Dihadapan Pengusaha, Gubernur Kaltim : Jangan Seperti Ayam, Jadilah Penyu
NUSANTARA, Inibalikpapan.com – “Jangan seperti ayam, tapi jadilah penyu.” Seruan Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud itu menjadi pesan paling menohok dalam Kaltim Leader Forum 2026 di Ibu Kota Nusantara (IKN), Sabtu (29/8/2026).
Di hadapan ratusan pengusaha Benua Etam, Rudy tidak sekadar berbicara tentang bagaimana menjadi pemimpin. Ia mengingatkan bahwa kepemimpinan tidak ditentukan oleh bakat, jabatan, apalagi keturunan, melainkan dibentuk oleh keberanian, tanggung jawab, ilmu pengetahuan dan kesediaan menjalani proses.
Rudy menyebut setidaknya ada tiga syarat utama yang wajib dimiliki seorang leader: berani tampil, berani bertanggung jawab dan berani mengambil risiko.
“Kalau tiga syarat ini tidak Anda miliki, maka Anda tidak cocok jadi leader. Cocoknya jadi follower saja, jadi staf,” kata Rudy kepada peserta forum yang mayoritas merupakan anggota Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kaltim, dikutip dari akun instagram Pemprov.
Ayam Berisik, Penyu Bekerja dalam Senyap
Rudy kemudian melontarkan analogi yang langsung mengena kepada para pelaku usaha.
Menurutnya, pemimpin tidak perlu sibuk membangun kesan seolah-olah telah menghasilkan sesuatu. Yang jauh lebih penting adalah hasil nyata.
Ia menggambarkan ayam yang berisik ketika hendak bertelur, sementara penyu justru bekerja dalam senyap dan mampu menghasilkan puluhan bahkan ratusan telur.
“Jangan seperti ayam, tapi jadilah penyu,” seru Rudy.
Pesan itu menjadi kritik terhadap mentalitas yang lebih mengutamakan suara daripada karya. Bagi Rudy, seorang pemimpin dan pengusaha harus mampu menunjukkan hasil, bukan sekadar banyak bicara.
Jangan Jadi Ikan Hiu dalam Akuarium
Rudy juga menggunakan analogi ikan hiu untuk menggambarkan pentingnya keberanian keluar dari zona nyaman.
“Ikan hiu tidak akan besar kalau hidup hanya di dalam akuarium. Dia perlu samudera luas untuk menjadi besar,” katanya.
Bagi para pengusaha, “samudera” itu adalah keberanian memperluas jaringan, membuka peluang, membangun kolaborasi dan menghadapi persaingan.
Rudy mengingatkan bahwa seorang leader tidak mungkin berkembang jika hanya berjalan sendiri. Dalam dunia bisnis, koneksi dan kolaborasi menjadi bagian penting untuk mempertemukan berbagai kepentingan dan menciptakan peluang.
Pemimpin Tidak Lahir Secara Instan
Rudy menekankan, kesuksesan tidak pernah datang secara tiba-tiba.
Bakat memang penting, tetapi bakat tanpa ilmu dan proses tidak cukup untuk membentuk seorang pemimpin yang kuat.
“Kalau bakat ini dipadupadankan dengan ilmu pengetahuan, maka akan tercipta seni memimpin yang luar biasa. Harus lewat proses, tidak bisa instan,” tegasnya.
Karena itu, keberanian mengambil risiko harus berjalan bersama kemampuan membaca situasi dan pengetahuan yang terus diperbarui.
“Problem Is Opportunity”
Rudy juga meminta para pengusaha tidak melihat persoalan hanya sebagai hambatan.
Sebaliknya, masalah harus dibaca sebagai peluang untuk menciptakan solusi dan membuka ruang usaha baru.
“Problem is opportunity,” katanya.
Cara berpikir tersebut, menurut Rudy, penting bagi seorang pemimpin. Tantangan tidak boleh membuat seseorang berhenti, tetapi harus menjadi pemicu untuk mencari jalan keluar dan menciptakan terobosan.
Mimpi Memimpin Kaltim Terwujud Setelah 26 Tahun
Rudy kemudian membuka kisah perjalanan pribadinya.
Ia mengaku telah memiliki mimpi untuk memimpin Kaltim sejak berusia 20 tahun, ketika mulai menekuni dunia bisnis.
“Kalau saya memang punya mimpi. Mimpi saya waktu itu, suatu saat saya akan memimpin Kaltim. Alhamdulillah, setelah 26 tahun, hari ini saya berdiri di sini sebagai Gubernur Kaltim. Semua butuh proses,” ujarnya.
Pernyataan tersebut disambut aplaus hadirin.
Di hadapan para pengusaha, Rudy seolah ingin menegaskan satu hal: pemimpin bukan mereka yang paling ramai berbicara, tetapi mereka yang berani masuk ke “samudera”, menghadapi risiko, bekerja dalam senyap, dan akhirnya membuktikan hasil.
Kaltim Leader Forum 2026 turut dihadiri Anggota Komisi VI DPR RI Hj Sarifah Suraidah Harum, Ketua Kadin Kaltim Putri Amanda Nurramadhani, serta CEO sekaligus Co-Founder CIAS Indrawan Nugroho.
Editor : Abraham Johan
BACA JUGA
