisir RT 17 Kelurahan Baru Ulu menjadi ruang gotong royong warga Balikpapan menjaga lingkungan menjelang HUT ke-81 Republik Indonesia. Melalui kegiatan “Pesisir Merdeka dari Sampah Tahun 2026”, masyarakat diajak melihat kebersihan pesisir bukan sebagai urusan pemerintah semata, tetapi tanggung jawab bersama.

Kerja Bakti Massal (KBM) tersebut digelar di RT 17, Kelurahan Baru Ulu, Balikpapan, Minggu (9/8/2026).

Kegiatan ini menjadi momentum untuk mengingatkan kembali persoalan sampah di kawasan pesisir. Bagi kota seperti Balikpapan yang memiliki hubungan erat dengan laut, kawasan pesisir bukan sekadar bagian dari wajah kota, tetapi juga ruang hidup masyarakat.

Karena itu, menjaga pesisir tidak cukup dilakukan ketika ada kegiatan kerja bakti. Pemerintah mendorong kepedulian tersebut tumbuh menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.

Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud menekankan bahwa kemerdekaan seharusnya diwujudkan melalui tindakan nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Membersihkan pesisir bukan hanya soal mengangkat sampah yang terlihat. Ada kepentingan yang lebih besar, mulai dari menjaga kesehatan masyarakat, melindungi ekosistem laut, hingga memastikan generasi mendatang tetap memiliki lingkungan yang layak.

Pesan itu sekaligus menempatkan warga sebagai bagian penting dalam menjaga kawasan pesisir. Pemerintah, komunitas, dunia usaha, dan berbagai pemangku kepentingan perlu bergerak bersama agar persoalan lingkungan tidak hanya ditangani ketika sudah menjadi masalah.

Kebiasaan Sederhana Jadi Kunci

Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperkim) Kota Balikpapan Rafiuddin menjadi salah satu unsur pemerintah daerah yang berkaitan dengan upaya penataan dan peningkatan kualitas kawasan permukiman.

Pemerintah Kota Balikpapan juga menempatkan partisipasi masyarakat sebagai bagian penting untuk menjaga lingkungan permukiman agar tetap layak dan berkelanjutan.

Pendekatan tersebut sejalan dengan penataan permukiman yang selama ini dikembangkan Disperkim melalui kolaborasi pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, dan media.

Dalam kegiatan “Pesisir Merdeka dari Sampah”, perubahan perilaku didorong dimulai dari hal-hal yang sederhana.

Warga diingatkan membuang sampah pada tempatnya, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memilah sampah dari rumah, serta saling mengingatkan untuk menjaga kebersihan lingkungan.

Dengan begitu, kerja bakti tidak berhenti pada sampah yang berhasil dikumpulkan pada satu hari. Yang lebih penting adalah munculnya kebiasaan untuk tidak kembali membuang sampah sembarangan.

Warga Juga Diingatkan Hadapi Kemarau

Selain persoalan kebersihan, masyarakat juga diingatkan meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi kemarau panjang.

Warga diminta menghemat penggunaan air, tidak membakar sampah sembarangan, serta rutin memeriksa instalasi listrik untuk mengantisipasi risiko kebakaran.

Pesan tersebut, menurut Rafiudin, menjadi penting karena menjaga lingkungan tidak hanya berkaitan dengan sampah. Tetapi juga kesiapan masyarakat menghadapi kondisi musim yang dapat meningkatkan berbagai risiko.

Dari kegiatan di Baru Ulu, pesan yang dibawa cukup sederhana: menjaga kota tidak selalu membutuhkan tindakan besar.

Memungut sampah yang berserakan, mengurangi plastik, memilah sampah dari rumah, menjaga laut, dan saling mengingatkan merupakan bagian dari cara warga merawat tempat tinggalnya.***

Penulis: Samsul

Editor: Donny M.

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses