Siasati Mahalnya Bahan Baku, Perajin Balikpapan Beralih dari Kayu ke Eksotisme Batik dan Manik-manik
BALIKPAPAN, Inibalikpapan.com — Kenaikan harga bahan baku kayu tak lantas memadamkan semangat kreativitas para perajin lokal di Kota Balikpapan. Menghadapi tantangan biaya produksi, kelompok perajin yang dulunya fokus pada ukiran furnitur kini bertransformasi menjadi penggerak ekonomi kreatif melalui kerajinan batik, ecoprint, hingga manik-manik.
Evolusi ini dimulai sejak tahun 2002. Kelangkaan dan mahalnya kayu untuk pembuatan lemari atau kursi mendorong mereka mencari alternatif produk yang lebih terjangkau namun memiliki nilai seni tinggi.
Manik-manik Jadi Primadona Baru
Saat ini, tren kerajinan di Balikpapan mulai bergeser. Produk manik-manik dan batik menjadi komoditas yang paling banyak diburu oleh kolektor maupun wisatawan.
“Kalau sekarang yang paling dominan itu manik-manik, selain batik yang juga mulai banyak diminati,” ujar salah satu penggerak kelompok perajin tersebut.
Pembagian kerja dalam kelompok ini dilakukan secara spesifik berdasarkan minat anggota. Untuk sektor batik, terdapat sekitar 10 orang anggota aktif, sementara kerajinan manik-manik dikelola oleh tim inti yang juga berperan sebagai instruktur bagi anggota baru.
Terbuka untuk Umum dan Misi Regenerasi
Kelompok perajin ini memiliki sifat inklusif. Anggotanya tidak hanya terbatas pada kelurahan tertentu, tetapi terbuka bagi seluruh warga Balikpapan yang ingin belajar. Pelatihan rutin digelar setiap hari mulai pukul 09.00 hingga 12.00 Wita.
Namun, tantangan terbesar saat ini adalah menarik minat generasi muda di tengah distraksi teknologi. Untuk menjaga fokus, para pelatih menerapkan disiplin ketat, terutama saat proses pembuatan pola batik yang membutuhkan ketelitian tinggi.
“Regenerasi sangat penting. Kami ingin generasi muda melanjutkan keterampilan ini, meski tantangannya adalah ketergantungan pada gawai. Saat sesi menggambar pola, ponsel harus disingkirkan agar hasilnya maksimal,” tambahnya.
Melampaui Keterbatasan Lewat PPDI
Salah satu hal yang membanggakan, penggerak utama kelompok ini juga aktif dalam Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI). Hal ini membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk terus berkarya dan berbagi ilmu kepada masyarakat luas.
Produk hasil karya mereka, mulai dari aksesori manik-manik hingga kain batik khas Balikpapan, kini rutin dipasarkan melalui berbagai pameran UMKM dan event lokal. Perjalanan kelompok ini menjadi bukti nyata bahwa adaptasi dan ketekunan adalah kunci untuk menjaga warisan budaya tetap eksis di tengah perubahan zaman.
BACA JUGA
