Koperasi Desa Merah Putih Siap Serap Hasil Petani
JAKARTA, Inibalikpapan.com – Pemerintah memastikan Koperasi Desa/Kelurahan (KD/KMP) Merah Putih tidak akan menjadi pesaing Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
Sebaliknya, koperasi akan berfungsi sebagai offtaker yang menyerap sekaligus memasarkan hasil produksi masyarakat desa untuk memperkuat ekonomi lokal.
Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto menegaskan, Kementerian Desa telah menggandeng 10 asosiasi desa sebagai mitra strategis untuk mengawal implementasi program prioritas Presiden Prabowo Subianto tersebut di seluruh Indonesia.
“Jadi 10 asosiasi desa ini menjadi mitra strategis Kementerian Desa untuk memastikan program Bapak Presiden melalui Asta Cita yang ke-6 itu benar-benar terlaksana, termasuk Koperasi Desa Merah Putih dan kami memang dari Asta Cita keenam itu ada 12 aksi bangun desa, di antaranya desa tematik,” kata Yandri dikutip dari laman Presiden.
Kopdes Merah Putih Jadi Penjamin Pasar Produk Desa
Yandri menjelaskan, keberadaan Koperasi Desa Merah Putih dirancang untuk memastikan hasil pertanian, perikanan, perkebunan, maupun produk unggulan desa memiliki pasar yang jelas.
Dengan jumlah 75.266 desa di Indonesia yang memiliki potensi ekonomi berbeda-beda, koperasi akan bekerja sama dengan BUMDes untuk menyerap dan memasarkan produk masyarakat.
“Para petani sesuai dengan potensi desa masing-masing, karena jumlah desa banyak sekali 75.266, dengan berbagai potensi yang ada, tentu nanti masing-masing Kopdes bekerja sama dengan BUMDes memastikan semua produk desa itu sesuai dengan potensinya, akan dipastikan bisa mendapatkan manfaat bagi para penduduk desa,” ujarnya.
Menurut Yandri, skema tersebut membuat koperasi dan BUMDes saling melengkapi, bukan saling berebut peran dalam menggerakkan ekonomi desa.
20 Persen Keuntungan Kopdes Jadi Pendapatan Asli Desa
Pemerintah juga menyiapkan skema pembagian keuntungan yang memberikan manfaat langsung bagi desa.
Yandri mengungkapkan, 20 persen laba Koperasi Desa Merah Putih akan menjadi Pendapatan Asli Desa (PADes), sedangkan 80 persen sisanya dikembalikan kepada masyarakat desa.
“Kalau sudah jalan, kami pasti akan maksimalkan fungsinya melalui potensi desa masing-masing. Apalagi yang dipakai dana desa, dan nanti dari keuntungan itu ada 20 persen menjadi pendapatan asli desa. Sisanya yang 80 persen akan kembali ke rakyat di desa itu,” jelasnya.
Skema tersebut diharapkan mendorong pemerintah desa ikut memastikan koperasi berjalan sehat karena keberhasilannya akan berdampak langsung pada peningkatan pendapatan desa.
Hampir 1.000 BUMDes Sudah Pasok Program MBG
Selain mengembangkan koperasi, Kementerian Desa juga mempercepat pembentukan desa tematik yang disesuaikan dengan potensi unggulan masing-masing wilayah.
Menurut Yandri, program yang telah berjalan sekitar satu tahun itu mulai menunjukkan hasil nyata. Bahkan, hampir 1.000 BUMDes kini menjadi pemasok utama Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Banyak desa tematik ini menjadi penyuplai MBG. Banyak. Jadi hampir seribu bahkan BUMDes itu menjadi penyuplai utama MBG,” ungkapnya.
Ke depan, desa tematik akan terus dikembangkan berdasarkan potensi lokal, mulai dari desa jagung, desa padi, desa ikan nila, desa lele, desa kakao, hingga komoditas unggulan lainnya.
Dalam skema tersebut, Koperasi Desa Merah Putih tetap akan berperan sebagai offtaker yang bekerja sama dengan BUMDes agar seluruh hasil produksi masyarakat memiliki akses pasar yang lebih luas sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga desa.
Editor : Abraham Johan
BACA JUGA
