Desa Kahala Wakili Kaltim di Penilaian Nasional Stunting, Andalkan Inovasi Pangan Lokal
SAMARINDA, Inibalikpapan.com – Upaya Desa Kahala, Kecamatan Kenohan, Kabupaten Kutai Kartanegara, dalam mencegah dan mempercepat penurunan stunting membawa desa tersebut melangkah ke tingkat nasional.
Dikutip dari laman Pemprov, Desa Kahala kini mewakili Provinsi Kalimantan Timur dalam Penilaian Desa Berkinerja Baik dalam Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting Tingkat Nasional 2026.
Tahapan penilaian dilakukan melalui wawancara dan pemaparan praktik baik secara virtual dari Aula Desa Mandiri DPMPD Provinsi Kalimantan Timur, Selasa (15/9/2026).
Kepala Desa Kahala, Mahlan., memaparkan berbagai program dan inovasi yang dijalankan pemerintah desa bersama tenaga kesehatan, kader Posyandu, TP PKK, pendamping desa hingga masyarakat.
Anggaran Stunting Desa Kahala Naik
Komitmen tersebut diperkuat melalui Peraturan Desa Kahala Nomor 4 Tahun 2024 tentang Inovasi Percepatan Pencegahan dan Penanganan Stunting.
Dukungan anggaran juga meningkat. Pada 2025, Desa Kahala mengalokasikan Rp104,98 juta untuk program pencegahan dan penanganan stunting.
Anggaran tersebut meningkat menjadi Rp114,93 juta pada 2026.
Kebijakan itu berjalan beriringan dengan penguatan konvergensi program di tingkat desa. Pemantauan dilakukan terhadap anak usia 0–59 bulan, pemeriksaan ibu hamil, pemberian tablet tambah darah bagi remaja putri hingga pendampingan keluarga yang berisiko mengalami stunting.
Andalkan Ikan Sungai untuk Pangan Bergizi
Salah satu inovasi yang menjadi bagian dari paparan Kahala adalah “Kahala CERIA”, akronim dari Keluarga Kahala Cegah Stunting, Ibu dan Anak Sehat Bahagia.
Program tersebut memanfaatkan potensi lokal, termasuk ikan sungai sebagai salah satu sumber makanan tambahan bergizi.
Kahala CERIA kemudian dikembangkan melalui Dapur Sehat Desa serta Program Seluang atau Sentuhan Kasih untuk Keluarga Kurang Gizi.
Pelayanan juga diperkuat melalui Posyandu Gembira Ramah Anak dan Posyandu Kawasan, yang memberikan edukasi, pemantauan tumbuh kembang dan pendampingan kepada keluarga sasaran.
Data Keluarga Sasaran Dipantau
Selain intervensi langsung, Desa Kahala memperkuat pendataan keluarga sasaran.
Kader Pembangunan Manusia (KPM) melakukan pendataan dan pemantauan melalui aplikasi eHDW, kemudian mengonsolidasikan data bersama pemerintah desa dan tenaga kesehatan.
Data tersebut menjadi dasar untuk menentukan langkah penanganan terhadap keluarga yang membutuhkan pendampingan.
Tujuh Variabel Jadi Penilaian Nasional
Dalam penilaian tingkat nasional, Tim Penilai Pusat dari Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal menggali pelaksanaan program dan inovasi Desa Kahala melalui sesi wawancara dan tanya jawab.
Penilaian mencakup tujuh variabel, yakni:
- Pelaksanaan Pramusrenbang Tematik Stunting atau Rembuk Stunting tingkat desa.
- Pelaksanaan konvergensi Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting (P3S).
- Kinerja Kader Pembangunan Manusia.
- Komitmen pemerintah desa.
- Pembinaan pelaku kelembagaan P3S.
- Monitoring dan evaluasi konvergensi P3S.
- Inovasi desa.
Kegiatan tersebut turut diikuti Tim Penilai Desa Berkinerja Baik Provinsi Kaltim, DPMD Kutai Kartanegara, Bappeda, Dinas Kesehatan, Kecamatan Kenohan, jajaran Pemerintah Desa Kahala, TP PKK, TP3S, Tenaga Ahli P3MD, KPM Stunting, tenaga kesehatan dan kader Posyandu.
Kepala DPMPD Kaltim Siti Sugiyanti beserta jajaran juga mengikuti proses penilaian tersebut.
Siti menyampaikan dukungan terhadap Desa Kahala yang membawa nama Kalimantan Timur dalam tahapan penilaian nasional.
Menurutnya, keterlibatan berbagai unsur dalam proses tersebut menunjukkan bahwa pencegahan stunting tidak dapat hanya mengandalkan sektor kesehatan, tetapi membutuhkan kolaborasi pemerintah, kader dan masyarakat secara berkelanjutan.
Bagi Desa Kahala, keikutsertaan dalam penilaian nasional menjadi kesempatan untuk menunjukkan praktik baik yang telah dikembangkan di tingkat desa.
Program pencegahan stunting di Kahala pun tidak hanya diarahkan pada penanganan masalah gizi, tetapi mulai diintegrasikan dengan kebijakan desa, pemberdayaan masyarakat dan pemanfaatan potensi pangan lokal.
Editor : Abraham Johan
BACA JUGA
