Lebih dari 5.000 MPA Jadi Garda Terdepan Cegah Karhutla di Kaltim

Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan belum mereda
Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan belum mereda (foto : Kemenhut)

SAMARINDA, Inibalikpapan.com – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Timur tak mungkin hanya mengandalkan pemerintah dan petugas. Dengan luas kawasan hutan mencapai lebih dari 8 juta hektare, keterlibatan masyarakat hingga tingkat tapak menjadi kunci untuk mendeteksi dan memadamkan api sebelum meluas.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kehutanan Kaltim, Rusmadi, menyebut lebih dari 5.000 anggota Masyarakat Peduli Api (MPA) kini tersebar di 10 kabupaten dan kota di Kaltim.

Ribuan anggota MPA tersebut menjadi salah satu kekuatan masyarakat yang berada paling dekat dengan kawasan rawan kebakaran. Mereka diharapkan mampu membantu mendeteksi titik api sekaligus melakukan respons awal ketika terjadi kebakaran.

“Dengan luas kawasan hutan yang sangat besar, penanganan karhutla membutuhkan kerja bersama,” ujar Rusmadi, dikutip dari laman Pemprov.

Titik Api Muncul di Tahura Bukit Soeharto

Pentingnya respons cepat kembali terlihat ketika titik api muncul di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Soeharto, Kutai Kartanegara, Selasa (1/9/2026) malam.

Dinas Kehutanan Kaltim bersama UPTD Tahura Bukit Soeharto dan tim Otorita IKN langsung turun melakukan pengendalian api di kawasan Kilometer 50.

Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa ancaman karhutla masih harus diwaspadai, terutama ketika kondisi cuaca dan lingkungan meningkatkan potensi kebakaran.

Untuk mempercepat penanganan, Dinas Kehutanan Kaltim juga menempatkan personel, armada serta sarana dan prasarana pada sejumlah titik strategis.

Salah satunya Pos Kilometer 45 Tahura Bukit Soeharto yang disiapkan untuk mempercepat pergerakan petugas ketika menerima laporan mengenai titik api.

Tak Bisa Hanya Mengandalkan Petugas

Rusmadi menegaskan, pengendalian karhutla membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Pemerintah daerah, aparat keamanan, BPBD, masyarakat hingga unsur terkait lainnya harus bergerak dalam satu sistem.

“Sinergi lintas sektor menjadi kekuatan utama kita. Dengan keterbatasan personel, tidak mungkin penanganan karhutla dilakukan sendiri,” katanya.

Menurut dia, keberadaan masyarakat di sekitar kawasan hutan sangat penting karena mereka memiliki akses dan pengetahuan terhadap kondisi wilayah masing-masing.

Karena itu, kesadaran masyarakat untuk mencegah aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran juga harus terus diperkuat.

Menjaga hutan, kata Rusmadi, bukan semata-mata tugas petugas kehutanan. Perlindungan kawasan hutan Kaltim membutuhkan partisipasi masyarakat sejak tahap pencegahan, deteksi dini hingga penanganan ketika api mulai muncul.

Dengan dukungan lebih dari 5.000 anggota MPA, kesiapsiagaan petugas dan koordinasi lintas sektor, pemerintah berharap potensi karhutla dapat ditekan sebelum berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.

Editor : Abraham Johan

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses