Bahlil: Indonesia Tetap Impor Minyak Sesuai Kontrak Meski Selat Hormuz Dibuka
JAKARTA, inibalikpapan.com – Pemerintah memastikan kontrak impor minyak mentah jangka panjang yang telah disepakati dengan sejumlah negara mitra tetap berjalan meski Selat Hormuz berpotensi kembali beroperasi normal setelah meredanya konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan hal tersebut. Ia bilang stabilitas pasokan energi nasional menjadi pertimbangan utama pemerintah dalam menjaga kebijakan impor minyak mentah.
Menurutnya, Indonesia tidak akan melakukan perubahan mendadak terhadap kontrak yang sudah berjalan. Terlebih hanya karena situasi geopolitik di Timur Tengah mulai membaik.
Pasokan Energi Jadi Prioritas
Bahlil mengatakan pemerintah telah mengambil langkah strategis sejak konflik AS-Iran sempat mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi minyak paling penting di dunia.
Saat itu Indonesia mengalihkan sebagian sumber pasokan minyak mentah ke sejumlah negara alternatif seperti Rusia, Angola, Amerika Serikat, dan Australia guna memastikan kebutuhan energi nasional tetap terpenuhi.
“Kalaupun Selat Hormuz kembali dibuka, kontrak jangka panjang yang sudah berjalan tetap dilanjutkan,” kata Bahlil, melansir Suara, jaringan inibalikpapan.com.
Peluang Impor dari Timur Tengah Tetap Terbuka
Meski demikian, pemerintah tidak menutup kemungkinan kembali meningkatkan impor minyak dari kawasan Timur Tengah apabila kondisi pasar lebih menguntungkan.
Menurut Bahlil, faktor harga tetap menjadi pertimbangan utama dalam menentukan sumber pasokan energi nasional.
Jika harga minyak dari Timur Tengah lebih kompetitif ketimbang pemasok lain, Indonesia berpeluang membuka kembali akses perdagangan yang lebih besar dengan negara-negara di kawasan tersebut.
Perdamaian AS-Iran Bawa Harapan Baru
Sinyal meredanya konflik muncul setelah Amerika Serikat dan Iran mengonfirmasi adanya kesepakatan awal untuk menghentikan ketegangan yang selama ini memengaruhi pasar energi global.
Kesepakatan tersebut juga mencakup rencana normalisasi aktivitas pelayaran di Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur vital perdagangan minyak dunia.
Perdana Menteri Pakistan yang berperan sebagai mediator menyebut penandatanganan nota kesepahaman perdamaian jadwalnya berlangsung di Swiss dalam waktu dekat.
Dampak bagi Indonesia
Normalisasi Selat Hormuz berpotensi memberikan dampak positif terhadap stabilitas harga minyak dunia dan rantai pasok energi global.
Namun bagi Indonesia, pemerintah menegaskan langkah utama tetap menjaga kepastian pasokan energi melalui kontrak jangka panjang yang telah pemerintah susun sebelumnya.
Lewat strategi tersebut, Bahlil optimis Indonesia memiliki posisi yang lebih aman dalam menghadapi fluktuasi harga maupun dinamika geopolitik internasional.***
Penulis: Donny Moslem
Editor: Donny
BACA JUGA
