Festival Mecaq Undat Jadi Benteng Regenerasi Budaya Dayak Kenyah di Sungai Bawang
MUARA BADAK, Inibalikpapan.com – Ketika anak-anak muda mulai jauh dari kehidupan bertani dan permainan tradisional, masyarakat Dayak Kenyah di Desa Budaya Sungai Bawang, Kecamatan Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartanegara, memilih satu cara untuk melawan lupa: menghidupkan kembali tradisi.
Festival Mecaq Undat menjadi salah satu ruangnya.
Di festival ini, budaya tidak sekadar dipertontonkan. Pengetahuan tentang kehidupan leluhur ditransfer kepada generasi muda melalui tarian, permainan, olahraga tradisional, hingga berbagai pertunjukan seni.
Salah satunya tergambar dalam tarian yang menceritakan proses bertani masyarakat Dayak Kenyah secara utuh. Gerakannya dimulai dari menentukan lahan, membersihkan kawasan, memasang patok, merintis lahan, menugal atau menanam padi, hingga panen.
Ketua Adat Desa Sungai Bawang Amos Usat mengatakan, setiap tahapan tersebut dahulu merupakan bagian dari kehidupan masyarakat.
“Semua proses itu kami gambarkan melalui tarian, mulai dari melihat tanah yang cocok, membersihkan, memberi patok, merintis, sampai menugal dan akhirnya panen,” ujarnya.
Bagi Amos, tarian tersebut bukan sekadar pertunjukan. Ada pesan yang ingin ditanamkan kepada anak-anak, yakni memahami bagaimana leluhur mereka bertahan hidup dan membangun kehidupan dari tanah.
“Anak-anak dan generasi muda kami libatkan supaya mereka mengetahui bagaimana prosesnya dari awal sampai akhir. Jangan sampai tradisi ini hanya diketahui orang tua,” katanya.
Dari Tanah Ulu hingga Sungai Bawang
Tradisi yang kini ditampilkan di Festival Mecaq Undat memiliki sejarah panjang. Jejaknya telah mengikuti perjalanan masyarakat Dayak Kayan dan Kenyah sejak mereka masih bermukim di Tanah Ulu.
Seorang tokoh masyarakat Desa Budaya Sungai Bawang menuturkan, sebagian masyarakat sebelumnya berasal dari Long Hubung. Perpindahan menuju Sungai Bawang berlangsung secara bertahap.
“Tradisi ini sudah dari Tanah Ulu, dari Long Hubung. Kemudian masyarakat datang ke sini secara bertahap,” ujarnya.
Awalnya, hanya beberapa keluarga yang datang untuk berkebun. Faktor pendidikan anak kemudian ikut mendorong masyarakat mendekat ke wilayah yang memiliki akses lebih mudah menuju pusat pendidikan seperti Samarinda dan Tenggarong.
Dari beberapa keluarga, komunitas berkembang. Anak, saudara, dan keluarga lainnya ikut datang hingga terbentuk masyarakat Desa Budaya Sungai Bawang seperti sekarang.
Perpindahan tempat tinggal tidak serta-merta memutus hubungan dengan tradisi. Sebaliknya, pengalaman leluhur dibawa dan terus diwariskan di tempat baru.
Ketika Permainan Leluhur Mulai Dilupakan
Tantangan muncul ketika perubahan zaman membuat sejumlah permainan dan keterampilan tradisional mulai jarang dikuasai generasi muda.
Karena itu, olahraga tradisional sengaja menjadi bagian dari kegiatan budaya.
Menyumpit, gasing, melempar lembing hingga lomba serutan kembali dimainkan. Anak-anak dan generasi muda didorong untuk terlibat langsung, bukan hanya menjadi penonton.
“Kebanyakan anak sekarang mungkin sudah tidak bisa membuat atau memainkan permainan tradisional. Karena itu kami lestarikan,” kata tokoh masyarakat tersebut.
Menyumpit bahkan berkembang menjadi ajang pertemuan masyarakat Dayak dari berbagai wilayah. Komunitas dari Kalimantan Timur, Kalimantan Utara hingga Malaysia dapat ambil bagian dalam kegiatan tertentu.
Peserta juga datang dari sejumlah daerah, termasuk Bontang dan Kutai Timur.
