GEMPITA Balikpapan Jadi Pilar Penjaga Toleransi Kota

Pemerintah Kota Balikpapan melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) dengan membentuk GEMPITA (Gerakan Pemuda Pelopor Toleransi dan Anti Ekstremisme).
Peserta mengikuti Bimbingan Teknis Agen GEMPITA di Ruang Rapat 1 Balai Kota Balikpapan, Sabtu (5/9). Foto: Ist

BALIKPAPAN, inibalikpapan.com — Menjaga toleransi dengan beragam latar belakang tidak cukup hanya mengandalkan aturan. Dibutuhkan pula keterlibatan warga, terutama generasi muda, yang setiap hari bersentuhan dengan berbagai perbedaan di lingkungan sosial maupun ruang digital.

Kesadaran itulah yang coba dibangun Pemerintah Kota Balikpapan melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) dengan membentuk GEMPITA (Gerakan Pemuda Pelopor Toleransi dan Anti Ekstremisme).

Program tersebut menempatkan pemuda bukan sekadar sebagai penerima informasi, melainkan sebagai pelopor yang diharapkan mampu menjaga suasana kebersamaan sekaligus mencegah berkembangnya intoleransi dan paham ekstremisme di lingkungan masing-masing.

GEMPITA terbentuk Jumat (4/9/2026) di Ruang Rapat Badan Kesbangpol Kota Balikpapan.Hari ini dilanjutkan dengan bimbingan teknis bagi agen GEMPITA pada Sabtu (5/9/2026) di Ruang Rapat 1 Balai Kota Balikpapan.

Kepala Kesbangpol Kota Balikpapan Elyzabeth E.R.L. Toruan mengatakan kehadiran GEMPITA menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan sosial masyarakat. Di tengah keberagaman suku, budaya, keyakinan, pilihan dan pandangan, ruang dialog menjadi penting agar perbedaan tidak berkembang menjadi prasangka maupun konflik.

Pemuda dinilai memiliki posisi strategis dalam upaya tersebut. Mereka hidup di tengah lingkungan sekolah, kampus, organisasi kepemudaan, komunitas, hingga media sosial.

“Karena itu, pemuda memiliki peluang besar untuk menyebarkan pesan toleransi sekaligus menjadi bagian awal dalam menangkal narasi yang berpotensi memecah persatuan,” kata Kepala Kesbangpol Balikpapan saat sambutan yang disampaikan Sekretaris Dian Wesasa.

Melalui GEMPITA, para pemuda diharapkan mampu mengenali potensi intoleransi, menyikapi informasi secara kritis, menolak narasi ekstremisme, serta mengajak kelompok sebaya menyelesaikan perbedaan melalui komunikasi dan dialog.

Cinta yang Tidak Berisik

Pada akhirnya, toleransi adalah bentuk cinta yang paling sederhana kepada sebuah kota. Ia tidak selalu hadir dalam kata-kata besar, tetapi terlihat dari kesediaan untuk menghormati orang lain.

Mencintai Balikpapan bukan hanya tentang menjaga lingkungan, merawat fasilitas publik, atau membanggakan kemajuan kota. Lebih dari itu, cinta kepada kota berarti ikut menjaga rasa aman orang-orang yang hidup di dalamnya.

Perbedaan tidak harus dihapus agar masyarakat dapat hidup berdampingan. Sebaliknya, perbedaan perlu diberi ruang untuk hadir tanpa berubah menjadi alasan untuk saling merendahkan.

Di titik itulah pemuda memiliki peran penting. Mereka dapat menjadi jembatan ketika perbedaan mulai menciptakan jarak, sekaligus menjadi pengingat bahwa keberagaman merupakan bagian dari kehidupan bersama.

GEMPITA pada akhirnya bukan hanya tentang sebuah struktur atau program pemerintah. Ia merupakan investasi sosial untuk menjaga masa depan Balikpapan.

Sebab, kota yang nyaman tidak hanya dibangun melalui jalan, gedung, dan berbagai fasilitas. Kota juga dibangun melalui kepercayaan, persaudaraan, dan kemampuan warganya untuk saling menghargai.

Ketika pemuda memilih menjadi penjaga toleransi, mereka sedang menjaga sesuatu yang lebih besar: rumah bersama bernama Balikpapan.

Dan cinta kepada kota, barangkali, memang tidak harus berisik. Cukup dengan tidak membiarkan perbedaan menjadi alasan untuk saling melukai.***

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses