Gelombang Aksi Protes Mulai Bermunculan, BEM UI Desak Hentikan MBG-Kopdes dan Evaluasi PSN

Iring-iringan massa aksi dari mahasiswa Universitas Indonesia (UI) sempat tertahan saat hendak memasuki Jalan RM Margono Djojohadikoesomo atau di depan Graha BNI. (Suara.com/Alif)

JAKARTA, inibalikpapan.com – Gelombang aksi massa mulai bermunculan di sejumlah titik, salah satunya di Jakarta. Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) menggelar aksi unjuk rasa di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Selasa (18/8/2026).

Pergerakan massa mahasiswa menuju titik aksi sempat tertahan setelah kendaraan yang mereka gunakan diblokade polisi di Jalan RM Margono Djojohadikoesoemo, tepatnya di depan Graha BNI.

Sejumlah polisi lalu lintas terlihat memasang barrier untuk menutup akses kendaraan yang ditumpangi massa menuju Jalan Sudirman. Sempat terjadi gesekan kecil ketika mahasiswa berupaya membawa kendaraan mereka memasuki ruas jalan tersebut.

Polisi menyebut penutupan dilakukan karena telah menyiapkan lokasi parkir khusus bagi kendaraan peserta aksi. Massa kemudian melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki atau long march menuju Bundaran HI.

BEM UI Beralih dari Kopaja ke Angkot

Aksi kali ini juga diwarnai perubahan moda transportasi. Jika pada aksi sebelumnya BEM UI menggunakan kopaja, kali ini mahasiswa berangkat menggunakan angkot.

Koordinator Bidang Sosial dan Politik BEM UI, Hafidz Haernanda, mengatakan keputusan tersebut diambil setelah pihaknya mengetahui adanya dugaan intimidasi terhadap sopir kopaja.

Padahal, BEM UI sebelumnya berencana mencarter 24 bus kopaja untuk kebutuhan transportasi massa aksi.

“Tapi sayangnya, betul ada kopaja-kopaja kami yang sayangnya banyak sekali dikooptasi-kooptasi dengan berbagai macam institusi,” tutur Hafidz kepada awak media pada Selasa (18/8/2026).

Hafidz mengatakan para sopir kopaja diduga mendapat larangan mengangkut mahasiswa yang hendak mengikuti aksi. Ia juga menyebut larangan tersebut disertai dugaan ancaman pemecatan kepada sopir.

“Kami tidak menyalahkan driver-driver tersebut. Karena mereka hidup di sebuah sistem di mana yang mengakibatkan mereka harus bekerja seperti ini,” kata dia.

Menurut Hafidz, kampus-kampus lain yang hendak mencarter angkutan untuk kebutuhan aksi juga mengalami tindakan serupa.

Bawa Delapan Tuntutan

Dalam aksi tersebut, BEM UI membawa delapan tuntutan yang mencakup sejumlah persoalan nasional.

Mahasiswa menuntut penghentian korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), reforma agraria, penurunan harga kebutuhan pokok dan BBM, hingga evaluasi total Proyek Strategis Nasional (PSN).

Mereka juga menyerukan penghentian program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), menolak pemusatan kekuasaan dan pemangkasan Transfer ke Daerah (TKD), serta meminta pengembalian otonomi daerah.

Selain itu, BEM UI meminta pemerintah menetapkan status bencana nasional untuk daerah Sumatra dan Flores serta mempercepat pemulihan wilayah terdampak bencana.

Tuntutan lainnya berkaitan dengan penghentian tindakan represif dan intervensi TNI-Polri dalam ruang sipil serta pembubaran YON TP.

Meski sempat tertahan di perjalanan, massa BEM UI akhirnya tetap bergerak menuju Bundaran HI dengan berjalan kaki untuk menyampaikan aspirasi mereka.***

Penulis: Donny M.

Sumber: Suara.com

Editor: Donny

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses