Lahan Terbakar di Kaltim Tembus 1.000 Hektare, Berau Jadi Daerah Terparah
BALIKPAPAN, Inibalikpapan.com — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Timur semakin mengkhawatirkan. Data terbaru menunjukkan lebih dari 1.000 hektare lahan terbakar tersebar di 10 kabupaten dan kota di Kaltim sepanjang periode penanganan karhutla hingga 24 Agustus 2026.
Kabupaten Berau menjadi wilayah dengan luasan lahan terbakar paling besar, yakni lebih dari 400 hektare. Disusul Kutai Kartanegara dengan 219 hektare dan Kutai Barat 147 hektare.
Data tersebut diungkapkan Kepala BPBD Kaltim Buyung Dodi Gunawan dalam rapat terbatas antisipasi kemarau panjang dan penanganan karhutla yang dipimpin Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud di Harum Resort Balikpapan, Senin (24/8/2026).
Jika angka minimum 400 hektare untuk Berau digunakan, total luasan dari data yang disebutkan mencapai sedikitnya 1.043,4 hektare. Angka riil berpotensi lebih besar karena luasan kebakaran di Berau disebut mencapai lebih dari 400 hektare.
Berau Paling Parah, Balikpapan Terendah
Buyung menyebut Berau menjadi daerah dengan luasan lahan terbakar terbesar di Kaltim, mencapai lebih dari 400 hektare.
Berikut rincian luasan lahan terbakar yang dilaporkan BPBD Kaltim:
- Berau: lebih dari 400 hektare
- Kutai Kartanegara: 219 hektare
- Kutai Barat: 147 hektare
- Paser: sekitar 89,3 hektare
- Kutai Timur: sekitar 89,3 hektare
- Penajam Paser Utara: 48,1 hektare
- Samarinda: 40,5 hektare
- Mahakam Ulu: 7 hektare
- Bontang: 3 hektare
- Balikpapan: 0,5 hektare
Besarnya luasan kebakaran tersebut membuat Kaltim masuk peringkat kesembilan nasional sebagai daerah rawan karhutla.
“Tiga provinsi terbesar karhutla di wilayah Kalimantan, yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan yang hampir setara dengan tiga provinsi di Sumatera, yakni Riau, Sumatera Selatan dan Jambi. Sedangkan kita di posisi kesembilan nasional,” kata Buyung, dikutip inibalikpapan.
Kaltim Tetapkan Status Siaga Bencana
Meningkatnya titik panas dan meluasnya lahan terbakar membuat Pemprov Kaltim menetapkan status Siaga Bencana.
BPBD Kaltim bersama BPBD kabupaten dan kota, TNI, Polri, pemerintah daerah, perusahaan swasta serta masyarakat terus dikerahkan untuk mencegah kebakaran meluas.
Gubernur Rudy Mas’ud mengingatkan penanganan karhutla tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Masyarakat juga memiliki peran penting, terutama dengan tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah secara sembarangan.
“Bencana ini masalah bersama dan dampaknya dirasakan semua orang. Maka harus kita hadapi bersama-sama bagaimana mengatasi dan mengantisipasinya, terlebih peran aktif masyarakat,” ujar Rudy.
Asap dan Krisis Air Mulai Mengancam
Menurut Rudy, dampak karhutla mulai dirasakan masyarakat melalui asap yang berpotensi mengganggu kesehatan.
“Mungkin kebakaran saat ini belum merambah pemukiman. Tapi efek asapnya sudah mulai dirasakan. Dan ini bisa membahayakan kesehatan kita, seperti gangguan ISPA,” katanya.
Di sisi lain, cuaca panas ekstrem juga mulai menekan ketersediaan air bersih. Sejumlah sumber air dilaporkan mulai mengering.
“Ketersediaan air yang terus menipis, selain terbatas stok air bersih untuk konsumsi dan lainnya. Juga, kekurangan air bisa memicu munculnya penyakit kulit. Tolong ingatkan warga kita semua,” ungkap Rudy.
186 Kelompok Tani Peduli Api Dikerahkan
Untuk memperkuat pencegahan di lapangan, Dinas Perkebunan Kaltim telah berkoordinasi dengan Brigade Pengendalian Kebakaran Lahan dan Kebun (Dalkarlabun) serta Kelompok Tani Peduli Api (KTPA).
Sebanyak 186 kelompok KTPA tersebar di 10 kabupaten dan kota di Kaltim dan dilibatkan dalam upaya pencegahan karhutla.
Pemprov Kaltim kini menghadapi dua ancaman sekaligus: meluasnya karhutla dan semakin menipisnya sumber air akibat kemarau. Dengan luasan lahan terbakar yang telah menembus lebih dari 1.000 hektare, pemerintah daerah dituntut mempercepat pencegahan dan penanganan sebelum kebakaran meluas dan dampaknya semakin berat bagi masyarakat.
Editor : Abraham Johan
BACA JUGA
