Bukan Sekadar Festival, PHM Dorong Desa Budaya Sungai Bawang Jadi Mandiri

Tarian Dayak dalam Festival Mecaq Undat masyarakat Dayak Kenyah di Desa Sungai Bawang, Kecamatan Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartanegara (foto : Inibalikpapan/Syarifuddin)
Tarian Dayak dalam Festival Mecaq Undat masyarakat Dayak Kenyah di Desa Sungai Bawang, Kecamatan Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartanegara (foto : Inibalikpapan/Syarifuddin)

MUARA BADAK, Inibalikpapan.com – Pelestarian budaya Dayak dan Kutai di Kalimantan Timur menghadapi tantangan yang lebih besar dari sekadar menjaga tradisi tetap hidup. Budaya harus mampu diwariskan, dikembangkan, sekaligus memberi ruang bagi masyarakat pemiliknya untuk tumbuh secara mandiri.

Pendekatan itu yang dikembangkan Pertamina Hulu Mahakam (PHM) melalui Program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM) di Desa Budaya Sungai Bawang, Kalimantan Timur.

Program tersebut tidak berhenti pada dukungan terhadap kegiatan budaya seperti Festival Mecaq Undat. PHM mendorong masyarakat mengembangkan keterampilan, kerajinan, hingga potensi wisata budaya agar pelestarian tradisi berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi warga.

Head of Communications, Relations and CID PHM Ahmad Krisna Hadiyanto mengatakan, dukungan perusahaan terhadap masyarakat Dayak dan Kutai dilakukan secara berkelanjutan.

“Komitmen kami tidak hanya sebatas Festival Mecaq Undat. Apa yang dilakukan di Desa Budaya Sungai Bawang merupakan salah satu wujud bagaimana kami mendukung pelestarian budaya Dayak,” kata Ahmad.

Menurut dia, pelaksanaan PPM mengacu pada arahan SKK Migas yang menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dalam proses pembangunan.

Karena itu, warga tidak ditempatkan hanya sebagai penerima manfaat. Mereka dilibatkan sejak proses pengembangan hingga pengelolaan program agar memiliki kemampuan untuk melanjutkan program secara mandiri.

Dari Menjaga Tradisi hingga Menciptakan Kemandirian

Salah satu fokus program adalah pengembangan kerajinan khas Dayak.

Masyarakat mendapatkan pelatihan dan pendampingan untuk meningkatkan kreativitas serta kemampuan dalam menghasilkan produk kerajinan seni. Pendekatan tersebut diharapkan membuat keterampilan tradisional tidak berhenti pada generasi yang saat ini menguasainya.

“Harapannya, produk dan tradisi ini bisa terus berkelanjutan, sehingga kemampuan masyarakat tetap hidup dan berkembang lintas generasi,” ujar Ahmad.

Program tersebut telah berjalan bertahap sejak 2018.

Pada tahap awal, PHM memfokuskan pendampingan pada pengembangan aset yang telah dimiliki masyarakat. Tahapan berikutnya diarahkan pada peningkatan kompetensi, termasuk kemampuan memproduksi dan mengembangkan kerajinan.

Memasuki 2026, arah program diperluas. Masyarakat didorong memiliki kemampuan mengelola Desa Budaya Sungai Bawang sebagai destinasi wisata berbasis budaya.

Perubahan fokus ini menjadi bagian penting dalam membangun kemandirian. Masyarakat tidak hanya diajak mempertahankan apa yang diwariskan leluhur, tetapi juga mengubah potensi budaya menjadi kekuatan sosial dan ekonomi desa.

Budaya sebagai Modal Ekonomi Desa

Pengembangan wisata budaya membuat berbagai potensi lokal dapat saling terhubung.

Kerajinan menjadi produk ekonomi, kesenian menjadi atraksi budaya, sementara tradisi masyarakat menjadi bagian dari pengalaman wisata yang dapat ditawarkan kepada pengunjung.

Dengan demikian, budaya tidak diposisikan sebagai benda masa lalu yang hanya dipertontonkan dalam acara tertentu.

Budaya justru menjadi modal yang dapat dikembangkan masyarakat tanpa kehilangan akar tradisinya.

Ahmad menuturkan, pengembangan aset, peningkatan kompetensi, produksi kerajinan, hingga kemampuan mengelola pariwisata merupakan satu rangkaian program.

Seluruh tahapan tersebut diarahkan untuk menciptakan kemandirian masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan Desa Budaya Sungai Bawang.

Pendekatan ini membuat pelestarian budaya memiliki dimensi yang lebih luas. Ketika masyarakat memiliki kemampuan mengelola potensi desanya, keberlangsungan budaya tidak sepenuhnya bergantung pada bantuan dari luar.

Menjaga Budaya agar Tetap Hidup

Pada akhirnya, tantangan pelestarian budaya bukan hanya bagaimana membuat sebuah tradisi tetap dikenal, tetapi bagaimana memastikan tradisi tersebut memiliki ruang untuk terus hidup.

Seni, kerajinan, pengetahuan tradisional, dan potensi wisata membutuhkan generasi penerus yang mampu mengembangkan semuanya sesuai perubahan zaman.

Di Desa Budaya Sungai Bawang, upaya tersebut dilakukan dengan menghubungkan pelestarian budaya dan pemberdayaan masyarakat.

Budaya tetap menjadi akar, sementara peningkatan keterampilan dan pengembangan wisata menjadi jalan untuk membangun masa depan.

Bagi PHM, pelestarian budaya bukan sekadar memastikan tradisi tetap ada dalam sebuah festival.

Yang lebih penting adalah memastikan masyarakat sebagai pemilik budaya memiliki kemampuan untuk merawat, mengembangkan, dan mewariskannya kepada generasi berikutnya.

Dengan cara itu, budaya tidak hanya bertahan sebagai cerita tentang masa lalu, tetapi dapat menjadi bagian dari masa depan dan sumber kekuatan bagi masyarakat yang menjaganya.

Penulis : Syarifuddin

Editor : Abraham Johan

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses