Guru BK Tak Lagi “Polisi Sekolah”, Hetifah Tekankan Pendekatan Humanis
BALIKPAPAN,Inibalikpapan.com — Peran guru Bimbingan dan Konseling (BK) di sekolah kini mengalami perubahan besar seiring berkembangnya tantangan sosial dan digital yang dihadapi generasi muda.
Sekolah tidak lagi hanya menjadi tempat mengejar prestasi akademik, tetapi juga dituntut menjadi ruang aman yang menjaga kesehatan mental peserta didik.
Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, menilai transformasi peran guru BK menjadi kebutuhan mendesak di tengah meningkatnya persoalan perundungan, tekanan media sosial, hingga kecanduan gawai yang memengaruhi kondisi psikologis anak dan remaja.

Menurut Hetifah, paradigma lama yang menempatkan guru BK sebagai “polisi sekolah” sudah tidak relevan dengan tantangan pendidikan saat ini. Guru BK harus hadir sebagai pendamping dan fasilitator yang membantu siswa memahami emosi, mengelola tekanan sosial, hingga menghadapi persoalan keluarga yang berdampak pada proses belajar.
“Sekolah hari ini tidak cukup hanya mengejar capaian akademik. Anak-anak juga membutuhkan ruang aman untuk bercerita, didengar, dan dibimbing agar tumbuh sehat secara mental maupun karakter,” ujarnya, Minggu (3/5/2026) disela-sela kegiatan Workshop Pendidikan, Ballroom Hotel Novotel Balikpapan.
Ia menilai stigma negatif terhadap ruang BK perlu dihilangkan. Selama ini, banyak siswa merasa takut dipanggil ke ruang konseling karena identik dengan hukuman atau pelanggaran disiplin. Padahal, fungsi utama BK seharusnya menjadi tempat pendampingan dan penguatan psikologis siswa.
Hetifah juga menyoroti pentingnya perubahan pendekatan disiplin di sekolah. Bentakan, tekanan verbal, maupun hukuman fisik dinilai tidak lagi efektif dan justru dapat meninggalkan dampak emosional jangka panjang bagi anak.
“Kekerasan bukan hanya soal fisik. Tekanan psikologis, pengabaian emosi anak, atau lingkungan yang tidak memberi ruang dialog juga bisa berdampak serius terhadap kesehatan mental siswa,” katanya.
Menurutnya, meningkatnya keberanian generasi muda membicarakan isu kesehatan mental justru menjadi tanda positif bahwa kesadaran dan literasi psikologis mulai tumbuh di kalangan pelajar.
Di sisi lain, tekanan terhadap anak sering kali datang dari lingkungan terdekat, baik sekolah maupun keluarga. Target akademik yang terlalu tinggi tanpa komunikasi sehat menjadi salah satu pemicu utama stres pada peserta didik.

Karena itu, Hetifah menekankan pentingnya membangun ekosistem pendidikan yang lebih manusiawi melalui kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan pemerintah daerah. Dengan pendekatan tersebut, persoalan sosial maupun psikologis siswa dapat dideteksi lebih dini sebelum berkembang menjadi krisis.
Kota Balikpapan dinilai memiliki peluang besar menjadi pelopor penguatan sistem BK di Kalimantan Timur, termasuk sebagai rujukan bagi wilayah penyangga seperti Penajam Paser Utara.
Sebagai kota penyangga utama Ibu Kota Nusantara (IKN), Balikpapan disebut tidak hanya perlu menyiapkan infrastruktur fisik, tetapi juga kualitas sumber daya manusia yang sehat secara mental dan sosial.
“Pendidikan masa kini bukan hanya mencetak anak dengan nilai tinggi, tetapi membangun generasi yang tangguh, sehat mentalnya, dan merasa aman menjadi dirinya sendiri,” tutup Hetifah.***
BACA JUGA
