Ancelotti Sebut Kekalahan Timnas Asuhannya dari Norwegia Awal Baru Petualangan Brasil

Ancelotti menilai Brasil sebenarnya tampil lebih baik dan layak memenangkan pertandingan sebelum akhirnya dua gol Erling Haaland membalikkan keadaan. (Foto: Digital Hub FIFA)

EAST RUTHERFORD, inibalikpapan.com – Brasil harus mengubur mimpi meraih gelar keenam Piala Dunia setelah disingkirkan Norwegia 1-2 pada babak 16 besar Piala Dunia 2026. Meski gagal memenuhi ekspektasi, pelatih Carlo Ancelotti menegaskan kekalahan tersebut bukan akhir perjalanan Selecao, melainkan awal dari proses membangun tim menuju Piala Dunia 2030.

Ancelotti menilai Brasil sebenarnya tampil lebih baik dan layak memenangkan pertandingan sebelum akhirnya dua gol Erling Haaland membalikkan keadaan.

“Saya pikir kami pantas memenangkan pertandingan. Kami mengendalikan permainan selama sekitar 70 menit, tetapi Haaland akhirnya menjadi pembeda,” kata Ancelotti usai laga, dikutip dari FIFA.

Kekalahan Jadi Awal Siklus Baru

Pelatih asal Italia itu mengakui tersingkir di babak 16 besar merupakan momen yang sangat menyakitkan bagi Brasil. Namun, ia meminta seluruh tim segera bangkit dan menjadikan hasil tersebut sebagai fondasi membangun generasi baru.

“Kekalahan adalah awal dari petualangan baru. Kami harus terus berkembang, menemukan ide-ide baru. Ini bukan akhir, melainkan awal siklus baru,” ujarnya.

Kontrak Ancelotti bersama Brasil masih berlaku hingga 2030. Ia memastikan fokusnya kini adalah mengevaluasi skuad, memperbaiki kualitas permainan, sekaligus mempersiapkan tim menghadapi siklus Piala Dunia berikutnya.

Banyak Kendala Sejak Menangani Brasil

Sejak ditunjuk menangani Brasil pada Mei 2025, Ancelotti menghadapi berbagai tantangan. Sejumlah pemain penting seperti Estêvão, Rodrygo, dan Éder Militão harus absen karena cedera, disusul Raphinha serta Lucas Paquetá yang mengalami masalah kebugaran selama turnamen berlangsung.

Situasi tersebut membuat Piala Dunia 2026 menjadi proses pembentukan tim sekaligus ajang menguji komposisi pemain baru.

“Kami akan mengevaluasi para pemain, mencari ide baru, dan terus memperbaiki tim seperti yang telah kami lakukan selama setahun terakhir,” katanya.

Marquinhos Ambil Tanggung Jawab

Kapten Brasil Marquinhos juga menerima kegagalan tersebut sebagai tanggung jawab pemain senior. Bek berusia 32 tahun itu meminta publik tetap memberikan dukungan kepada generasi muda Selecao.

“Saya sebagai kapten bersama para pemain senior harus bertanggung jawab atas hasil ini agar generasi berikutnya bisa bekerja dengan pikiran yang lebih tenang,” ujarnya.

Menurut Marquinhos, Brasil masih memiliki waktu empat tahun untuk membangun tim yang lebih kuat menuju Piala Dunia berikutnya.

Isyarat Perpisahan Neymar?

Kekalahan dari Norwegia juga memunculkan spekulasi mengenai masa depan Neymar bersama tim nasional Brasil.

Saat meninggalkan lapangan, pemain berusia 34 tahun itu hanya memberikan komentar singkat.

“Saya sudah mencoba. Sekarang semuanya selesai. Saya memulai di stadion ini, dan saya mengakhirinya di sini.”

Pernyataan tersebut memicu dugaan bahwa Piala Dunia 2026 menjadi turnamen terakhir Neymar bersama Selecao, meski hingga kini belum ada pernyataan resmi mengenai pensiunnya dari tim nasional.

Bagi Brasil, kegagalan kali ini menjadi awal pekerjaan besar untuk membangun kembali kekuatan tim. Sementara bagi Norwegia, kemenangan atas lima kali juara dunia itu menjadi sejarah baru setelah berhasil menembus perempat final Piala Dunia untuk pertama kalinya.

Penulis: Donny Moslem
Sumber: FIFA
Editor: Donny

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses