tragedi di Stadion Kanjuruhan Malang

Polisi Sebut Pemicu Kematian Bukan Karena Gas Air Mata, KontraS Sebut Polisi Berupaya Lepas Tanggungjawab

BALIKPAPAN, Inibalikpapan.com – Kepolisian disebut telah berupaya lepas tanggungjawab dalam Tragedi Kanjuruhan yang menewaskan sebanyak 131 orang.

Hal itu disampaikan Wakil Koordinator KontraS, Rivanlee Ananda menanggapi pernyataan kepolisian yang meyebut pemicu korban tewas bukan akibat gas air mata

“Narasi yang diusung Polri belakangan adalah upaya untuk menghindari pertanggungjawaban. Mulai dari menyiarkan soal kerusuhan, gas air mata sesuai SOP, dan narasi lain termasuk mengatakan gas air mata tidak mengakibatkan kematian. Upaya tersebut justru menunjukkan bahwa ada hal yang ditutupi oleh kepolisian,” ujarnya dilasnir dari suara.com jaringan inibalikpapan.com

Bahkan dia mengatakan, pernyataan Polri yang menyebut tragedi Kanjuruhan bukan karena gas airmata akan sangat mudah untuk dibantah.

“Untuk membantah, gampang saja. Apa yang membuat orang berdesakan-asfiksi-kekurangan oksigen di stadion yang biasa diisi oleh sekian ribu orang di hari biasa?” kata Rivanlee.

“Ramai dan berdesakan di stadion tidak kemarin saja, tetapi sudah sering. Namun, tragedi kemarin justru menunjukkan ada penyebab lain yang mengakibatkan hal luar biasa pada kondisi yang biasa terjadi,”

Sebelumnya, Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Dedi Prasetyo menyampaikan, korban meninggal dunia dalam Tragedi Kanjuruhan bukan akibat gas air mata. Tapi karena kekurangan oksigen hingga terinjak-injak

Dedi menyatakan, hal itu berdasarkan penjelasan ahli dan dokter spesialis. Dimana  tak ada satupun korban meninggal dunian akibat gas air mata.

Namun Pokri mengakui ada anggota yang menggunakan gas air mata kedaluwars. Beberapa gas air mata yang ditemukan tercatat telah kedaluwarsa sejak tahun 2021.

“Ya, ada beberapa yang ditemukan ya. Yang tahun 2021, ada beberapa,” ungkap Dedi.

Dedi tak menyebut jumlah gas air mata kedaluwarsa yang ditemukan oleh penyidik. Dia mengklaim barang bukti tersebut masih diperiksa di laboratorium forensik.

Baca juga ini :  Kumpulkan Data dan Informasi, FIFA dan AFC Ingin Kompetisi di Indonesia Aman dan Bergulir Lagi

“Kebalikannya (dengan makanan), dengan zat kimia atau gas air mata ini, ketika dia expired justru kadar kimianya itu berkurang. Sama dengan efektivitasnya gas air mata ini, ketika ditembakkan, dia tidak bisa lebih efektif lagi,” ujarnya

Suara.com

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.