Syukuran Panen Dayak Kenyah di Kukar: Menjaga Tradisi di Tengah Sepinya Wisata Budaya
MUARA BADAK, Inibalikpapan.com – Bagi masyarakat Dayak Kenyah di Desa Sungai Bawang, Kecamatan Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), panen bukan sekadar akhir dari musim tanam.
Di balik padi yang dipetik, ada tradisi syukuran yang menjadi cara masyarakat merawat kebersamaan sekaligus menjaga identitas budaya agar tidak terputus di tengah perubahan zaman.
Tradisi syukuran panen padi gunung dan padi sawah hingga kini digelar setiap tahun. Bagi masyarakat, momentum tersebut menjadi ruang untuk mengungkapkan rasa syukur sekaligus memperkenalkan kembali warisan leluhur kepada generasi berikutnya.
Kepala Adat Dayak Kenyah Desa Sungai Bawang Amos Usat mengatakan, tradisi tersebut telah menjadi agenda tahunan masyarakat. Kegiatan itu bermula dari kebijakan dan agenda tahunan yang pernah dicanangkan almarhum Pak Sukani saat menjabat sebagai bupati.
Pada awalnya, seluruh pembiayaan kegiatan berasal dari swadaya masyarakat.
“Dulu kegiatan ini murni dari swadaya masyarakat. Setiap kepala keluarga biasanya memberikan iuran Rp200.000 atau menyumbangkan beras sebanyak 5 kilogram,” ujarnya.
Seiring waktu, pola pembiayaan berubah. Masyarakat kini mengajukan proposal kepada pemerintah daerah maupun pemerintah desa. Dukungan juga datang dari donatur dan sponsor untuk memastikan kegiatan tetap berjalan.
Panen Sekali Setahun, Tantangannya Tak Sederhana
Di balik pesta panen yang meriah, kehidupan pertanian masyarakat Dayak Kenyah menyimpan tantangan tersendiri.
Padi gunung umumnya hanya dapat dipanen sekali dalam setahun dan biasanya selesai pada Maret. Produktivitasnya sangat bergantung pada kondisi lahan.
Sebagian lahan pertanian di wilayah tersebut merupakan tanah gambut dan rawa yang belum dikelola secara optimal. Kesalahan pengelolaan bahkan dapat membuat tanaman padi mati hanya dalam waktu dua hingga tiga hari.
Karena itu, pesta panen memiliki makna yang lebih dalam. Perayaan tersebut menjadi pengingat bahwa kehidupan masyarakat masih memiliki hubungan erat dengan tanah dan alam sebagai sumber penghidupan.
Tradisi kemudian menjadi cara untuk menghormati proses panjang yang dilalui masyarakat sebelum hasil pertanian dapat dinikmati.

Seni Jadi Cara Menjaga Identitas
Pesta panen mulai dirintis sejak 2014. Dalam dua tahun terakhir, kegiatan tersebut berkembang dengan tambahan pentas seni yang melibatkan penari lokal.
Para penari Dayak Kenyah tidak hanya tampil di Sungai Bawang. Mereka telah membawa kesenian lokal ke sejumlah daerah, termasuk Balikpapan, Jakarta, dan Surabaya.
Panggung tersebut menjadi kesempatan bagi generasi muda untuk mengenal, mempraktikkan, sekaligus memperkenalkan budaya Dayak Kenyah kepada masyarakat di luar daerah.
Potensi budaya itu juga dikembangkan melalui paket wisata yang terbagi dalam Paket A, B, dan C. Pengunjung dapat memilih pengalaman budaya sesuai paket yang tersedia.
Namun, pengembangan wisata budaya tidak selalu berjalan mulus.
Pentas seni di Lamin Adat untuk sementara ditutup karena tingkat kunjungan yang sangat sepi. Pengelola merencanakan kegiatan tersebut kembali dibuka sekitar September atau Oktober.
Meski panggung sedang sepi, para penari tetap bersiap ketika ada kunjungan.
Sebab bagi mereka, seni tradisi tidak semata-mata tentang ada atau tidaknya penonton. Seni adalah bagian dari identitas yang harus terus dipelajari dan diwariskan.
Jangan Sampai Budaya Hanya Tinggal Cerita
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya menghadapi tantangan ganda.
Di satu sisi, masyarakat berupaya mempertahankan tradisi melalui syukuran panen, seni tari, dan pengembangan wisata budaya. Di sisi lain, keberlanjutan kegiatan membutuhkan dukungan, partisipasi masyarakat, serta minat pengunjung.
Syukuran panen menjadi salah satu titik temu dari seluruh upaya tersebut.
Di sana, pertanian, seni, tradisi, dan kebersamaan masyarakat bertemu dalam satu perayaan.
Lebih dari sekadar pesta setelah panen, kegiatan itu menjadi pengingat bahwa kebudayaan tumbuh dari kehidupan sehari-hari. Dari bagaimana masyarakat mengolah tanah, menanam padi, menunggu panen, hingga berkumpul dan bersyukur atas hasilnya.
Ketika tradisi terus dijalankan, yang dijaga bukan hanya sebuah acara tahunan. Yang dirawat adalah ingatan tentang leluhur, hubungan dengan tanah, dan identitas Dayak Kenyah.
Sebab budaya tidak cukup hanya dikenang.
Ia harus terus dilakukan, diperkenalkan kepada anak-anak, diberi ruang untuk berkembang, dan dihidupkan kembali ketika mulai sepi.
Dengan begitu, ketika generasi berganti, cerita tentang siapa mereka dan dari mana mereka berasal tidak ikut hilang bersama waktu.
Penulis : Syarifuddin
Editor : Abraham Johan
BACA JUGA
