Sungai Mahakam Surut, Sembako Langka di Mahakam Ulu, Gubernur Kaltim: Jalan ke Perbatasan Harus Mulus
MAHAKAM ULU, Inibalikpapan.com — Kemarau panjang dan surutnya Sungai Mahakam kembali memperlihatkan rapuhnya konektivitas menuju kawasan perbatasan Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu). Saat jalur sungai yang selama ini menjadi andalan distribusi mulai sulit dilalui, pasokan sembako ke sejumlah kecamatan ikut terganggu hingga sempat memicu kelangkaan.
Kondisi tersebut membuat pembangunan jalan darat menuju Mahulu dan kawasan perbatasan semakin mendesak. Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud menegaskan akan terus memperjuangkan pembangunan jalan yang mulus dan nyaman hingga wilayah perbatasan.
Menurut Rudy, pembiayaan pembangunan tidak harus hanya mengandalkan satu sumber anggaran. Pemerintah pusat, pemerintah daerah hingga perusahaan dapat dilibatkan melalui tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL).
“Karena itu, konektivitas ke Mahulu dan kawasan perbatasan, termasuk ke Kalimantan Barat, Kalimantan Utara harus terus kita perjuangkan. Jalan mulus juga harus kita bangun hingga kawasan perbatasan,” tegas Rudy, dikutip dari laman Pemprov.
Sungai Surut, Sembako Sempat Langka
Fenomena El Nino dan minimnya hujan sejak pertengahan Juni membuat kondisi Sungai Mahakam di wilayah hulu semakin surut.
Situasi ini berdampak langsung terhadap distribusi kebutuhan pokok. Pengiriman sembako yang selama ini banyak mengandalkan kapal terganggu karena kondisi sungai tidak lagi memungkinkan dilalui dengan mudah.
Sejumlah wilayah seperti Kecamatan Long Pahangai dan Long Apari bahkan sempat mengalami kelangkaan sembako.
Pemprov Kaltim kemudian bekerja sama dengan Bulog, distributor sembako dan Pemkab Mahulu untuk mengirim beras serta kebutuhan pokok melalui jalur darat.
Namun, distribusi melalui jalur darat bukan tanpa tantangan. Medan yang berat membuat proses pengiriman membutuhkan perjuangan ekstra. Pengiriman pun terus dilakukan agar kebutuhan sehari-hari masyarakat di wilayah perbatasan tetap terpenuhi.
Kemarau Jadi Alarm Pentingnya Jalan Darat
Rudy menilai kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa pembangunan infrastruktur di wilayah perbatasan harus dilakukan secara inklusif dan tidak boleh berhenti pada wilayah perkotaan.
“Kemarau ini mengingatkan kita kembali, mengapa sejak awal kami sangat fokus untuk mewujudkan pembangunan yang inklusif. Harus adil dan merata. Pembangunan dan dampaknya harus dinikmati oleh seluruh rakyat Kaltim, termasuk saudara-saudara kita di perbatasan Mahulu,” tegasnya.
Jalan yang baik, menurut Rudy, bukan hanya akan mempermudah mobilitas warga. Infrastruktur tersebut juga menjadi jalur penting untuk distribusi sembako, gas dan berbagai kebutuhan pokok lainnya.
Dengan konektivitas yang lebih baik, ketergantungan terhadap jalur sungai ketika terjadi kemarau ekstrem diharapkan dapat dikurangi.
Jalan Perbatasan Jadi Etalase Indonesia
Rudy menilai pembangunan jalan menuju perbatasan memiliki arti lebih luas daripada sekadar membuka akses antarwilayah.
Kondisi jalan di kawasan perbatasan juga menjadi salah satu gambaran kehadiran negara bagi masyarakat yang tinggal jauh dari pusat pemerintahan.
“ Kawasan perbatasan harus jadi etalase Indonesia,” kata Rudy.
Untuk merealisasikan pembangunan tersebut, Pemprov Kaltim telah menyampaikan kebutuhan pembangunan jalan di Kalimantan Timur kepada Menteri Pekerjaan Umum dan DPR RI.
Perjuangan tersebut akan kembali dilanjutkan, terlebih kemarau panjang yang masih berlangsung telah menunjukkan secara nyata bagaimana keterbatasan konektivitas dapat berdampak langsung terhadap ketersediaan kebutuhan pokok masyarakat di wilayah perbatasan.
Editor : Abraham Johan
BACA JUGA
