ASUS Bikin Laptop AI Makin Pintar, Bisa Kerja Offline hingga Gabungkan ChatGPT, Gemini dan Claude
BALIKPAPAN, inibalikpapan.com — Laptop berbasis kecerdasan buatan (AI) mulai bergerak dari sekadar embel-embel fitur menjadi perangkat yang mampu mengerjakan berbagai tugas AI secara langsung.
Melihat tren tersebut, ASUS memperkenalkan perangkat lunak AI bernama ASUS Zenni Claw yang dirilis ASUS Headquarters (HQ) pada Juni 2026. Software ini memungkinkan pengguna mengakses dan menjalankan berbagai layanan AI, baik secara lokal di perangkat maupun melalui layanan berbasis internet.
Head of Corporate Communications ASUS Indonesia, Muhammad Firman, mengatakan Zenni Claw dapat digunakan pada berbagai perangkat ASUS, mulai laptop, desktop, hingga All-in-One PC.
Salah satu kemampuan yang ditawarkan adalah menghubungkan berbagai layanan AI yang sudah digunakan pengguna, seperti ChatGPT, Gemini, dan Claude.
“Jadi dari satu aplikasi bisa menjalankan beberapa layanan AI. Pengguna tinggal menghubungkan akun yang sudah dimiliki, sehingga tidak perlu membuka browser dan melakukan login satu per satu,” ujar Firman.
Menurut dia, kehadiran Zenni Claw juga menjadi bagian dari upaya ASUS mengenalkan lebih jauh manfaat laptop dengan teknologi AI kepada masyarakat.
Pasalnya, masih banyak pengguna yang mempertanyakan apa sebenarnya kegunaan laptop AI dalam aktivitas sehari-hari.
Saat ini, ASUS Zenni Claw masih berada dalam tahap beta. Pengembangannya sekaligus diarahkan untuk edukasi dan meningkatkan kesadaran pengguna terhadap pemanfaatan AI langsung dari perangkat komputer.
AI Bisa Jalan Tanpa Internet
Technical PR ASUS Business Indonesia, Said Dahda, menjelaskan kemampuan laptop dalam menjalankan AI secara lokal sangat dipengaruhi spesifikasi perangkat.
Beberapa komponen yang berperan antara lain Neural Processing Unit (NPU), RAM, dan GPU.
NPU, misalnya, dapat digunakan untuk pekerjaan AI tertentu yang tidak membutuhkan koneksi internet. Mulai dari membuat transkrip rekaman rapat, merangkum hasil pertemuan, hingga menyederhanakan dokumen yang jumlahnya mencapai ratusan halaman.
Sementara itu, pekerjaan yang membutuhkan kemampuan komputasi lebih besar, seperti agentic AI dan generative AI, membutuhkan dukungan GPU.
Dahda mengatakan laptop dengan RAM 64 GB dan prosesor tertentu yang memiliki kemampuan GPU tinggi berpotensi menjalankan berbagai pekerjaan AI secara offline.
Artinya, penggunaan AI secara lokal tidak selalu membutuhkan laptop berukuran besar dengan kartu grafis kelas atas.
“Orang selama ini tahunya kalau membuat agentic AI harus menggunakan laptop dengan NVIDIA RTX yang sangat kencang. Padahal, tidak selalu harus seperti itu. Laptop ultrathin dengan spesifikasi yang tepat juga bisa menjalankan AI secara lokal,” katanya.
Laptop Mulai Jadi Ruang Kerja AI
Meski pemanfaatan Zenni Claw saat ini belum masif, ASUS menyebut teknologi tersebut mulai dicoba oleh pengguna dari kalangan early adopter dan power user.
Bagi ASUS, pengembangan Zenni Claw bukan semata-mata menambah fitur baru pada laptop.
Lebih jauh, teknologi ini menjadi bagian dari perubahan cara orang menggunakan komputer.
Laptop AI ke depan tidak lagi hanya berfungsi sebagai perangkat untuk mengakses layanan AI melalui internet. Dengan dukungan hardware dan software yang tepat, laptop juga bisa menjadi tempat AI bekerja secara langsung.
Dengan kata lain, laptop tak lagi sekadar membuka pintu menuju AI, tetapi mulai menjadi ruang kerja AI itu sendiri.***
BACA JUGA
