Film ‘Ghost in The Cell’ Tembus 2,4 Juta Penonton, Masih Peringkat Satu Harian Bioskop Indonesia

Ghost in the Cell (instagram.com/jokoanwar)


BALIKPAPAN, inibalikpapan.com – Ghost in The Cell terus menunjukkan dominasinya di bioskop Indonesia. Film karya Joko Anwar ini telah menembus lebih dari 2,4 juta penonton dan masih menjadi film paling laris secara data harian Cinepoint per 2 Mei 2026.

Secara total, jumlah penontonnya telah mencapai sekitar 2.490.690 penonton sejak tayang perdana pada 16 April 2026.

Angka ini menjadi sinyal kuat bahwa film garapan Joko Anwar tersebut masih menjadi pilihan utama penonton, bahkan setelah lebih dari dua pekan tayang di layar lebar.

Dibandingkan film lain di daftar yang sama, selisih penonton Ghost in The Cell terlihat cukup signifikan. Film di posisi kedua hanya menambah sekitar 97 ribu penonton harian, sementara totalnya masih jauh di bawah capaian film ini.

Konsistensi penambahan penonton harian menjadi faktor penting yang menjaga posisi film ini tetap di puncak. Tambahan di atas 100 ribu penonton per hari menunjukkan minat yang belum menurun.

Dominasi ini juga memperlihatkan kuatnya daya tarik film horor lokal di pasar Indonesia, terutama yang dikemas dengan cerita berbeda dan intens.

Sejak awal penayangannya, Ghost in The Cell memang langsung mencuri perhatian dan terus mempertahankan momentum hingga memasuki awal Mei.

Sinopsis Ghost in the Cell

Mengutip IMDb, cerita film ini berpusat pada Dimas, seorang wartawan yang dijebloskan ke penjara setelah dituduh membunuh atasannya sendiri. Tuduhan itu muncul tak lama setelah ia mengungkap kasus kematian misterius para pekerja di hutan Kalimantan—yang diduga berkaitan dengan kepentingan besar.

Namun, teror sebenarnya baru mulai saat ia masuk ke Lapas Labuhan.

Di dalam penjara, Dimas harus menghadapi sistem yang penuh tekanan—mulai dari relasi kekuasaan antar narapidana hingga perlakuan aparat yang tidak selalu berpihak pada keadilan.

Situasi semakin mencekam ketika satu per satu napi tewas secara tidak wajar. Kematian misterius ini memicu ketakutan sekaligus kecurigaan di antara penghuni lapas.Isu supranatural pun muncul.

Ada dugaan bahwa sosok tak kasat mata mengincar mereka yang memiliki “energi negatif”. Para narapidana terpaksa bertahan dengan cara yang tidak biasa—bahkan harus berubah untuk tetap hidup.

Ketegangan terus meningkat ketika ancaman yang mereka hadapi tidak hanya berasal dari kekuatan misterius, tetapi juga dari sistem yang korup dan tidak adil.

Alur cerita yang penuh kejutan membuat film ini sulit tertebak. Joko Anwar memadukan horor, komedi gelap, dan sindiran sosial dalam satu narasi yang kuat.

“Film ini bisa merepresentasikan Indonesia,” kata Joko Anwar dalam konferensi pers di Jakarta awal April lalu.***

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses