Harga LPG Nonsubsidi Melejit! Menteri ESDM: Pemerintah Tak Bisa Intervensi, Harga Ikut Pasar Dunia

Harga LPG nonsubsidi resmi naik dan langsung terasa di dapur masyarakat. Di tengah lonjakan harga BBM, kenaikan gas ini memperbesar tekanan biaya hidup, terutama bagi rumah tangga dan pelaku usaha kecil. (Foto: Pertamina)
Harga LPG nonsubsidi resmi naik dan langsung terasa di dapur masyarakat. Di tengah lonjakan harga BBM, kenaikan gas ini memperbesar tekanan biaya hidup, terutama bagi rumah tangga dan pelaku usaha kecil. (Foto: Pertamina)

JAKARTA, Inibalikpapan.com — Para pelaku usaha hotel, restoran, hingga sektor industri harus bersiap menghadapi kenaikan biaya operasional. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa pemerintah tidak memiliki kewenangan untuk menahan laju kenaikan harga Liquefied Petroleum Gas (LPG) nonsubsidi.

Bahlil menjelaskan bahwa ada perbedaan mendasar antara LPG subsidi (Tabung Melon 3 kg) dengan LPG nonsubsidi. Jika harga gas subsidi dipatok pemerintah untuk melindungi daya beli rakyat, maka harga nonsubsidi sepenuhnya mengikuti mekanisme pasar global.

Restoran dan Hotel Terdampak Mekanisme Pasar

Menurut Bahlil, fluktuasi harga LPG nonsubsidi sangat bergantung pada harga acuan internasional, seperti Saudi Aramco. Hal ini membuat harga di tingkat pengecer dalam negeri bersifat dinamis mengikuti tren dunia.

“Pemerintah hanya menjamin harga yang bersubsidi agar tidak naik. Sementara yang tidak bersubsidi itu dipakai oleh industri, restoran, hotel. Jadi itu memang tidak kita atur harganya, dia menyesuaikan dengan harga pasar,” ujar Bahlil dilnsir dari laman suara,com jaringan inibalikpapan.

Rincian Kenaikan Harga LPG per 18 April 2026

Per tanggal 18 April 2026, PT Pertamina (Persero) telah melakukan penyesuaian harga yang cukup signifikan. Untuk wilayah Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara Barat (NTB), berikut adalah rincian harganya:

  • LPG 12 kg (Bright Gas/Elpiji): Naik menjadi Rp228.000 per tabung (sebelumnya Rp192.000).
  • LPG 5,5 kg (Bright Gas): Naik menjadi Rp107.000 per tabung (sebelumnya Rp90.000).

Untuk wilayah di luar daerah tersebut, harga diprediksi akan lebih tinggi karena adanya tambahan biaya logistik dan distribusi.

Berpeluang Turun Jika Harga Dunia Melandai

Meski saat ini mengalami kenaikan, Bahlil memberikan angin segar bahwa harga LPG nonsubsidi bisa kembali dipangkas jika tensi pasar energi dunia mereda.

“Pasti (berpeluang turun). Jadi kan ada formulasinya. Kalau harga dunia turun, dia pasti turun juga. Kalau harga dunia naik, ya naik,” imbuhnya.

LPG 3 Kg Tetap Stabil

Masyarakat kecil tidak perlu khawatir karena pemerintah berkomitmen tetap menjaga harga LPG subsidi 3 kg atau “Tabung Melon” agar tidak mengalami kenaikan. Fokus pemerintah saat ini adalah memastikan distribusi subsidi tepat sasaran di tengah melonjaknya harga gas dunia.

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses