Dari Mahulu hingga IKN: Hujan Dikabarkan Mulai Turun di Sejumlah Wilayah, Dampak Modifikasi Cuaca?
NUSANTARA, inibalikpapan.com — Hujan mulai mengguyur sejumlah wilayah di Kalimantan Timur setelah hampir dua pekan wilayah tersebut mengalami kondisi tanpa hujan. Di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN), kenaikan muka air Sungai Sepaku juga mulai terpantau.
Kondisi tersebut terjadi di tengah pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dari Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kegiatan juga melibatkan TNI Angkatan Udara, BPBD, serta sejumlah instansi terkait.
OMC untuk mengantisipasi dampak musim kering dan El Niño. Terutama terhadap ketersediaan air serta potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah IKN dan sekitarnya.
Operasi berlangsung sejak Jumat (21/8/2026) hingga Senin (24/8/2026). Hingga Senin pukul 10.00 WITA, sebanyak lima sortie penerbangan telah dilakukan. Ini menggunakan pesawat Casa 212 A-2105 dari Markas Operasi Lanud Dhomber, Balikpapan.
Dalam setiap sortie, pesawat membawa sekitar 800 kilogram bahan semai berupa natrium klorida (NaCl). Untuk disebarkan pada awan yang dinilai memiliki potensi menghasilkan hujan.
Staf Khusus Kepala Otorita IKN Bidang Manajemen dan Strategi Konstruksi, Danis Hidayat Sumadilaga, mengatakan modifikasi cuaca dilakukan untuk menambah volume air permukaan di wilayah IKN dan sekitarnya.
“Saat ini kita mengalami musim kering, dampak dari terjadinya El Nino. Bukan hanya di Kaltim, tetapi di seluruh Indonesia, bahkan di seluruh dunia,” ujar Danis.
Menurut dia, salah satu dampak yang perlu pihaknya antisipasi adalah berkurangnya ketersediaan air. Karena itu, OMC menjadi salah satu upaya untuk menjaga ketersediaan air permukaan.
Sangat Bergantung Keberadaan Awan
Kepala Stasiun Meteorologi SAMS Sepinggan/BMKG, Djoko Sumardiono, mengatakan keberhasilan OMC sangat bergantung pada keberadaan awan potensial.
Pemantauan terhadap pertumbuhan awan, arah dan kecepatan angin, serta waktu penyemaian menjadi faktor penting dalam menentukan pelaksanaan operasi.
Djoko mengatakan Kalimantan Timur telah mengalami hampir dua pekan tanpa hujan. Pada musim kemarau dengan kondisi awan yang terbatas, tingkat keberhasilan OMC secara historis berada di sekitar 30 persen.
Dari Mahulu hingga IKN
Meski demikian, hujan mulai tercatat di sejumlah wilayah selama pelaksanaan OMC. Pos Curah Hujan Long Lebusan di wilayah Hulu WS Mahakam mencatat hujan di Kabupaten Mahakam Ulu pada Sabtu (22/8/2026) pukul 02.00–02.30 WITA dengan curah hujan sekitar 20 milimeter. Hujan juga dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah sekitar Kutai Kartanegara.
Di kawasan IKN, muka air pada intake Sungai Sepaku yang menjadi salah satu sumber air baku mengalami kenaikan. Pada pukul 08.20 WITA, elevasi air meningkat dari +2,04 meter menjadi +2,05 meter atau bertambah sekitar satu sentimeter.
Kondisi hujan dan kenaikan muka air tersebut menjadi perkembangan yang dipantau di tengah upaya menjaga ketersediaan air di kawasan IKN.
Di sisi lain, potensi karhutla masih menjadi perhatian. Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Kalimantan Timur, Buyung Dodi Gunawan, mengatakan sepanjang Agustus telah tercatat 273 titik kejadian kebakaran lahan dengan luas sekitar 752 hektare berdasarkan data yang diterima BPBD.
“Penanganan tetap dilakukan, termasuk upaya preventif dan edukasi kepada masyarakat,” kata Buyung.
OIKN bersama BMKG, TNI AU, BPBD, dan instansi terkait masih memantau perkembangan cuaca, potensi awan hujan, serta kondisi hidrologis di kawasan IKN dan sekitarnya.
Pelaksanaan OMC berikutnya akan disesuaikan dengan dinamika atmosfer dan ketersediaan awan yang memenuhi kriteria untuk dilakukan penyemaian.***
Penulis: Donny M.
Sumber: Otorita IKN
Editor: Donny
BACA JUGA
