Tekanan Darah Naik Usai Makan Besar di Momen Lebaran? Ini yang Harus Dilakukan
BALIKPAPAN, inibalikpapan.com – Idul Adha identik dengan pesta daging—sate, gulai, tongseng, dan rendang tersaji melimpah. Namun bagi sebagian orang, momen ini justru menjadi pemicu lonjakan tekanan darah. Apalagi, data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 mencatat prevalensi hipertensi di Indonesia mencapai 34,1 persen pada populasi dewasa—dan sekitar 46 persen di antaranya tidak menyadari kondisinya.
Hipertensi didefinisikan sebagai kondisi ketika tekanan darah sistolik mencapai ≥140 mmHg dan/atau diastolik ≥90 mmHg. Kondisi ini kerap tanpa gejala hingga tekanan darah sudah sangat tinggi, yakni ≥180/120 mmHg—dan pada titik itu, komplikasi serius seperti serangan jantung atau stroke sudah bisa mengintai.
Bukan dagingnya yang jadi masalah
Perlu diluruskan: daging kambing atau sapi kurban itu sendiri bukan biang kerok naiknya tensi. Daging merah murni justru kaya protein dan tidak secara langsung memicu hipertensi. Yang menjadi masalah adalah apa yang menyertai daging tersebut di meja makan.
Bumbu olahan seperti kecap manis, garam dapur, dan penyedap rasa mengandung natrium tinggi yang langsung memengaruhi tekanan darah. Satu porsi sate dengan siraman kecap berlimpah, ditambah lontong berkuah garam, bisa dengan mudah melampaui batas aman konsumsi natrium harian—yang idealnya tidak lebih dari satu sendok teh garam per hari.
Ancaman lain datang dari jeroan—usus, babat, hati, dan gajih—yang kerap ikut tersaji dan sulit ditolak. Bagian-bagian ini kaya lemak jenuh dan kolesterol jahat yang berbahaya, terutama bagi mereka yang sudah memiliki riwayat hipertensi atau penyakit jantung. Daging kurban yang diolah sederhana dengan bumbu minimal justru jauh lebih aman dikonsumsi.
Apa yang harus dilakukan saat tensi tiba-tiba naik?
Langkah pertama adalah tenang dan segera duduk atau berbaring di tempat yang nyaman. Hindari aktivitas fisik mendadak. Jika memiliki obat antihipertensi yang diresepkan dokter, konsumsi sesuai anjuran—jangan menambah dosis sendiri tanpa instruksi medis.
Segera cari pertolongan medis atau pergi ke IGD apabila muncul gejala seperti nyeri dada, sesak napas, sakit kepala hebat, penglihatan kabur, mual dan muntah, atau irama jantung tidak normal. Gejala-gejala ini bisa menjadi tanda krisis hipertensi yang membutuhkan penanganan segera.
Cara aman menikmati hidangan Idul Adha
Dalam artikel Kemenkes yang ditulis oleh dr Johanes David Hendrijanto dan dr. Vito Anggarino Damay, ada beberapa langkah sederhana untuk menjaga tekanan darah tetap stabil selama momen Idul Adha. Pilih olahan daging dengan bumbu minimal—kurangi kecap, garam, dan penyedap. Hindari atau batasi konsumsi jeroan. Imbangi dengan buah-buahan segar dan sayuran di setiap kesempatan makan.
Tetap lakukan aktivitas fisik ringan seperti jalan kaki minimal 30 menit, hindari rokok, dan perbanyak minum air putih. Bagi yang memiliki riwayat hipertensi, diabetes, obesitas, usia di atas 65 tahun, atau riwayat keluarga dengan hipertensi, pantau tekanan darah secara mandiri di rumah dan tetap kontrol rutin ke dokter—tidak perlu menunggu gejala muncul.
Modifikasi gaya hidup yang konsisten terbukti dapat mengurangi hingga 15 persen kejadian komplikasi pada penderita hipertensi.***
BACA JUGA
