Rupiah Tembus Rp18.083/Dolar AS Usai Perry Warjiyo Mundur dari BI, Terlemah di Asia
JAKARTA, inibalikpapan.com – Nilai tukar rupiah kembali tertekan dan ditutup di level Rp18.083 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (28/7/2026). Posisi tersebut menjadikan rupiah sebagai mata uang dengan pelemahan terdalam di kawasan Asia pada hari itu.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah 74 poin atau 0,41 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp18.009 per dolar AS. Tren pelemahan tersebut juga tercermin pada Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang turun menjadi Rp18.088 per dolar AS. Atau melemah 0,52 persen dari posisi sebelumnya di Rp17.995 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi sentimen domestik dan global.
Menurutnya, pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia memunculkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas kebijakan moneter di Indonesia.
“Rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS di tengah sentimen negatif oleh pengunduran diri Warjiyo sebagai gubernur BI,” ujar Lukman.
Selain faktor domestik, rupiah juga mendapat tekanan dari penguatan dolar AS. Ini menjelang hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) Amerika Serikat.
Investor, kata Lukman, memperkirakan bank sentral AS akan mempertahankan sikap kebijakan moneter yang ketat atau hawkish. Sehingga mendorong penguatan dolar terhadap berbagai mata uang.
“Rupiah masih tertekan karena tekanan dolar yang menguat oleh ekspektasi sikap hawkish The Fed dalam pertemuan FOMC besok,” katanya.
Tak Hanya Rupiah, tapi Jadi yang Terlemah
Mayoritas mata uang Asia juga ditutup melemah terhadap dolar AS. Setelah rupiah yang terkoreksi 0,41 persen, pelemahan diikuti dolar Taiwan sebesar 0,34 persen, dolar Singapura 0,15 persen, ringgit Malaysia 0,08 persen, dan baht Thailand 0,07 persen.
Di sisi lain, won Korea Selatan menjadi mata uang dengan kinerja terbaik di kawasan setelah menguat 0,31 persen terhadap dolar AS.
Kondisi tersebut menunjukkan tekanan terhadap rupiah tidak hanya dipengaruhi penguatan dolar global. Ijuga meningkatnya ketidakpastian di dalam negeri pascapengunduran diri Gubernur Bank Indonesia.
Pelaku pasar kini menunggu arah kebijakan pimpinan baru Bank Indonesia. Serta hasil rapat FOMC yang dinilai akan menjadi faktor penting bagi pergerakan nilai tukar rupiah dalam jangka pendek.***
BACA JUGA
