Rudy Mas’ud Dorong Kaltim Tinggalkan Pola Lama: Jangan Tunggu Sakit Baru Berobat
NUSANTARA, Inibalikpapan.com – Gubernur Rudy Mas’ud menilai pembangunan kesehatan di Kalimantan Timur tidak bisa lagi berjalan dengan pola lama yang terlalu berorientasi pada pengobatan. Pemerintah provinsi ingin menggeser fokus pembangunan kesehatan ke arah pencegahan sebelum masyarakat jatuh sakit.
Dikutip dari akun instagram Pemrprov Kaltim, Gubernur Rudy menegaskan pendekatan promotif dan preventif harus diperkuat. Perubahan paradigma itu dinilai penting karena tantangan kesehatan Kaltim ke depan semakin kompleks, mulai dari stunting, penyakit tidak menular, kesehatan ibu dan anak, tuberkulosis (TBC), HIV hingga persoalan kesehatan lingkungan.
“Pendekatan promotif dan preventif harus diperkuat, dengan bergeser dari paradigma mengobati menjadi mencegah. Persakmi harus menjadi motor penggerak upaya ini,” tegas Rudy saat membuka Rapat Kerja Daerah Perhimpunan Sarjana dan Profesional Kesehatan Masyarakat Indonesia (Persakmi) Kalimantan Timur di Ibu Kota Nusantara (IKN), Sabtu (29/8/2026).
Jangan Hanya Sibuk Mengobati
Menurut Rudy, persoalan kesehatan tidak cukup ditangani ketika penyakit sudah muncul. Pemerintah membutuhkan pemetaan persoalan dan kebijakan berbasis data agar intervensi dapat dilakukan lebih awal.
Karena itu, Rudy mendorong Persakmi tidak berhenti pada aktivitas organisasi dan profesi. Organisasi tersebut diharapkan ikut memberikan kajian dan solusi konkret bagi berbagai persoalan kesehatan di Kaltim.
Persakmi juga diminta membantu pemerintah mengevaluasi sistem pelayanan kesehatan sekaligus melahirkan gagasan baru untuk membangun masyarakat yang lebih sehat.
Pesannya jelas: anggaran dan kebijakan kesehatan jangan hanya habis untuk menangani orang sakit, tetapi harus lebih banyak diarahkan untuk mencegah masyarakat menjadi sakit.
Layanan Kesehatan Tak Boleh Menumpuk di Kota
Rudy juga menyoroti persoalan klasik Kaltim: ketimpangan akses layanan kesehatan.
Dengan wilayah Kaltim yang luas dan kondisi geografis yang beragam, kualitas pelayanan kesehatan tidak boleh hanya dinikmati masyarakat di kawasan perkotaan.
Pemerataan tenaga kesehatan, peningkatan kompetensi, penguatan fasilitas kesehatan serta pemanfaatan teknologi menjadi sejumlah langkah yang dinilai penting agar masyarakat di wilayah terpencil dan sulit dijangkau tidak semakin tertinggal.
Bagi Rudy, pembangunan kesehatan harus berjalan seiring dengan pemerataan pembangunan.
Persakmi Diminta Jadi Think Tank Pemprov
Di tengah tantangan tersebut, Rudy menempatkan Persakmi pada posisi strategis.
Organisasi profesi kesehatan masyarakat itu didorong menjadi mitra pemerintah dalam menentukan arah kebijakan kesehatan Kaltim, bukan sekadar menjalankan fungsi internal organisasi.
“Persakmi bukan hanya organisasi profesi, tetapi dapat menjadi think tank, partner sekaligus agent of change dalam pembangunan kesehatan masyarakat,” katanya.
Rudy berharap Rakerda Persakmi menghasilkan kajian, masukan dan rekomendasi berbasis data yang dapat digunakan pemerintah sebagai pijakan dalam merumuskan kebijakan.
IKN Mengubah Peta Tantangan Kesehatan Kaltim
Transformasi kesehatan Kaltim juga tidak bisa dilepaskan dari pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Masuknya investasi, perubahan demografi, meningkatnya mobilitas penduduk, pertumbuhan ekonomi dan dinamika lingkungan akan menciptakan tantangan kesehatan baru.
Menurut Rudy, perubahan tersebut harus dipetakan sejak dini sehingga pembangunan sistem kesehatan Kaltim tidak tertinggal oleh laju pembangunan IKN.
“Era transformasi dan digital harus kita manfaatkan sebagai peluang untuk membangun sistem kesehatan yang modern, inklusif dan berkelanjutan,” jelasnya.
Rapat kerja tersebut mengangkat tema “Strategi Penguatan Eksistensi Organisasi yang Adaptif, Inovatif di Era Transformasi dan Digital.”
Kegiatan dihadiri Anggota Komisi VI DPR RI Hj Sarifah Suraidah, Deputi Sosbud Otorita IKN Alimuddin, Ketua Umum Persakmi Pusat Prof Aminudin Syam, serta Ketua Umum Persakmi Kalimantan Timur Masitah.
Dengan tantangan kesehatan yang semakin beragam dan transformasi besar akibat pembangunan IKN, Kaltim kini dituntut membangun sistem kesehatan yang tidak sekadar cepat mengobati, tetapi mampu membaca risiko dan mencegah penyakit sebelum menjadi beban masyarakat.
Editor : Abraham Johan
BACA JUGA
