Sutradara-Produser Ungkap Cerita Penggarapan ‘Children of Heaven’ Indonesia, Tayang Bioskop Akhir Mei 2026

Adaptasi film legendaris karya Majid Majidi Children of Heaven ke versi Indonesia disebut sebagai proyek nyaris mustahil. Produser Manoj Punjabi terang-terangan mengakui tantangan terbesar justru datang dari pencarian pemeran utama anak. (Foto: IMDB)

JAKARTA, inibalikpapan.com — Sutradara Hanung Bramantyo memilih keluar dari pola film komersial megah saat menggarap adaptasi Indonesia Children of Heaven. Demi menjaga ruh realistis film aslinya dari Iran, Hanung bahkan sejak awal meminta produser Manoj Punjabi meninggalkan formula khas MD Pictures yang identik dengan visual sinematik dan dramatis.

Film yang dijadwalkan tayang serentak di bioskop pada 27 Mei 2026 itu justru dibuat lebih sederhana, jujur, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pendekatan tersebut rupanya berhasil membuat Manoj Punjabi puas, terutama pada bagian akhir cerita yang dinilainya sangat emosional.

“Adegan terakhir itu, 20 menit terakhir saya kayak keringetan nonton. Per menit saya bisa merasa tegangnya, saya sudah involved di karakter ini, bahkan sampai lagu yang luar biasa itu keluar, sudah puas saya,” kata Manoj Punjabi saat gala premiere di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, dikutip dari Suara, jaringan inibalikpapan.com.

“Di sini semuanya right-right casting. Kalau saya punya time capsule untuk rewind apa yang bisa diganti, saya enggak akan ganti apa pun,” tambahnya.

Hanung mengaku sejak awal sudah memberi “peringatan” kepada Manoj bahwa film ini tidak akan ia buat dengan pola umum film-film besar MD Pictures. Baginya, adaptasi Children of Heaven harus mempertahankan rasa neorealisme seperti versi Iran yang terkenal sunyi, sederhana, namun emosional.

“Saya bilang sama Pak Manoj, ‘Saya enggak mau ya film Children of Heaven ini dibentuk seolah-olah sebagaimana film yang bentuknya sangat formulaist. Enggak bisa, ini beda banget lho, beda dari taste-nya Pak Manoj biasanya’,” ungkap Hanung.

Menurut Hanung, mengubah gaya produksi yang biasa tampil megah menjadi lebih membumi bukan perkara mudah. Ia bahkan menyamakan proses tersebut seperti “pindah agama” dalam pendekatan artistik.

“MD kebanyakan membuat film yang sangat bentuk, dar-der-dor, seperti film India. Sementara film Iran itu pahamnya realisme. Bagaimana gaya yang terbiasa sinematik itu di-tweak, itu sudah kayak pindah agama kan,” tuturnya.

Meski mempertahankan nuansa realistis, Hanung tetap memasukkan unsur humor agar lebih dekat dengan penonton Indonesia. Sejumlah komika seperti Acho, Dodit Mulyanto, dan Oki Rengga terlibat untuk memberi warna yang lebih cair di tengah cerita emosional.

Menurut Hanung, budaya tontonan masyarakat Indonesia memang akrab dengan perpaduan drama dan komedi dalam satu panggung cerita.

“Tradisi pertunjukan kita selalu mengedepankan tiga hal, yaitu cerita bagus, menyentuh, dan lucu. Orang Iran mungkin hidupnya serius sekali, sementara kita, lapar saja masih bisa ketawa. Makanya kita masukkan unsur kelucuan ini dari para komika agar film ini terasa komplet buat penonton kita,” bebernya.

Selain pendekatan artistik, proses produksi film ini juga memberi perhatian khusus terhadap kenyamanan aktor anak selama syuting berlangsung. Hanung menerapkan jam kerja sehat dan fasilitas pendukung agar para pemeran utama tidak mengalami kelelahan di lokasi syuting.

Menghadirkan Jared Ali dan sejumlah aktor lintas generasi, Children of Heaven versi Indonesia berpotensi menjadi salah satu film drama keluarga yang menyentuh sekaligus berbeda dari arus utama perfilman nasional tahun ini.***

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses