Harga Minyak Dunia Naik Lagi, Konflik AS-Iran Kembali Memicu Kekhawatiran Pasokan Global
JAKARTA, inibalikpapan.com – Harga minyak mentah dunia kembali meningkat pada perdagangan Senin (29/6/2026) setelah konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas. Eskalasi terbaru di kawasan Teluk memicu kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global, terutama melalui jalur strategis Selat Hormuz.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent naik 52 sen atau 0,67 persen menjadi 72,51 dolar AS per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat 71 sen atau 1,03 persen ke level 69,94 dolar AS per barel.
Kenaikan tersebut membalikkan pelemahan tajam pada pekan sebelumnya ketika harga minyak sempat terkoreksi akibat meningkatnya volume pengiriman minyak melalui Selat Hormuz.
Namun, situasi kembali berubah setelah sejumlah kapal tanker mengalami serangan sejak Kamis lalu, termasuk kapal yang terafiliasi dengan Qatar. Insiden tersebut memicu aksi saling serang antara AS dan Iran sekaligus memperburuk ketegangan di kawasan.
Analis dari ANZ menilai pasar kini mulai mempertimbangkan kembali proyeksi pemulihan pasokan minyak dari kawasan Teluk Persia.
“Pasar kemungkinan akan mengevaluasi kembali asumsi terkait percepatan pemulihan pasokan minyak dari Teluk Persia,” tulis analis ANZ dalam laporan risetnya.
Di tengah meningkatnya ketegangan, laporan Axios menyebutkan AS dan Iran dikabarkan telah menyepakati penghentian sementara eskalasi konflik di kawasan Teluk serta berencana melanjutkan perundingan di Qatar terkait sengketa Selat Hormuz.
Meski demikian, laporan tersebut belum dapat diverifikasi secara independen oleh Reuters sehingga belum cukup kuat meredam kekhawatiran pasar.
Pasokan Masih Belum Pulih
Dari sisi pasokan, perusahaan energi Arab Saudi, Aramco, telah kembali melakukan pemuatan minyak mentah di terminal Ras Tanura sejak Jumat lalu setelah sempat terhenti hampir empat bulan.
Aktivitas tersebut menjadi bagian dari upaya produsen Timur Tengah meningkatkan produksi dan ekspor minyak menyusul membaiknya situasi keamanan.
Namun, menurut ANZ, distribusi fisik minyak masih menghadapi berbagai kendala di lapangan.
Mulai dari antrean kapal tanker, kerusakan infrastruktur, hingga masih ditutupnya sejumlah fasilitas produksi membuat pemulihan pasokan diperkirakan berlangsung lebih lambat.
Analis memperkirakan pasokan minyak global baru dapat kembali mendekati kondisi sebelum konflik pada akhir tahun 2026.
Sementara itu, aktivitas di terminal Ras Tanura tetap berlangsung meski sebuah helikopter milik Aramco jatuh pada Minggu (28/6/2026). Insiden tersebut menewaskan 14 warga Arab Saudi, sementara otoritas setempat masih menyelidiki penyebab kecelakaan tersebut.
Pelaku pasar kini terus memantau perkembangan hubungan AS dan Iran karena setiap eskalasi baru berpotensi kembali memengaruhi harga energi global serta stabilitas pasokan minyak dunia.***
Penulis: Donny M.
Sumber: Reuters & Suara.com
Editor: Donny
BACA JUGA
