Hotspot Karhutla Kalimantan Turun, Jarak Pandang di Pontianak Sekitar 2 Km dengan Kondisi Berasap

Penanganan Kebakaran hutan dan lahan (Kahutla) di Kampung Dayak Nusantara, Desa Sukomulyo, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) (foto : Pendam VI Mulawarman)
Penanganan Kebakaran hutan dan lahan (Kahutla) di Kampung Dayak Nusantara, Desa Sukomulyo, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) (foto : Pendam VI Mulawarman)

JAKARTA, Inibalikpapan.com — Perkembangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan menunjukkan penurunan hotspot di sejumlah wilayah, meski pengendalian masih terus diperkuat.

Data SiPongi Kementerian Kehutanan hingga Selasa, 15 September 2026 pukul 21.05 WIB mencatat hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) secara nasional sebanyak 1.037 titik, turun 400 titik.

Di kawasan Kalimantan, penurunan paling besar terjadi di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat.

Hotspot high confidence di Kalimantan Tengah turun dari 689 menjadi 266 titik. Sementara di Kalimantan Barat anjlok dari 203 menjadi 43 titik.

Penurunan juga terjadi di Kalimantan Selatan, dari 112 menjadi 72 titik.

Meski jumlah hotspot menurun, pemerintah masih menempatkan Kalimantan sebagai wilayah yang membutuhkan pengawasan ketat. Terlebih, kondisi asap di sejumlah daerah masih berdampak terhadap jarak pandang dan kualitas udara.

Asap Pontianak Masih Batasi Jarak Pandang

Salah satu perhatian berada di Kalimantan Barat. Informasi cuaca penerbangan BMKG pada malam 15 September mencatat jarak pandang di Pontianak sekitar 2 kilometer dengan kondisi berasap.

Kondisi tersebut masih dinamis dan dapat berubah mengikuti konsentrasi asap, arah serta kecepatan angin, kelembapan dan hujan.

Sementara itu, jarak pandang di Palangka Raya sekitar 8 kilometer dengan kondisi berawan. Di Banjarmasin, jarak pandang sekitar 9 kilometer dalam kondisi cerah berawan.

BMKG juga memprakirakan Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah masih berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat pada 16 September 2026.

Potensi hujan tersebut menjadi salah satu faktor yang terus dipantau dalam operasi pengendalian karhutla, meski perubahan cuaca lokal dan cepat tetap perlu diantisipasi.

Tiga Chinook Jepang Perkuat Operasi di Kalbar

Di tengah upaya menekan karhutla, dukungan operasi udara di Kalimantan Barat diperkuat melalui kerja sama Indonesia-Jepang.

Pada 15 September 2026, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin meninjau kapal JMSDF JS Kunisaki beserta tiga helikopter CH-47 Chinook di Mempawah, Kalimantan Barat.

Ketiga helikopter tersebut disiapkan untuk mendukung percepatan pemadaman karhutla di wilayah Kalimantan Barat.

Kehadiran Chinook menjadi tambahan terhadap kemampuan udara yang telah dikerahkan pemerintah Indonesia. Pengoperasiannya diintegrasikan dengan keseluruhan operasi nasional, termasuk koordinasi misi penerbangan dan aspek keselamatan.

53 Armada Udara Disiagakan

Secara keseluruhan, pemerintah masih menyiagakan 53 armada udara untuk pengendalian karhutla di enam provinsi prioritas.

Sebanyak 34 armada digunakan untuk operasi water bombing, sedangkan 19 armada lainnya untuk patroli udara dan mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Pengerahan armada disesuaikan dengan perkembangan hotspot, hasil verifikasi lapangan, kondisi kebakaran dan faktor meteorologis.

Manggala Agni bersama TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha dan para pihak juga terus melakukan patroli, groundcheck, pemadaman, penyekatan penjalaran api, mopping up, pembasahan dan pendinginan.

Hotspot Kalimantan Turun, Bukan Berarti Api Selesai

Kementerian Kehutanan menegaskan hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit, bukan otomatis menunjukkan satu kejadian kebakaran.

Satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot. Karena itu, indikasi dari satelit tetap harus diverifikasi melalui pengecekan langsung dan pemantauan kondisi aktual di lapangan.

Penurunan hotspot di Kalimantan juga perlu dibaca bersama indikator lainnya, termasuk PM2,5, sebaran asap, curah hujan, arah angin, kondisi kebakaran dan jarak pandang.

Pemantauan PM2,5 menunjukkan kualitas udara di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan masih berada pada kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat. Pada area terbatas bahkan masih terpantau kategori berbahaya.

Sumsel dan Jambi Justru Naik

Sementara Kalimantan mencatat penurunan di sejumlah wilayah, tren berbeda terlihat di Sumatera.

Hotspot high confidence di Sumatera Selatan meningkat dari 116 menjadi 245 titik. Jambi juga naik dari 9 menjadi 62 titik.

Kondisi tersebut membuat pola karhutla nasional masih dinamis. Penentuan prioritas patroli, groundcheck dan pemadaman dilakukan berdasarkan perkembangan aktual di lapangan, bukan hanya jumlah hotspot.

Pemerintah juga mengingatkan masyarakat dan pelaku usaha untuk tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar.

Jika menemukan asap, titik api atau aktivitas pembakaran, masyarakat diminta segera melaporkannya agar dapat ditangani sedini mungkin.

Editor : Abraham Johan

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses