Nurlena Dorong Ruang Publik Jadi Wadah Kreativitas dan Kolaborasi

BALIKPAPAN,Inibalikpapan.com – Ruang publik Balikpapan tak lagi sekadar menjadi waktu bagi warga untuk berolahraga atau menikmati udara segar. Di tengah aktivitas senam, musik, komunitas, hingga kegiatan usaha, ruang terbuka mulai berkembang menjadi titik temu berbagai potensi kreatif masyarakat.

Fenomena tersebut dinilai menjadi peluang untuk memperkuat ekosistem ekonomi kreatif di Kota Balikpapan. Ruang publik tidak hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi juga dapat menjadi panggung bagi seniman, ruang promosi bagi pelaku usaha, serta tempat bertemunya berbagai komunitas.

Ketua Umum Kreatif Kota Balikpapan, Hj. Nurlena Rahmad Mas’ud, mengatakan ruang publik memiliki peran penting dalam mempertemukan berbagai aktivitas masyarakat.

“Ruang publik ini bukan hanya tempat masyarakat berkumpul. Di sini ada olahraga, seni, komunitas, pelaku usaha, sampai ekonomi kreatif yang semuanya bisa bergerak bersama,” ujar Nurlena, Senin (10/8/2026)

Menurutnya, kegiatan yang terlihat sederhana seperti senam bersama dapat berkembang menjadi ruang interaksi yang lebih luas. Ketika masyarakat berkumpul, muncul peluang bagi berbagai subsektor ekonomi kreatif untuk saling mengenalkan potensi masing-masing.

“Anak-anak yang mempunyai kemampuan seni bisa tampil. Ada musik, tari, fotografi, fesyen, kriya, dan berbagai kegiatan lainnya. Semua bisa bertemu di satu tempat,” katanya.

Nurlena menilai pertemuan tersebut dapat memberikan manfaat bagi pelaku kreatif yang selama ini membutuhkan ruang untuk memperkenalkan karya mereka kepada masyarakat.

“Fotografer bisa mengabadikan kegiatan. Anak-anak musik bisa tampil. Pelaku fesyen dan kriya bisa memperkenalkan produknya. Jadi ruang publik itu bisa menjadi etalase kreativitas masyarakat,” jelasnya.

Menurut dia, keberadaan ruang publik yang terbuka dan mudah diakses juga dapat membantu memperluas jaringan komunitas. Pelaku ekonomi kreatif tidak hanya bertemu dengan sesama pelaku usaha, tetapi juga dapat berinteraksi langsung dengan calon konsumen.

“Ketika komunitas berkumpul, mereka tidak hanya bersilaturahmi. Mereka juga saling mengenalkan kegiatan, produk, dan karya. Dari situ muncul peluang ekonomi,” ujar Nurlena.

Ia menambahkan, masyarakat yang awalnya datang untuk berolahraga bisa saja kemudian tertarik melihat produk lokal yang ditawarkan pelaku usaha. Begitu pula komunitas yang hadir dapat menemukan peluang kolaborasi dengan komunitas lainnya.

“Orang datang mungkin awalnya untuk senam. Tetapi setelah itu mereka melihat ada produk UMKM, ada pertunjukan seni, ada kegiatan komunitas. Dari interaksi seperti itu bisa muncul sesuatu yang baru,” katanya.

Nurlena melihat kondisi tersebut sebagai bagian dari cara membangun kota yang tidak hanya bertumpu pada pembangunan fisik. Menurutnya, sebuah kota juga membutuhkan ruang yang mampu mempertemukan masyarakat dan mendorong lahirnya kreativitas.

“Pembangunan kota bukan hanya soal gedung, jalan, atau fasilitas fisik. Kita juga perlu membangun manusianya, komunitasnya, kreativitasnya, dan jejaringnya,” tegasnya.

Ia berharap ruang publik di Balikpapan semakin dimanfaatkan sebagai tempat berkegiatan secara positif. Dengan pengelolaan dan kolaborasi yang baik, ruang terbuka dapat menjadi wadah bagi masyarakat untuk berkarya sekaligus membuka peluang ekonomi.

“Kalau ruang publik kita hidup, masyarakat juga ikut hidup. Kreativitas bisa tumbuh, komunitas bisa berkembang, dan pelaku usaha mendapatkan ruang untuk memperkenalkan produknya,” tuturnya.

Menurut Nurlena, kekuatan ekonomi kreatif justru sering kali lahir dari pertemuan sederhana antarmanusia. Ide baru muncul ketika komunitas bertemu, karya diperkenalkan, dan peluang kolaborasi terbuka.

“Ekonomi kreatif itu membutuhkan ruang untuk bertemu. Tidak cukup hanya punya karya, tetapi karya itu juga harus diperkenalkan dan dipertemukan dengan masyarakat,” katanya.

Ruang publik akhirnya bukan sekadar tempat warga datang dan pergi. Di dalamnya terdapat potensi untuk mempertemukan olahraga, seni, komunitas, usaha, dan kreativitas dalam satu ekosistem.

“Kalau kita ingin Balikpapan menjadi kota yang kreatif, ruang-ruang seperti ini harus terus kita hidupkan,” pungkas Nurlena.***

Penulis: Samsul

Editor : Ramadani

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses