Pedagang sembako di pasar Klandasan, Balikpapan

Antisipasi Harga Melonjak, TPID Balikpapan Siapkan Jurus 4K

BALIKPAPAN, Inibalikpapan.com –  Pandemi covid-19 yang berkepanjangan dan kian memprihatinkan dinilai bisa memicu inflasi ataupun harga melonjak khususnya pada April-Mei 2020 di Kota Balikpapan.

Pasalnya, selama ini 99 persen kebutuhan rata-rata di Kota Balikpapan dipasok dari luar daerah, khususnya Pulau Jawa dan Sulawesi. Apalagi, kini menjelang ramadhan dan lebaran harga mulai merangkat naik.

Wakil Ketua Tim Pengendalian Inflasi (TPID) Kota Balikpapan, Bimo Epyanto mengatakan, pihaknya telah menyiapkan berbagai langkah strategis mengantisipasi terjadinya risiko jika terjadi inflasi.

TPID kata dia, telah menggelar rapat membahas strategi pengendalian inflas. Hasilnya akan menerapkan 4K yakni keterjangkauan harga, ketersedian pasokan, kelancaran distribusi dan komunikasi yang efektif.

Dia mengungkapkan, pandemi covid-19 bisa menyebakan terjadinya penurunan pasokan. Akibat sejumlah daerah yang selama ini menjadi pemasok menerapkan pembatasan sosial sehingga menganggu distribusi.

“Tapi Kenaikkan harga sayur dan ikan juga bisa terjadi, karena penurunan aktifitas nelayan maupun petani menanam,” ujarnya.

Nelayan memang dalam beberapa pekan terakhir sudah menggurangi aktivitas melaut karena hasil tangkapan melimpah sementara permintaan turun. Mereka pun kesulitan memasok keluar daerah karena pembatasan sosial.

“Kami mencoba menerapkan 4K mengantisipasi risiko inflasi, supaya inflasi tetap terjaga pada level 3,5% ± 1%,” katanya.

Dia menjelaskan, penerapan 4K upaya untuk melakukan intervensi pasar agar harga tetap stabil dan terjangkau, misalnya dengan menggelar operasi pasar, mendorong urban farming di lingkungan kelurahan dan RT.

Disamping itu melakukan pemantauan panen komoditas sayuran dan pasokan bahan pangan ditingkat distributor, termasuk optimalisasi layanan delivery pengantaran ke konsumen dan menginisiasi belanja online.

Namun kata dia, ada juga yang bisa menahan laju inflasi seperti koreksi tarif angkutan udara karena jumlah penumpang yang turun dan pembatasan operasional bandara dan penyesuaian harga BBM seiring minyak dunia anjlok.

Baca juga ini :  Widodo Bersyukur Sriwijaya FC Curi Poin Dikandang Persiba

Disamping itu daya beli masyarakat juga menurun, dampak dari kondisi keuangan masyarakat yang merosot dratis karena adanya karyawan yang dirumahkan dan di PHK. Termasuk sejumlah komodistas yang mencukupi.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.