Rupiah Melemah, Perajin Tempe di Balikpapan Mulai Khawatir Harga Kedelai Naik

BALIKPAPAN,Inibalikpapan.com — Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai memicu kekhawatiran di kalangan perajin tahu dan tempe di Kota Balikpapan. Ketergantungan terhadap kedelai impor membuat pelaku usaha kecil waswas harga bahan baku akan ikut melonjak dalam waktu dekat.

Meski hingga kini harga tahu dan tempe di pasaran masih bertahan normal, para perajin mengaku mulai mengantisipasi kemungkinan kenaikan biaya produksi apabila nilai rupiah terus melemah.

Di Kawasan Industri Kecil Somber (KIKS), Kilometer 3,5 Kelurahan Batu Ampar, Balikpapan Utara, aktivitas produksi tahu dan tempe masih berlangsung seperti biasa. Puluhan pelaku usaha tetap menjalankan produksi untuk memenuhi kebutuhan pasar tradisional di Balikpapan.

Salah seorang pemilik usaha tahu dan tempe di kawasan tersebut, Ali mengatakan saat ini harga kedelai masih stabil sehingga harga jual produk belum mengalami perubahan.

“Belum naik ini. Harganya masih harga lama. Tidak ada kenaikan,” ujarnya, Jumat (22/5/2026).

Menurut Ali, kedelai yang digunakan para perajin di Balikpapan sebagian besar berasal dari impor Amerika Serikat. Karena itu, perubahan kurs rupiah terhadap dolar sangat berpengaruh terhadap harga bahan baku di tingkat distributor.

Saat ini, harga kedelai masih berada di kisaran Rp5 ribu per kilogram. Ia menduga stok yang beredar saat ini masih merupakan pasokan lama sehingga dampak pelemahan rupiah belum sepenuhnya terasa.

Namun, ia memperkirakan harga bisa berubah jika distributor mulai mendatangkan stok baru dengan nilai tukar dolar yang lebih tinggi.

“Kemungkinan masih stok lama. Kalau barang baru masuk mungkin saja harganya berubah,” katanya.

Kekhawatiran serupa sebenarnya sudah mulai terdengar dari sejumlah daerah lain di Indonesia, terutama di Pulau Jawa, yang disebut mulai mengalami kenaikan harga kedelai impor.

Kondisi Ekonomi Masyarakat

Meski demikian, Ali mengaku belum berani menaikkan harga tahu dan tempe produksinya. Ia khawatir kenaikan harga justru membuat pembeli berkurang di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang belum sepenuhnya stabil.

Sebagai langkah antisipasi, para perajin kemungkinan memilih melakukan efisiensi produksi dibanding langsung menaikkan harga jual.

“Kalau terpaksa mungkin ukuran tahu dan tempenya dibuat lebih tipis. Kalau harga dinaikkan takutnya susah jual,” ungkapnya.

Dalam sekali produksi, usaha miliknya menghabiskan sekitar 100 kilogram kedelai atau setara dua karung bahan baku. Produk tahu dan tempe tersebut kemudian dipasarkan ke sejumlah pasar tradisional di Balikpapan, termasuk Pasar Pandansari dan Pasar Buton.

Selain memenuhi kebutuhan pangan masyarakat, usaha tahu dan tempe juga menjadi sumber penghidupan bagi pekerja lokal. Ali mempekerjakan dua orang karyawan yang membantu proses produksi setiap hari.

Para pelaku usaha berharap harga kedelai di Balikpapan tetap stabil sehingga usaha kecil mereka dapat terus bertahan tanpa harus membebani konsumen dengan kenaikan harga.***

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses