Hotspot Kahutla Kalimantan Turun, Asap Masih Ganggu Jarak Pandang

Penanganan Kebakaran hutan dan lahan (Kahutla) di Kampung Dayak Nusantara, Desa Sukomulyo, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) (foto : Pendam VI Mulawarman)
Penanganan Kebakaran hutan dan lahan (Kahutla) di Kampung Dayak Nusantara, Desa Sukomulyo, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) (foto : Pendam VI Mulawarman)

JAKARTA, Inibalikpapan.com – Jumlah titik panas atau hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) secara nasional turun tajam pada Senin, 7 September 2026. Namun, penurunan tersebut belum berarti ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mereda.

Data SiPongi Kementerian Kehutanan mencatat 386 hotspot high confidence pada 7 September 2026. Angka itu turun 288 titik dibandingkan sehari sebelumnya yang mencapai 674 titik.

Di tengah penurunan tersebut, Sumatera Selatan justru menjadi provinsi prioritas dengan hotspot high confidence terbanyak, yakni 88 titik. Kondisi ini membuat operasi penanganan karhutla di wilayah tersebut terus diperkuat.

Berdasarkan pemantauan SiPongi yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20 pada Senin, 7 September 2026 pukul 21.20 WIB, sebaran hotspot di enam provinsi prioritas tercatat:

  • Sumatera Selatan: 88 titik;
  • Kalimantan Tengah: 46 titik;
  • Kalimantan Barat: 31 titik;
  • Riau: 10 titik;
  • Kalimantan Selatan: 4 titik;
  • Jambi: 4 titik.

Kalimantan Tengah dan Kalbar Turun Tajam

Penurunan terbesar terjadi di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat.

Hotspot high confidence di Kalimantan Tengah berkurang 197 titik dalam sehari, sedangkan Kalimantan Barat turun 107 titik.

Penurunan juga tercatat di Jambi dan Kalimantan Selatan. Kondisi tersebut ikut mendorong penurunan jumlah hotspot secara nasional.

Meski demikian, pemerintah tidak menjadikan penurunan hotspot sebagai alasan untuk mengendurkan operasi. Sebab, hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit dan tidak otomatis berarti satu titik kebakaran.

Satu kejadian kebakaran bahkan dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot. Karena itu, setiap indikasi tetap harus diverifikasi melalui groundcheck dan pemeriksaan kondisi aktual di lapangan.

Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha, dan para pihak terus melakukan patroli, groundcheck, pemadaman darat, penyekatan penjalaran api, mopping up, pendinginan, hingga pemantauan lokasi yang berpotensi kembali terbakar.

53 Armada Udara Dikerahkan

Penanganan karhutla juga diperkuat melalui operasi udara.

Pemerintah mengerahkan 53 armada udara untuk mendukung penanganan karhutla di enam provinsi prioritas, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat.

Dari jumlah tersebut, sebanyak:

  • 19 armada digunakan untuk patroli udara dan mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC);
  • 34 armada digunakan untuk operasi water bombing.

Pengerahan armada disesuaikan dengan perkembangan kebakaran dan kebutuhan di lapangan.

OMC juga terus diupayakan pada wilayah dan waktu yang memenuhi kondisi meteorologis untuk membantu membasahi lahan dan menekan potensi kebakaran.

Asap Masih Ganggu Jarak Pandang

Persoalan karhutla tidak hanya terlihat dari jumlah hotspot. Kualitas udara dan sebaran asap masih menjadi persoalan di sejumlah wilayah.

Pemantauan PM2,5 menunjukkan kualitas udara di Indonesia masih bervariasi. Sejumlah wilayah di Sumatera dan Kalimantan berada pada kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat, sedangkan mayoritas wilayah lainnya berada pada kategori baik hingga sedang.

Pemantauan meteorologi penerbangan BMKG pada Selasa pagi, 8 September 2026, juga menunjukkan asap masih memengaruhi jarak pandang di beberapa wilayah prioritas.

Kondisinya antara lain:

  • Pontianak: sekitar 1,7 kilometer, berasap;
  • Palangka Raya: sekitar 4 kilometer, berasap;
  • Palembang: sekitar 3,3 kilometer, berasap;
  • Pekanbaru: sekitar 4 kilometer, berasap;
  • Jambi: sekitar 6 kilometer, cerah berawan;
  • Banjarmasin: sekitar 9 kilometer, cerah berawan.

Palembang menjadi perhatian seiring Sumatera Selatan mencatat hotspot high confidence tertinggi di antara enam provinsi prioritas. Pada pukul 08.00 WIB, jarak pandang di Palembang sekitar 3,3 kilometer dengan kondisi berasap.

Sementara di Kalimantan Barat, jarak pandang Pontianak bahkan tercatat sekitar 1,7 kilometer dan berada dalam kondisi berasap.

Kondisi jarak pandang dapat berubah mengikuti konsentrasi asap, aktivitas kebakaran, arah dan kecepatan angin, kelembapan, curah hujan, serta dinamika atmosfer.

Karena itu, pemerintah memantau secara terpadu hotspot, kondisi api, kualitas udara, sebaran asap, cuaca, curah hujan, dan jarak pandang untuk menentukan prioritas pengerahan personel dan operasi.

Warga Diminta Tak Membakar Lahan

Kementerian Kehutanan kembali mengingatkan masyarakat agar tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar.

Masyarakat yang terdampak asap juga diminta mengikuti informasi resmi terkait kualitas udara, cuaca, dan jarak pandang serta menyesuaikan aktivitas apabila kondisi lingkungan memburuk.

Warga yang menemukan asap, titik api, atau indikasi kebakaran diminta segera melapor agar dapat ditindaklanjuti petugas.

Laporan dapat disampaikan melalui Posko Karhutla Kementerian Kehutanan di nomor 021-5704618, WhatsApp +62 8131-00-35000, atau email [email protected].

Sumber : Kemenhut

Editor : Abraham Johan

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses