Rupiah Tembus Rp17.500/Dolar AS! BI Ungkap Penyebab Mengapa Tekanan Makin Berat
JAKARTA, inibalikpapan.com – Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan setelah sempat menyentuh level Rp17.500 per dolar Amerika Serikat. Kondisi ini mulai masyarakat rasakan, terutama pelaku usaha yang bergantung pada barang impor dan perdagangan elektronik.
Bank Indonesia mengungkap tekanan terhadap rupiah bukan hanya dari gejolak global, tetapi juga lonjakan kebutuhan dolar AS di dalam negeri.
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti mengatakan meningkatnya permintaan dolar terjadi karena kebutuhan korporasi membayar utang luar negeri, pembagian dividen, hingga kebutuhan valuta asing untuk musim haji.
Selain itu, kenaikan harga minyak dunia dan ketidakpastian ekonomi global ikut menambah tekanan terhadap mata uang Garuda.
“BI akan terus berkomitmen berada di pasar dengan melakukan smart intervention baik di pasar spot, DNDF maupun NDF,” kata Destry dalam keterangan tertulis, Rabu (13/5/2026), dikutip dari Suara, jaringan inibalikpapan.com.
Meski rupiah melemah, BI memastikan kondisi likuiditas valuta asing di dalam negeri masih aman dan terkendali.
Bank sentral juga mencatat aliran modal asing ke pasar keuangan Indonesia masih cukup besar. Sepanjang April 2026, inflow ke Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mencapai Rp61,6 triliun.
Namun di lapangan, pelemahan rupiah mulai memicu kekhawatiran pelaku usaha karena berpotensi menaikkan harga barang impor, terutama elektronik dan kebutuhan berbasis dolar.
Tekanan rupiah ke level Rp17.500 juga ramai publik bahas karena mengingatkan pada periode gejolak ekonomi sebelumnya ketika nilai tukar dolar melonjak tajam dan daya beli masyarakat ikut terdampak.
BI optimistis tekanan tersebut masih bersifat sementara dan musiman sehingga nilai tukar rupiah perkiraan bisa kembali mendekati level fundamental ekonomi nasional dalam beberapa waktu ke depan.***
BACA JUGA
