Mendikdasmen Abdul Mu’ti Ungkap 620 Anak Terpapar Radikalisme, Banyak yang Terlihat Santun

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi, dan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti pada Kamis (11/06/2026), di Istana Merdeka, Jakarta. (foto : Setpres)
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi, dan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti pada Kamis (11/06/2026), di Istana Merdeka, Jakarta. (foto : Setpres)

JAKARTA, Inibalikpapan.com – Anak yang terlihat santun dan berperilaku baik di lingkungan sehari-hari belum tentu terbebas dari paparan paham kekerasan di ruang digital.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyoroti fenomena tersebut di tengah meningkatnya paparan radikalisme terhadap anak dan remaja melalui media sosial hingga game online.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), sebanyak 620 anak tercatat terpapar paham radikalisme sepanjang Januari-Agustus 2026. Angka ini melonjak dibandingkan 2025 yang mencatat 112 anak dari 26 provinsi.

“Angka yang menggambarkan betapa kekerasan memang masih menjadi persoalan yang begitu dekat dengan lingkungan sosial kita,” kata Mu’ti dalam konferensi pers bersama BNPT di Jakarta, Rabu (2/9/2026), dilansir dari suara.com jaringan inibalikpapan.

Anak Terlihat Santun, Tapi Bisa Terpapar di Dunia Digital

Mu’ti mengatakan salah satu persoalan yang perlu diwaspadai adalah paparan tersebut tidak selalu terlihat dari perubahan perilaku anak secara langsung.

Di lingkungan keluarga maupun sekolah, seorang anak bisa saja tetap terlihat santun, baik, dan tidak menunjukkan tanda-tanda yang mencurigakan. Namun, pada saat yang sama, mereka dapat mengonsumsi konten yang mengandung paham kekerasan di ruang digital.

“Banyak anak yang terlihat begitu santun, terlihat sebagai good boy atau nice girl, tanpa kita sadari mereka sebenarnya terpapar oleh berbagai paham kekerasan yang sebagiannya berakar dari ekstremisme dan paham-paham yang lainnya,” ujarnya.

Menurut Mu’ti, paparan konten digital dapat memengaruhi cara berpikir dan perilaku anak. Dalam kondisi tertentu, paparan tersebut bahkan dapat mendorong anak dan remaja menjadi aktor kekerasan.

Karena itu, pengawasan terhadap anak tidak cukup hanya dilakukan dengan melihat perilaku mereka di rumah atau sekolah.

Media Sosial dan Game Online Jadi Perhatian

Mu’ti menyebut media yang dikonsumsi anak menjadi salah satu faktor yang harus mendapat perhatian serius.

Anak-anak dan remaja saat ini memiliki akses luas terhadap berbagai konten melalui media sosial dan game online. Tanpa pendampingan yang memadai, mereka dapat menemukan konten yang mengandung kekerasan maupun ideologi ekstrem.

“Banyak mereka, anak-anak muda kita ini yang terpengaruh, terpapar, bahkan kemudian menjadi aktor kekerasan itu karena mereka mengikuti apa yang mereka saksikan di media dan mereka kurang mendapatkan bimbingan dan juga kurang mendapatkan pengarahan dari kita semuanya,” ujar Mu’ti.

Kondisi tersebut, menurut dia, menunjukkan pentingnya keterlibatan keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial dalam memberikan pendampingan kepada anak.

Pemerintah Dorong Ruang Aman bagi Anak

Mu’ti mengatakan pemerintah berkomitmen menciptakan lingkungan yang aman bagi anak, baik di sekolah maupun dalam kehidupan sosial dan ruang digital.

Perlindungan tersebut perlu dilakukan secara menyeluruh. Sekolah harus menjadi ruang yang aman bagi anak, sementara keluarga dan lingkungan sosial berperan memberikan bimbingan serta pengarahan.

Di sisi lain, ruang digital juga perlu mendapat perhatian karena menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan anak dan remaja.

Upaya tersebut dinilai penting agar anak tidak mudah terpengaruh konten maupun paham kekerasan yang dapat membentuk pola pikir dan perilaku mereka.

Lonjakan jumlah anak yang terpapar radikalisme menjadi peringatan bahwa perlindungan anak tidak lagi cukup hanya dengan memastikan mereka aman secara fisik.

Pengawasan terhadap apa yang mereka lihat, dengar, mainkan, dan serap di ruang digital juga menjadi bagian penting dalam menjaga masa depan generasi muda.

Editor : Abraham Johan

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses