Pemprov Kaltim Tanam 75 Fragmen Karang di Pulau Miang, Pemulihan Ekosistem Butuh Bertahun-tahun

Sebanyak 75 fragmen terumbu karang ditanam menggunakan lima modul MARRS Spider atau Reefstar dalam kegiatan transplantasi di Pulau Miang yang digelar Minggu (16/8/2026). (foto : Pemprov)
Sebanyak 75 fragmen terumbu karang ditanam menggunakan lima modul MARRS Spider atau Reefstar dalam kegiatan transplantasi di Pulau Miang yang digelar Minggu (16/8/2026). (foto : Pemprov)

KUTAI TIMUR, Inibalikpapan.com – Pemerintah Provinsi (Pemprov) melalui Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Timur (Dispar Kaltim) bersama sejumlah pihak mulai memperkuat upaya rehabilitasi ekosistem laut di Pulau Miang, Kabupaten Kutai Timur.

Sebanyak 75 fragmen terumbu karang ditanam menggunakan lima modul MARRS Spider atau Reefstar dalam kegiatan transplantasi yang digelar Minggu (16/8/2026).

Kegiatan tersebut melibatkan Yekhalis Scuba School, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pulau Miang, akademisi, dan insan media. Dilaksanakan secara swadaya, kegiatan tidak hanya menyasar pemulihan terumbu karang, tetapi juga menjadi sarana edukasi lingkungan sekaligus investasi jangka panjang bagi keberlanjutan wisata bahari Pulau Miang.

Kepala Dispar Kaltim Muhammad Faisal mengatakan rehabilitasi terumbu karang membutuhkan keterlibatan banyak pihak karena ekosistem laut merupakan aset penting bagi pariwisata.

“Kegiatan transplantasi karang ini merupakan hasil kolaborasi Dispar Kaltim, Yekhalis Scuba School, Pokdarwis, dan media. Selain sebagai upaya pelestarian, ini juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat dan pengelola wisata agar semakin peduli terhadap keberlanjutan ekosistem laut,” ujar Faisal, dikutip dari laman Pemprov

75 Fragmen Karang Ditanam di Lima Modul

Sebelum diturunkan ke dasar laut, fragmen-fragmen karang terlebih dahulu dipasang bersama di dermaga.

Proses tersebut menjadi bagian dari edukasi agar masyarakat dan pengelola wisata memahami tahapan rehabilitasi terumbu karang.

Sebanyak lima modul MARRS Spider atau Reefstar kemudian ditempatkan di kawasan rehabilitasi. Meski jumlahnya relatif kecil, Faisal menilai kegiatan tersebut memiliki nilai penting dalam membangun kesadaran kolektif.

“Lima modul dan 75 fragmen karang ini memang simbolis, tetapi yang lebih penting adalah pesan edukasi dan kepedulian yang ingin kita tanamkan kepada masyarakat,” katanya.

Penempatan modul dilakukan secara simbolis oleh perwakilan berbagai unsur yang terlibat. Muhammad Faisal mewakili Dispar Kaltim, Auliansyah dari Yekhalis Scuba School, Aldi dari Pokdarwis Pulau Miang, Muchlis dari Universitas Mulawarman, serta Suriyatman dari unsur media.

Pulihkan Terumbu Karang Bisa Lebih dari 10 Tahun

Perwakilan Yekhalis Scuba School, Auliansyah, menjelaskan transplantasi menggunakan metode MARRS (Mars Accelerated Coral Reef Restoration System).

Fragmen yang digunakan terdiri dari jenis Acropora dan Pocillopora, kemudian ditempatkan pada modul Reefstar sebelum dipasang di kawasan rehabilitasi.

Namun, hasil transplantasi tidak bisa langsung terlihat dalam waktu singkat. Pemulihan ekosistem membutuhkan proses panjang dan konsisten.

Menurut Auliansyah, karang hasil transplantasi membutuhkan sekitar tiga hingga lima tahun untuk berkembang menjadi terumbu mini yang dapat berfungsi sebagai habitat biota laut.

Sementara untuk membentuk ekosistem alami yang matang, prosesnya bisa membutuhkan lebih dari satu dekade.

“Pertumbuhan terumbu karang sangat lambat. Karena itu kami berharap wisatawan dan masyarakat turut menjaga kawasan ini agar upaya rehabilitasi yang dilakukan dapat memberikan hasil yang optimal,” ujarnya.

Pasang Prasasti untuk Pantau Perkembangan Karang

Selain menanam fragmen karang, Dispar Kaltim juga memasang prasasti sebagai penanda kawasan rehabilitasi.

Prasasti tersebut diharapkan memudahkan proses pemantauan dan evaluasi perkembangan karang hasil transplantasi pada masa mendatang.

“Prasasti ini menjadi penanda sekaligus memudahkan kami melakukan kontrol dan evaluasi terhadap hasil transplantasi yang telah dilakukan,” jelas Faisal.

Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi menjaga Pulau Miang tidak hanya sebagai kawasan dengan panorama bawah laut yang menarik, tetapi juga sebagai destinasi wisata bahari yang memiliki ekosistem sehat.

Dispar Kaltim berharap kegiatan transplantasi ini dapat menumbuhkan kesadaran wisatawan, masyarakat, dan pengelola destinasi untuk bersama-sama menjaga terumbu karang.

Sebab, mempercantik wisata bahari tidak cukup dengan promosi. Tanpa terumbu karang yang sehat, daya tarik bawah laut Pulau Miang juga terancam hilang.

Editor : Pemprov

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses