Rupiah Kembali Melemah, Tinggal Selangkah Menuju Level Rp 18.000/Dollar AS

Rupiah menguat
Petugas salah satu tempat penukaran mata uang asing menunjukkan uang rupiah dan dolar AS, Jakarta. (Suara.com/Alfian Winanto)

BALIKPAPAN, Inibalikpapan.com – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (2/7/2026). Mata uang Garuda berada di level Rp17.984 per dolar AS, semakin mendekati level psikologis Rp18.000.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah turun 32 poin atau 0,18 persen ketimbang penutupan perdagangan sebelumnya. Pelemahan ini menunjukkan tekanan terhadap rupiah masih belum mereda di tengah penguatan dolar AS di pasar global.

Dolar AS Menguat, Rupiah Tertekan

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan penguatan dolar AS masih menjadi faktor utama yang membebani rupiah.

Menurutnya, kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat berasal dari meningkatnya ekspektasi pasar terhadap peluang Federal Reserve (The Fed) kembali menaikkan suku bunga. Sentimen tersebut semakin menguat menjelang rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat atau Non-Farm Payroll (NFP) yang menjadi perhatian pelaku pasar global.

“Rupiah diperkirakan masih tertekan oleh dolar AS di tengah kenaikan imbal hasil obligasi AS akibat meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed menjelang rilis data pekerjaan AS NFP malam ini,” ujar Lukman.

Sentimen Domestik Belum Pulih

Selain tekanan dari faktor global, Lukman menilai sentimen domestik juga masih membebani pergerakan rupiah.

Aksi jual investor asing di pasar keuangan Indonesia masih berlangsung sehingga membuat ruang penguatan rupiah menjadi terbatas.

Ia memperkirakan rupiah bergerak pada kisaran Rp17.900 hingga Rp18.050 per dolar AS, sehingga peluang menyentuh level Rp18.000 masih terbuka apabila tekanan eksternal terus berlanjut.

Berbeda dengan Mata Uang Asia

Di saat rupiah melemah, mayoritas mata uang di kawasan Asia justru mencatat penguatan terhadap dolar AS.

Ringgit Malaysia menjadi mata uang dengan penguatan terbesar setelah naik sekitar 0,21 persen. Lalu baht Thailand yang menguat 0,07 persen, yuan China 0,06 persen, serta dolar Taiwan dan peso Filipina yang sama-sama naik 0,05 persen.

Sementara itu, yen Jepang menguat 0,04 persen, dolar Singapura naik 0,03 persen, dan dolar Hong Kong menguat tipis sekitar 0,01 persen terhadap mata uang Negeri Paman Sam.

Pergerakan tersebut menunjukkan tekanan terhadap rupiah masih relatif lebih besar ketimbang sejumlah mata uang utama di kawasan Asia pada awal perdagangan hari ini.***

Penulis: Donny Moslem
Sumber: Bloomberg, Suara.com
Editor: Donny

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses