BMKG Ingatkan Potensi Karhutla Meningkat, Hotspot di Kaltim Mulai Bertambah
BALIKPAPAN,Inibalikpapan.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Hal ini seiring meningkatnya jumlah titik panas (hotspot) di Kalimantan Timur pada awal musim kemarau. Berkurangnya curah hujan dalam beberapa pekan terakhir menyebabkan hotspot mulai bermunculan di sejumlah wilayah.
Ketua Tim Data dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan, Huda Abshor Muhsinin, mengatakan peningkatan hotspot merupakan kondisi yang umum terjadi saat musim kemarau. Namun, masyarakat diminta tidak langsung menganggap seluruh titik panas sebagai kejadian kebakaran hutan dan lahan.
“Memang saat ini kita sudah memasuki musim kemarau. Pasokan curah hujan mulai menurun sehingga jumlah titik panas di Kalimantan Timur mengalami peningkatan,” ujar Huda, Rabu (15/7/2026).
Ia menjelaskan, fenomena El Nino masih memberikan pengaruh terhadap kondisi cuaca di Indonesia, termasuk Kalimantan Timur. Meski dampaknya pada Juli hingga Agustus belum terlalu besar, pengaruhnya diperkirakan akan semakin terasa apabila intensitas El Nino meningkat menjelang September hingga November.
Menurut Huda, puncak musim kemarau di Kalimantan Timur diperkirakan berlangsung pada Agustus. Apabila El Nino berkembang semakin kuat, musim kemarau berpotensi berlangsung lebih lama sehingga risiko kekeringan maupun kebakaran hutan dan lahan ikut meningkat.
Berdasarkan pemantauan BMKG, persebaran hotspot kini hampir merata di seluruh wilayah Kalimantan Timur, mulai dari kawasan selatan hingga utara. Namun, jumlah terbanyak masih terkonsentrasi di wilayah tengah provinsi.
“Kabupaten Kutai Timur menjadi daerah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 27 titik, disusul Kutai Kartanegara sebanyak 15 titik,” jelasnya.
Selain itu, BMKG juga mendeteksi beberapa hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi atau kategori merah. Titik-titik tersebut berada di wilayah Berau dan kawasan Samboja berdasarkan hasil pemantauan pada Minggu (12/7) selama periode pukul 01.00 hingga 24.00 WITA.
Meski jumlah hotspot terus berubah setiap hari, Huda menyebut tren peningkatan mulai terlihat selama Juli. Secara umum, rata-rata hotspot yang terpantau di Kalimantan Timur kini telah mencapai lebih dari 50 titik per hari.
Perlu Verifikasi Lapangan
Namun demikian, ia menegaskan bahwa hotspot hanya merupakan indikator awal adanya suhu permukaan yang lebih tinggi dibandingkan wilayah di sekitarnya. Keberadaan hotspot belum dapat dipastikan sebagai kebakaran hutan dan lahan tanpa adanya pengecekan langsung di lapangan.
“Hotspot merupakan indikator awal yang menunjukkan adanya potensi. Untuk memastikan apakah benar terjadi kebakaran hutan dan lahan, diperlukan verifikasi lebih lanjut di lapangan,” katanya.
BMKG mengimbau masyarakat, khususnya yang beraktivitas di kawasan hutan, perkebunan, maupun lahan terbuka, agar tidak melakukan pembakaran dalam bentuk apa pun. Pencegahan sejak dini dinilai menjadi langkah paling efektif untuk mengurangi risiko terjadinya karhutla selama musim kemarau.
Selain itu, masyarakat juga diminta segera melaporkan apabila menemukan asap atau indikasi kebakaran kepada instansi terkait agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan tidak meluas.
Dengan puncak musim kemarau yang diperkirakan terjadi pada Agustus, BMKG berharap seluruh pihak, baik pemerintah daerah, perusahaan, maupun masyarakat, dapat meningkatkan kewaspadaan dan bersama-sama menjaga lingkungan agar terhindar dari ancaman kebakaran hutan dan lahan yang dapat menimbulkan dampak luas terhadap kesehatan, aktivitas masyarakat, dan kualitas lingkungan.***
Penulis: Samsul
Editor : Ramadani
BACA JUGA
