Keluh Sopir Truk yang Demo di Balikpapan: Antre Solar Sampai Tiga Hari, Berencana Aksi Lanjutan
BALIKPAPAN, inibalikpapan.com— Kelangkaan solar subsidi di Balikpapan memukul sopir truk. Mereka mengaku harus antre hingga tiga hari tiga malam, namun tak jarang tetap pulang tanpa mendapatkan bahan bakar.
Kondisi ini dikeluhkan para sopir angkutan barang yang bergantung penuh pada solar untuk bekerja setiap hari.
Perwakilan sopir, Yudi Dart, menyebut situasi ini sudah berlangsung lama dan semakin memberatkan. “Kami mengantre sampai tiga hari tiga malam, keluar biaya makan, tapi saat tiba di SPBU justru tidak dapat solar,” ujarnya dalam aksi di depan DPRD Balikpapan, Senin (4/6).
Tak hanya soal kuota, sopir juga menyoroti sistem distribusi yang dinilai bermasalah. Ada kasus barcode yang sudah terpakai saat mereka tiba, sehingga jatah solar hilang.
“Sudah capek antre, tapi barcode kami ternyata sudah digunakan. Kami jadi tidak dapat apa-apa,” katanya.
Masalah makin rumit karena jumlah SPBU yang melayani solar subsidi di Balikpapan terus berkurang.
Beberapa titik seperti Kebun Sayur, Kilometer 9, Teritip, Manggar, hingga Gunung Malang disebut sudah tidak lagi menyediakan solar. Kini hanya tersisa dua SPBU aktif dengan jam operasional terbatas.
Akibatnya, antrean panjang menumpuk di satu titik, terutama di kawasan Kilometer 13 hingga 14. Dampaknya bukan hanya ke sopir, tapi juga memicu kemacetan dan mengganggu distribusi logistik kota.
Para sopir meminta solusi cepat dari pemerintah dan pihak terkait. Mereka mendesak penambahan kuota solar subsidi, pembukaan kembali SPBU yang sebelumnya berhenti melayani, serta operasional SPBU hingga malam hari bahkan 24 jam.
“Kalau SPBU bisa buka 24 jam, antrean pasti berkurang. Minimal sampai malam saja sudah sangat membantu,” kata Yudi.
Selain itu, mereka juga mengeluhkan minimnya fasilitas di lokasi antrean. Jarak yang jauh dari akses makanan dan air membuat kondisi semakin berat selama menunggu berhari-hari.
Jika tidak ada solusi, sopir mengaku siap melakukan aksi lanjutan, termasuk turun ke jalan dan memarkir kendaraan sebagai bentuk protes.
Situasi ini menjadi peringatan serius bagi Balikpapan. Jika krisis solar terus terjadi, bukan hanya sopir yang terdampak—distribusi barang dan stabilitas ekonomi kota juga ikut terancam.
BACA JUGA
