Bahlil Pastikan Harga Pertalite-Solar Subisidi Masih Aman Meski Harga Minyak Dunia Naik Turun

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (12/03/2026) (foto : Setneg)
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (12/03/2026) (foto : Setneg)

JAKARTA, inibalikpapan.com– Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan pemerintah tidak akan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi meski harga minyak mentah dunia masih berfluktuasi.

Pernyataan itu Bahlil sampaikan saat menanggapi penurunan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax yang kini menjadi Rp15.950 per liter di Jakarta, turun dari sebelumnya Rp16.250 per liter.

Menurut Bahlil, perubahan harga BBM nonsubsidi merupakan konsekuensi dari mekanisme pasar yang mengikuti pergerakan Indonesia Crude Price (ICP) atau harga minyak mentah dunia.

“Ya kan saya dari awal katakan bahwa menyangkut dengan BBM yang non-subsidi, itu harganya memang akan mengikuti harga pasar dunia, ICP. Jadi kalau harga dunianya turun, dengan sendirinya akan terkoreksi. Tapi kalau naik, pasti juga akan naik. Dan sekarang kan lagi turun,” ujar Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (3/8/2026).

Ia menjelaskan penurunan harga Pertamax merupakan bentuk penyesuaian yang dilakukan badan usaha menyusul turunnya harga minyak mentah di pasar internasional.

Meski demikian, Bahlil mengakui perkembangan harga minyak ke depan masih bergantung pada kondisi geopolitik global sehingga sulit diprediksi.

“Ya tergantung kondisi geopolitik dunia. Tapi yang penting gini loh, yang penting adalah BBM subsidi itu tidak akan naik. Itu yang paling penting,” tegasnya.

Jaga Fokus

Bahlil menegaskan fokus pemerintah saat ini adalah menjaga daya beli masyarakat. Caranya melalui stabilitas harga BBM bersubsidi yang digunakan mayoritas masyarakat Indonesia.

Menurut dia, sekitar 80 persen konsumsi BBM nasional masih berasal dari jenis BBM bersubsidi. Sedangkan BBM nonsubsidi hanya digunakan sekitar 20 persen masyarakat.

“Karena total pemakaian BBM 80 persen itu subsidi, yang non-subsidi itu 20 persen, itu kan bagi yang mampu. Tapi kalau yang 80 persen itu tetap menjadi bagian yang ditanggung oleh pemerintah, yaitu subsidi,” katanya.

Pemerintah, lanjut Bahlil, akan terus mempertahankan kebijakan subsidi energi. Iniebagai bentuk perlindungan terhadap masyarakat di tengah ketidakpastian harga minyak dunia dan dinamika ekonomi global.***

Penulis: Donny M.

Sumber: Suara.com (jaringan inibalikpapan.com)

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses