Rupiah Terpuruk ke Rp18.111/Dolar AS, Geopolitik dan Sentimen Domestik Masih Membayangi

Rupiah menguat
Petugas salah satu tempat penukaran mata uang asing menunjukkan uang rupiah dan dolar AS, Jakarta. (Suara.com/Alfian Winanto)

JAKARTA, inibalikpapan.com– Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Kamis (30/7/2026). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup melemah 38 poin atau 0,21 persen ke level Rp18.111 per dolar AS, dari penutupan sebelumnya di Rp18.073 per dolar AS.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pelemahan rupiah berasal dari meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap situasi geopolitik di Timur Tengah yang mendorong penguatan dolar AS.

“Rupiah dan mata uang regional ditutup melemah terhadap dolar AS di tengah kekhawatiran eskalasi geopolitik di Timur Tengah,” ujarnya.

Menurut Lukman, tekanan terhadap rupiah juga masih mendapat pengaruh sentimen domestik setelah pengunduran diri mendadak Perry Warjiyo sebagai Gubernur Bank Indonesia.

Ia menilai pergerakan rupiah dalam waktu dekat masih akan sangat bergantung pada perkembangan konflik geopolitik serta data ekonomi Amerika Serikat. Ini terutama inflasi dan pertumbuhan ekonomi kuartal II.

“Rupiah berpotensi masih dalam tekanan apabila geopolitik di Timur Tengah masih memanas. Rupiah juga bergantung pada rilis data ekonomi AS yaitu inflasi dan pertumbuhan ekonomi kuartal kedua,” jelasnya.

Mayoritas Mata Uang Asia Ikut Melemah

Tekanan tidak hanya dialami rupiah. Mayoritas mata uang di kawasan Asia juga bergerak di zona merah terhadap dolar Amerika Serikat.

Baht Thailand menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam setelah terkoreksi sekitar 0,61 persen. Disusul dolar Taiwan yang melemah 0,31 persen, yen Jepang turun 0,20 persen, serta dolar Singapura yang terkoreksi 0,18 persen.

Di sisi lain, won Korea Selatan justru menguat sekitar 0,20 persen, sementara yuan China naik tipis 0,07 persen.

Kondisi tersebut menunjukkan penguatan dolar AS masih menjadi sentimen dominan di pasar keuangan regional. Sementara rupiah juga menghadapi tambahan tekanan dari faktor domestik yang masih menjadi perhatian pelaku pasar.***

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses