Revitalisasi Sekolah dan Digitalisasi Jadi Sorotan Roadshow Hardiknas di Balikpapan

Revitalisasi Sekolah dan Digitalisasi Jadi Sorotan Roadshow Hardiknas di Balikpapan
Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian.

BALIKPAPAN, inibalikpapan.com — Momen Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) jadi ajang evaluasi sekaligus dorongan percepatan transformasi pendidikan. Isu revitalisasi sekolah dan digitalisasi pembelajaran pun mencuat dalam roadshow pendidikan yang digelar di Balikpapan, Samarinda, hingga Penajam Paser Utara (PPU).

Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, menyebut Balikpapan termasuk daerah yang cukup ngebut dalam mengadopsi kebijakan pendidikan berbasis teknologi. Menurutnya, banyak program dari pusat yang bisa langsung diterapkan dengan baik di level daerah.

Di sejumlah sekolah, penggunaan papan interaktif digital hingga Chromebook dengan skema satu siswa satu perangkat mulai jadi pemandangan biasa. Bahkan, ada sekolah yang sudah memasang smart board di tiap kelas.

Tak heran kalau Balikpapan kini dilirik sebagai salah satu rujukan pengembangan pembelajaran digital, termasuk oleh mitra global seperti Google.

Meski begitu, kesiapan infrastruktur ternyata belum sepenuhnya diimbangi dengan kemampuan sumber daya manusia. Tantangan terbesarnya justru ada di guru dalam memanfaatkan teknologi tersebut secara maksimal.

“Sekarang bukan lagi soal perangkat, tapi bagaimana penggunaannya. Guru harus bisa beradaptasi dengan metode belajar yang lebih interaktif, kolaboratif, dan mendorong siswa berpikir kritis,” ujarnya dalam rangkaian roadshow di Swissbell Hotel Balikpapan, Senin (4/5/2026).

Ia juga menyoroti masih adanya penggunaan teknologi yang terkesan “setengah jalan”, misalnya hanya dipakai untuk menampilkan slide tanpa interaksi yang berarti. Padahal, siswa saat ini merupakan generasi digital native yang lebih cocok dengan pendekatan visual dan partisipatif.

Adaptasi Guru Jadi PR Utama

Perbedaan kemampuan juga terlihat antara guru muda dan senior. Guru muda dinilai lebih cepat beradaptasi, sementara sebagian guru senior masih menghadapi tantangan dalam literasi digital. Bahkan, di beberapa sekolah, urusan teknologi kerap diserahkan sepenuhnya ke guru yang lebih muda.

“Ini tidak bisa dibiarkan. Semua guru harus ikut bertransformasi. Tidak ada lagi pilihan untuk bertahan dengan cara lama,” tegasnya.

Sebagai jalan keluar, pelatihan berkelanjutan dan pendampingan antar guru dinilai penting. Guru yang sudah lebih dulu menguasai teknologi diharapkan bisa membantu rekan-rekannya.

Ke depan, pemerintah juga berencana menambah perangkat digital di sekolah, tentu dengan menyesuaikan kondisi anggaran. Sementara itu, untuk jenjang pendidikan usia dini, penggunaan teknologi tetap harus bijak agar tidak menggantikan interaksi langsung yang penting bagi perkembangan anak.

Pada akhirnya, transformasi pendidikan bukan cuma soal alat canggih, tapi juga soal perubahan cara berpikir dan mengajar. Tanpa itu, teknologi hanya jadi pelengkap—bukan pendorong utama kemajuan belajar.***

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses