September Masih Bulan Kering, BMKG Ingatkan Kaltim Waspadai Karhutla
BALIKPAPAN,Inibalikpapan.com — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat dan pemerintah daerah di Kalimantan Timur untuk tetap mewaspadai potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). September diperkirakan masih menjadi periode bulan kering dengan curah hujan yang relatif rendah.
Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan, Djoko Sumardiono, mengatakan berdasarkan prakiraan iklim BMKG, curah hujan di Kaltim pada September berada pada kisaran 0-50 milimeter per bulan.
“Kita mengidentifikasi September itu masih bulan kering, dengan prediksi curah hujan 0 sampai 50 milimeter per bulan,” kata Djoko.
Menurut dia, kondisi tersebut menjadi perhatian karena masih terdapat waktu sekitar satu bulan yang perlu diantisipasi bersama untuk mencegah munculnya titik-titik kebakaran.
Djoko mengatakan wilayah yang menjadi perhatian BMKG tersebar di sejumlah daerah. Beberapa di antaranya berada di Kutai Kartanegara (Kukar) dan Penajam Paser Utara (PPU).
Namun, kondisi asap paling signifikan dalam beberapa hari terakhir terpantau di Kabupaten Berau. Jarak pandang di wilayah tersebut sempat turun hingga sekitar 2.000 meter akibat asap.
Kondisi itu mulai membaik. Berdasarkan pemantauan BMKG, jarak pandang di Berau telah meningkat menjadi sekitar 4.000 meter. Perbaikan jarak pandang tersebut juga memungkinkan aktivitas penerbangan kembali berlangsung.
“Sekarang asapnya sudah mulai berkurang. Dari 2.000 meter, sekarang visibility menjadi 4.000 meter. Informasi terakhir, pesawat sudah bisa mendarat di Bandara Berau,” ujar Djoko.
Sebelumnya, selama sekitar tiga hingga empat hari, jarak pandang yang pendek akibat asap membuat pesawat tidak dapat mendarat di Bandara Berau.
OMC Masih Menunggu Asesmen Cuaca
Terkait pelaksanaan operasi modifikasi cuaca (OMC) di Kaltim, Djoko mengatakan BMKG masih menunggu informasi dan koordinasi dari tim terkait, termasuk Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Tim disebut telah berada di wilayah Kaltim. Namun, pelaksanaan OMC tetap perlu mempertimbangkan perkembangan kondisi atmosfer dan potensi pertumbuhan awan hujan.
BMKG memperkirakan dalam beberapa hari ke depan pertumbuhan awan hujan di sebagian besar wilayah Kaltim relatif kecil. Potensi pertumbuhan awan hujan lebih banyak berada di wilayah bagian utara.
Kolom Udara Menipis
Menurut Djoko, keberadaan awan tebal belum otomatis menunjukkan bahwa awan tersebut dapat menghasilkan hujan. Untuk pelaksanaan penyemaian awan, terdapat sejumlah persyaratan atmosfer yang harus terpenuhi.
“Kolom udaranya harus cukup besar, kemudian massa udara atau kandungan airnya juga harus cukup. Kalau hanya awan tipis dengan kolom udara yang tipis, tidak akan terjadi hujan,” katanya.
Karena itu, BMKG akan terus memantau perkembangan awan dan kondisi atmosfer sebelum menentukan langkah modifikasi cuaca.
Di tengah periode kering tersebut, Djoko mengingatkan kewaspadaan terhadap karhutla tetap perlu dijaga. Pencegahan dinilai menjadi langkah penting, terutama dengan menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran di lahan terbuka.
Kondisi cuaca yang kering membuat api lebih mudah menyebar. Karena itu, pengendalian titik api tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan petugas, tetapi juga membutuhkan kesadaran masyarakat.
Bagi BMKG, hujan bukan sekadar fenomena cuaca, tetapi juga menjadi salah satu faktor penting dalam menekan risiko karhutla. Namun, selama kondisi atmosfer belum mendukung terbentuknya hujan, upaya pencegahan tetap menjadi pilihan utama.***
Penulis : Samsul
Editor : Ramadani
BACA JUGA
