DPR Ingatkan Hujan Buatan Tak Bisa Asal Semai Awan: Bisa Jadi Pemborosan Anggaran
TANGERANG SELATAN, Inibalikpapan.com – Teknologi modifikasi cuaca (TMC) untuk menciptakan hujan buatan tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Keberadaan awan yang memiliki kandungan air harus dipastikan terlebih dahulu agar penyemaian tepat sasaran dan anggaran yang dikeluarkan tidak sia-sia.
Peringatan itu disampaikan Anggota Komisi V DPR RI Hamka B. Kady di tengah ancaman El Nino berkepanjangan yang berpotensi memperpanjang periode kekeringan di sejumlah wilayah Indonesia.
Hamka mengatakan pelaksanaan TMC harus diawali survei dan analisis oleh tenaga ahli untuk menentukan lokasi awan yang memenuhi syarat untuk disemai.
“BMKG sudah menyampaikan kepada kita bahwa El Nino ini kemungkinan panjang. Bahkan, bisa sampai tahun berikutnya dan baru selesai awal Januari 2027. Tetapi, di beberapa daerah mungkin pertengahan bulan depan sudah ada sebagian yang bisa,” ujar Hamka, dikutip dari laman DPR.
Tak Ada Awan Mengandung Air, Hujan Buatan Tak Bisa Dilakukan
Menurut Hamka, tantangan utama dalam teknologi modifikasi cuaca bukan sekadar menemukan awan, melainkan memastikan awan tersebut memiliki kandungan air yang memungkinkan untuk disemai.
Karena itu, permintaan untuk melakukan hujan buatan tidak dapat langsung diterjemahkan menjadi operasi penyemaian awan.
“Persoalannya sekarang, masalah penyemaian atau menciptakan hujan buatan itu tidak mudah. Harus dilihat dulu di mana kumpulan awan yang mengandung hujan, kemudian diteliti,” jelasnya.
Ia menjelaskan, tenaga ahli harus menganalisis kondisi awan terlebih dahulu. Jika kandungan air memenuhi syarat, barulah pesawat dapat digunakan untuk menaburkan bahan penyemai ke dalam awan tersebut.
“Yang penting dilihat dulu, dianalisis dulu, awan-awan ini mengandung air atau tidak. Kalau itu mengandung air, teknologi yang kemudian dipakai adalah menerbangkan itu di atas awan untuk menyemai, sehingga menciptakan hujan,” terangnya.
Hamka menegaskan keberadaan awan semata tidak cukup. Jika awan tidak mengandung unsur air, proses penyemaian tidak akan efektif.
“Kalau awannya tidak ada yang mengandung unsur air, bagaimana mungkin? Secara teknologi itu tidak bisa. Itu yang pasti. Tidak sembarang juga harus minta kepada BMKG, minta hujan buatan. Tidak mudah,” tegasnya.
Sekali Operasi Bisa Habiskan Miliaran Rupiah
Hamka juga menyoroti aspek biaya. Menurut dia, pelaksanaan TMC membutuhkan anggaran besar sehingga setiap operasi harus didasarkan pada perhitungan yang matang.
Jangan sampai pesawat dikerahkan dan bahan penyemai ditebar, tetapi awan yang menjadi sasaran ternyata tidak memiliki kandungan air yang cukup.
“Harus disurvei dulu, awan mana yang mengandung air. Bayangkan berapa biayanya, miliaran satu kali penaburan itu. Kalau tidak dapat air, bagaimana? Itu membuang-buang uang,” katanya.
Karena itu, survei oleh tenaga ahli menjadi tahapan yang tidak boleh dilewati. Hasil analisis tersebut menjadi dasar untuk menentukan apakah operasi modifikasi cuaca layak dilakukan atau tidak.
“Tidak mudah. Survei pertama melihat dulu, ahlinya melihat. Oh, ini ada awan mengandung hujan, oke, dilanjutkan. Itu kuncinya,” tutup Hamka.
Peringatan tersebut menjadi penting di tengah ancaman El Nino yang berpotensi memperpanjang periode kering. Pemerintah dituntut tidak hanya meningkatkan intensitas operasi modifikasi cuaca, tetapi juga memastikan setiap operasi berbasis data dan kondisi atmosfer yang memungkinkan.
Dengan demikian, teknologi hujan buatan tidak berhenti sebagai respons darurat, tetapi benar-benar menghasilkan manfaat sesuai tujuan tanpa mengorbankan efektivitas penggunaan anggaran negara.
Editor : Abraham Johan
BACA JUGA
