Dari Buruh Pelabuhan ke Kursi Wali Kota, Rahmad Mas’ud Kenang Perjuangan Hidupi Delapan Saudara

Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas'ud

BALIKPAPAN,Inibalikpapan.com — Suasana hangat dan penuh nostalgia terasa saat Wali Kota Rahmad Mas’ud menghadiri kegiatan bersama komunitas pelabuhan di Kota Balikpapan. 

Di hadapan para pekerja bongkar muat dan tokoh pelabuhan senior, Rahmad tidak tampil sebagai kepala daerah, melainkan sebagai bagian dari keluarga besar pelabuhan yang telah membesarkan hidupnya.

Rahmad mengaku memiliki ikatan emosional yang kuat dengan dunia pelabuhan. Bahkan, ia menyebut kehidupannya saat ini tidak bisa dipisahkan dari perjuangan keras yang pernah dijalaninya sebagai buruh pelabuhan sejak usia muda.

“Saya hadir di sini bukan merasa sebagai wali kota, bukan sebagai pejabat ataupun undangan. Saya hadir sebagai keluarga besar pelabuhan Kota Balikpapan,” ujarnya disambut tepuk tangan hadirin.

Rahmad menuturkan, pelabuhan menjadi saksi perjalanan hidupnya sejak usia 19 tahun. Setelah sang ayah meninggal dunia pada 1997, ia terpaksa menghentikan pendidikan di Sekolah Taruna Pelayaran BPLP Makassar demi membantu ibunya menghidupi keluarga.

Jadi Tulang Punggung

Saat itu, ia harus menjadi tulang punggung bagi tujuh saudara lainnya. Kondisi ekonomi keluarga membuatnya memilih bekerja di pelabuhan sebagai buruh bongkar muat untuk mempertahankan kehidupan.

“Saya tidak bisa berdiri di sini hari ini kalau bukan karena pelabuhan. Saya pernah tidur di pelabuhan, bekerja dari bawah, dan merasakan bagaimana sulitnya mempertahankan hidup,” katanya.

Ia juga mengenang sejumlah tokoh pelabuhan senior seperti Pak Sahat, Daeng Arsad, dan Pak Heru yang menjadi saksi perjuangannya pada masa-masa sulit. Menurut Rahmad, hubungan emosional dengan komunitas pelabuhan tidak akan pernah terputus, meski kini dirinya menjabat sebagai wali kota.

Cerita itu sekaligus menjadi refleksi perjalanan hidup seorang Rahmad Mas’ud yang tumbuh dari lingkungan pekerja pelabuhan hingga dipercaya memimpin Kota Balikpapan. Baginya, pengalaman hidup di pelabuhan membentuk karakter kerja keras, solidaritas, dan kepedulian terhadap masyarakat kecil.

Di akhir sambutannya, Rahmad menegaskan bahwa jabatan tidak boleh membuat seseorang melupakan akar perjuangannya. Ia berharap kebersamaan dan kekeluargaan di lingkungan pelabuhan tetap terjaga sebagai bagian penting dari sejarah pembangunan Balikpapan.

“Historis dan ikatan batin dengan pelabuhan ini tidak bisa dipisahkan. Di sinilah saya belajar tentang perjuangan hidup,” tuturnya.***

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses