Kemarau Kaltim Picu Kasus ISPA Naik hingga 20 Persen, Balikpapan Tertinggi 66.468 Kasus

Kepala Dinkes Provinsi Kaltim Jaya Mualimin (foto : Pemprov)
Kepala Dinkes Provinsi Kaltim Jaya Mualimin (foto : Pemprov)

SAMARINDA, Inibalikpapan.com – Musim kemarau mulai berdampak pada kesehatan masyarakat di Kalimantan Timur (Kaltim). Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim mencatat adanya peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di sejumlah kabupaten/kota seiring kondisi cuaca yang kering dan berangin.

Peningkatan kasus ISPA tersebut diperkirakan berkaitan dengan meningkatnya paparan debu yang lebih mudah beterbangan selama musim kemarau.

Kepala Dinkes Kaltim Jaya Mualimin mengatakan, kasus ISPA di sejumlah daerah mengalami peningkatan sekitar 10–20 persen.

“ Kami terus mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau. Paparan debu perlu diantisipasi, terutama oleh anak-anak dan kelompok yang rentan mengalami gangguan pernapasan. Langkah sederhana seperti menggunakan masker saat beraktivitas di luar dapat membantu mengurangi risikonya,” ujarnya, dikutip dari laman Pemprov.

Balikpapan Catat 66.468 Kasus ISPA

Berdasarkan data Dinkes Kaltim sejak Januari 2026, sejumlah daerah mencatat kasus ISPA dalam jumlah cukup tinggi.

Balikpapan menjadi daerah dengan jumlah kasus tertinggi, yakni mencapai 66.468 kasus. Berikutnya Samarinda sebanyak 48.230 kasus, Kutai Kartanegara (Kukar) 29.153 kasus, dan Kutai Barat (Kubar) sebanyak 7.562 kasus.

Data tersebut menjadi perhatian pemerintah di tengah kondisi kemarau yang masih berlangsung di sejumlah wilayah Kaltim.

Jaya menjelaskan, meningkatnya kekeringan membuat debu lebih mudah beterbangan. Kondisi tersebut semakin berisiko ketika disertai angin yang cukup kencang.

“Musim kemarau menyebabkan tingkat kekeringan meningkat. Kondisi tersebut, ditambah dengan angin yang cukup kencang, membuat debu lebih mudah beterbangan dan berpotensi mengganggu saluran pernapasan,” jelasnya.

Anak-anak Jadi Kelompok yang Perlu Diwaspadai

Paparan debu menjadi salah satu faktor yang perlu diantisipasi masyarakat selama musim kemarau. Anak-anak termasuk kelompok yang mendapat perhatian karena lebih rentan mengalami gangguan kesehatan akibat kondisi lingkungan.

Karena itu, Dinkes Kaltim meminta masyarakat tidak mengabaikan perlindungan diri, khususnya ketika melakukan aktivitas di luar rumah.

Penggunaan masker menjadi salah satu langkah sederhana yang dianjurkan, terutama bagi masyarakat yang beraktivitas di lokasi dengan tingkat paparan debu tinggi.

Selain itu, masyarakat diminta memperhatikan kondisi kesehatan masing-masing. Jika mulai mengalami keluhan atau gejala gangguan pernapasan, masyarakat dianjurkan segera memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan.

Dinkes Kaltim Perkuat Pemantauan

Jaya mengatakan Dinkes Kaltim bersama jajaran kesehatan di kabupaten/kota terus memantau kondisi kesehatan masyarakat sekaligus mendorong langkah pencegahan.

“Dinas Kesehatan bersama jajaran di daerah terus memantau kondisi kesehatan masyarakat dan mendorong langkah pencegahan. Kami berharap masyarakat turut menjaga kesehatan dan segera memanfaatkan layanan kesehatan apabila mengalami keluhan pada saluran pernapasan,” imbuhnya.

Peningkatan kasus ISPA menjadi pengingat bahwa dampak musim kemarau tidak hanya berkaitan dengan kekeringan dan ketersediaan air. Kualitas udara akibat debu juga menjadi ancaman kesehatan yang perlu diantisipasi.

Pemprov Kaltim pun mendorong masyarakat memperkuat langkah preventif agar tetap sehat dan produktif selama musim kemarau.

Editor : Abraham Johan

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses