Antisipasi El Nino, PTMB Balikpapan Siapkan Strategi, Produksi Air Diproyeksi Turun 25 Persen
BALIKPAPAN, inibalikpapan.com — Menghadapi potensi dampak El Nino tahun ini, Perumda Tirta Manuntung Balikpapan (PTMB) mulai menyiapkan sejumlah langkah strategis. Fokus utamanya menjaga pasokan air bersih tetap aman meski ancaman penurunan curah hujan mulai terasa.
Direktur Utama PTMB, Yudhi Saharuddin, mengatakan kesiapan sudah dilakukan sejak dini begitu ada peringatan dari BMKG. Koordinasi juga langsung dilakukan bersama pemerintah kota dan Dewan Pengawas.
“Begitu kami menerima informasi awal, kami langsung menggelar rapat direksi dan berkoordinasi dengan Dewan Pengawas serta pemerintah kota untuk menyusun langkah penanganan bersama,” ujar Yudhi.
Belajar dari pengalaman El Nino akhir 2023 hingga awal 2024, penurunan curah hujan saat itu cukup signifikan dan kondisi baru pulih pada Mei 2024. Tahun ini, puncak El Nino di Kalimantan diperkirakan terjadi pada Juni hingga Oktober.
Berdasarkan analisis Balai Wilayah Sungai, curah hujan berpotensi turun hingga 40 persen. Dampaknya, aliran air ke waduk seperti Manggar dan Teritip bisa merosot hingga di bawah 50 persen.
Untuk menjaga keberlanjutan pasokan, PTMB menyiapkan skenario pengurangan produksi. Saat puncak El Nino, kapasitas produksi air bersih diperkirakan hanya mencapai 75 persen atau turun sekitar 25 persen dari kondisi normal.
“Langkah ini bukan semata pengurangan layanan, tapi untuk memastikan air tetap tersedia hingga periode kering berakhir, bahkan sampai awal 2027,” jelasnya.
Sebagai langkah mitigasi, PTMB mengoptimalkan sumber air alternatif, termasuk bendungan pengendali (bendali). Air dari bendali akan diolah menggunakan Instalasi Pengolahan Air (IPA) mobile yang fleksibel dan bisa dipindahkan sesuai kebutuhan.
Distribusi Darurat dan Prioritas Wilayah Terdampak
Distribusi air juga disiapkan melalui skema darurat menggunakan mobil tangki. Pemerintah kota menambah jumlah armada menjadi sekitar 30 unit, meningkat dari sebelumnya 10 unit.
Wilayah Balikpapan Utara dan Barat diprioritaskan karena dinilai paling berpotensi terdampak. Selain itu, warga juga disiapkan fasilitas penampungan seperti tandon atau drum air.
Di sisi lain, PTMB masih beroperasi normal sambil terus memantau kondisi waduk. Tambahan pasokan air baku dari sumur bantuan pemerintah provinsi serta potensi Sungai Sepaku turut menjadi penopang.
Namun, tantangan operasional juga muncul, terutama kenaikan biaya bahan bakar yang berdampak pada distribusi air menggunakan mobil tangki. Perbaikan jaringan pipa juga terus dilakukan untuk meminimalkan kebocoran.
“Kami ingin distribusi tetap berjalan stabil 24 jam tanpa gangguan teknis,” tegas Yudhi.
Meski ada peluang pemulihan jika curah hujan kembali normal pada Oktober hingga Desember, kewaspadaan tetap dijaga. Pemerintah dan PTMB pun mengimbau masyarakat untuk menggunakan air secara bijak.
Upaya ini bukan hanya soal menjaga distribusi, tetapi memastikan keberlanjutan sumber daya air di tengah tantangan iklim yang semakin tidak menentu.***
BACA JUGA