Bagi masyarakat Dayak, menyumpit bukan sekadar perlombaan. Di dalamnya terdapat keterampilan tradisional sekaligus bagian dari identitas yang harus dikenalkan kepada generasi berikutnya.
Budaya Tak Cukup Disimpan di Panggung
Upaya menjaga budaya juga berkembang melalui seni.
Anak-anak dan generasi muda tidak hanya belajar memainkan alat musik atau menari, tetapi mendapat kesempatan tampil di luar daerah. Mereka telah membawa kesenian Desa Sungai Bawang ke sejumlah wilayah, bahkan hingga Jakarta.
Dukungan Pertamina Hulu Mahakam (PHM) turut membuka ruang yang lebih luas bagi pengembangan kegiatan tersebut.
Menurut tokoh masyarakat, dukungan PHM membantu mengatasi keterbatasan dana yang sebelumnya menjadi salah satu kendala pengembangan kegiatan budaya.
“Kalau PHM tidak ada, kami mungkin kesulitan membangun dan mengembangkan kegiatan karena terbentur dana. Sekarang anak-anak yang bermain musik dan menampilkan tari-tarian sudah sering dibawa tampil ke luar daerah, bahkan sampai Jakarta,” ujarnya.
Bagi masyarakat, kesempatan tampil di luar daerah bukan hanya soal pertunjukan.
Anak-anak mendapatkan pengalaman sekaligus kesempatan memperkenalkan identitas Dayak kepada masyarakat yang lebih luas.
Budaya dengan demikian tidak berhenti di panggung festival. Ia dibawa keluar, dikenalkan, dan dipraktikkan oleh generasi yang akan menjadi pewarisnya.
Festival Sekaligus Menggerakkan Ekonomi
Festival budaya juga memberi dampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.
Ketika warga dari berbagai daerah datang menyaksikan pertunjukan maupun mengikuti perlombaan tradisional, perputaran ekonomi ikut meningkat. Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mendapat ruang untuk menjajakan produk kepada pengunjung.
Pelestarian budaya pun berkembang menjadi jejaring antardesa.
Tiga desa budaya—Sungai Bawang, Lekaq Kidau, dan Long Anai—menjadi bagian dari jejaring tersebut. Kegiatan budaya dapat digelar bergantian berdasarkan kesepakatan masyarakat.
Pola ini membuat pelestarian budaya tidak berjalan sendiri-sendiri. Masing-masing desa memiliki ruang untuk memperkenalkan tradisi sekaligus membangun hubungan dengan komunitas Dayak dari wilayah lain.
Melawan Lupa, Menjaga Masa Depan
Festival Mecaq Undat pada akhirnya bukan sekadar perayaan budaya.
Di balik tarian yang menggambarkan proses bertani, ada upaya menyimpan pengetahuan tentang bagaimana leluhur memilih lahan, menanam dan memanen padi.
Di balik permainan menyumpit dan gasing, ada keterampilan yang berusaha diselamatkan dari kepunahan.
Dan di balik anak-anak yang menari serta memainkan musik, ada proses regenerasi identitas.
Sebab ancaman terbesar bagi sebuah budaya bukan hanya ketika tarian berhenti dipentaskan atau permainan tradisional tidak lagi dimainkan.
Ancaman terbesar muncul ketika generasi muda tidak lagi merasa memiliki hubungan dengan warisan tersebut.
Masyarakat Desa Budaya Sungai Bawang memahami bahwa budaya tidak bisa hanya disimpan sebagai cerita masa lalu.
Budaya harus dimainkan, dipraktikkan, dipelajari, dan diberi ruang untuk berkembang.
Festival Mecaq Undat menjadi salah satu ruang untuk memastikan proses itu terus berlangsung.
Karena ketika seorang anak masih mampu menari dengan gerakan yang menceritakan kehidupan leluhurnya, memainkan permainan tradisional, atau membawa musik Dayak ke panggung di luar daerah, sesungguhnya sebuah warisan belum kehilangan masa depannya.
Yang sedang dijaga bukan hanya tarian, musik atau permainan lama.
Yang sedang dipertahankan adalah ingatan tentang siapa mereka, dari mana mereka berasal, dan bagaimana cerita itu akan diteruskan kepada generasi berikutnya.
Penulis : Syarifuddin
Editor : Abraham Johan
BACA JUGA
