Survei SMRC: Elektabilitas Gerindra Merosot Tajam, Efek Turunnya Kepuasan terhadap Prabowo?
JAKARTA, Inibalikpapan.com – Posisi Partai Gerindra sebagai partai terkuat nasional mulai terancam. Survei terbaru Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menunjukkan elektabilitas partai besutan Presiden Prabowo Subianto anjlok tajam hanya dalam beberapa bulan terakhir, seiring menurunnya kepuasan publik terhadap kinerja pemerintahan.
Padahal, secara historis partai yang mengusung presiden petahana yang kembali maju dalam pemilihan presiden cenderung menjadi pemenang pemilu. Fenomena itu pernah terjadi pada Partai Demokrat saat Pemilu 2009 dan PDI Perjuangan pada Pemilu 2019.
Namun, tren tersebut belum berpihak kepada Gerindra.
Berdasarkan survei nasional SMRC bertajuk “Elektabilitas Partai” yang dilakukan pada 5-19 Juli 2026, Gerindra memang masih berada di posisi pertama dengan elektabilitas 16,9 persen, tetapi angkanya turun drastis dibanding survei sebelumnya.
Direktur Eksekutif SMRC, Deni Irvani, mengatakan hasil survei menunjukkan dukungan terhadap Gerindra mengalami koreksi signifikan setelah sempat melonjak pasca Pemilu 2024.
Gerindra Kehilangan Hampir 13 Poin Elektabilitas
SMRC mencatat Gerindra memperoleh 13,2 persen suara pada Pemilu 2024. Dukungannya kemudian melonjak menjadi 23,3 persen pada November 2025 dan mencapai puncaknya di angka 29,3 persen pada survei Februari-Maret 2026.
Namun dalam survei terbaru Juli 2026, elektabilitas Gerindra merosot menjadi 16,9 persen. Artinya, partai penguasa kehilangan sekitar 12,4 poin hanya dalam kurun waktu sekitar lima bulan.
Meski masih menjadi partai dengan elektabilitas tertinggi, jaraknya dengan pesaing mulai menyempit.
Dalam simulasi semi terbuka, perolehan elektabilitas partai adalah:
- Gerindra: 16,9 persen
- PDI Perjuangan: 11,7 persen
- Golkar: 9,6 persen
- Demokrat: 8,1 persen
- PKB: 5,4 persen
- NasDem: 4,4 persen
- PKS: 4,4 persen
- PSI: 4,1 persen
- Perindo: 2,2 persen
- PAN: 1,9 persen
- PPP: 1,3 persen
- Partai Garuda: 1 persen
- Partai lainnya: di bawah 1 persen.
Yang juga menjadi perhatian, sebanyak 25,9 persen responden mengaku belum menentukan pilihan atau tidak menjawab. Besarnya kelompok pemilih mengambang ini menunjukkan peta politik masih sangat dinamis menjelang Pemilu.
SMRC: Penurunan Gerindra Sejalan dengan Turunnya Kepuasan terhadap Prabowo
Menurut Deni Irvani, merosotnya elektabilitas Gerindra tidak terjadi tanpa sebab. Penurunan tersebut berjalan seiring dengan melemahnya penilaian publik terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
“Penurunan elektabilitas Gerindra dalam sembilan bulan terakhir konsisten paralel dengan turunnya evaluasi positif publik atas kinerja Presiden Prabowo,” ujar Deni, dalam siaran persnya.
Ia menambahkan, sentimen masyarakat terhadap kondisi ekonomi, politik, penegakan hukum, hingga sejumlah program unggulan pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) juga mengalami penurunan.
SMRC menilai kombinasi faktor-faktor tersebut ikut memengaruhi menurunnya dukungan terhadap partai penguasa.
PDIP dan Golkar Ikut Melemah
Bukan hanya Gerindra yang mengalami penurunan.
Elektabilitas PDI Perjuangan turun dari 16,7 persen pada Pemilu 2024 menjadi 11,7 persen dalam survei Juli 2026. Golkar juga turun dari 15,3 persen menjadi 9,6 persen.
Sementara itu, Partai Demokrat justru relatif stabil dengan kenaikan tipis dari 7,4 persen menjadi 8,1 persen.
Adapun PKB, PKS, NasDem, dan PAN disebut mengalami fluktuasi sejak Pemilu 2024, namun secara umum trennya juga cenderung menurun.
Metodologi Survei
Survei SMRC dilakukan pada 5-19 Juli 2026 terhadap 749 responden yang dipilih secara acak dan mewakili pemilih Indonesia.
Sebanyak 83,8 persen responden diwawancarai melalui telepon, sedangkan 16,2 persen lainnya melalui wawancara tatap muka bagi mereka yang tidak memiliki telepon seluler.
Survei memiliki margin of error ±3,7 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Dengan demikian, perbedaan elektabilitas baru dianggap signifikan secara statistik jika mencapai minimal dua kali margin of error atau sekitar 7,4 persen.
Penulis : Abraham Johan
Editor : Abraham Johan
BACA JUGA
