Hotspot Karhutla Kalsel Tersisa 5 Titik, Kalteng dan Kalbar Masih Mengkhawatirkan

Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) menempuh langkah tegas dalam penegakan hukum sebagai bagian dari pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Nusantara
Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) menempuh langkah tegas dalam penegakan hukum sebagai bagian dari pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Nusantara (foto : Humas IKN)

JAKARTA, Inibalikpapan.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan (Sumsel) kembali mengkhawatirkan. Hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) di provinsi tersebut melonjak dari 123 menjadi 184 titik dalam sehari.

Lonjakan hotspot itu terjadi ketika dampak kabut asap mulai mengganggu aktivitas penerbangan di Palembang. Pada Kamis (17/9/2026) pagi, jarak pandang di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II sempat anjlok hingga sekitar 700 meter.

Kondisi tersebut membuat empat penerbangan yang hendak mendarat harus melakukan holding dan mengalami keterlambatan. Jarak pandang kemudian berangsur membaik setelah pukul 08.00 WIB.

Data tersebut disampaikan Kementerian Kehutanan dalam perkembangan terbaru pengendalian karhutla nasional, Jumat (18/9/2026).

Secara nasional, jumlah hotspot high confidence hingga Kamis (17/9) pukul 21.05 WIB tercatat 475 titik, turun tipis dibandingkan 479 titik sehari sebelumnya.

Namun, penurunan nasional itu tidak menggambarkan kondisi di seluruh wilayah. Sumatera Selatan justru mengalami lonjakan paling signifikan di antara enam provinsi prioritas.

Hotspot Sumsel Tertinggi di Enam Provinsi Prioritas

Berdasarkan data SiPongi Kementerian Kehutanan yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP dan NOAA-20, hotspot high confidence di enam provinsi prioritas tercatat:

  • Sumatera Selatan: 184 titik, naik dari 123 titik.
  • Kalimantan Tengah: 61 titik, turun dari 102 titik.
  • Kalimantan Barat: 30 titik, naik dari 21 titik.
  • Jambi: 15 titik, naik dari 12 titik.
  • Kalimantan Selatan: 5 titik, turun dari 11 titik.
  • Riau: 0 titik, turun dari 11 titik.

Dengan 184 titik, Sumsel menjadi provinsi dengan hotspot high confidence terbanyak di antara enam wilayah prioritas.

Kementerian Kehutanan menyatakan patroli, groundcheck, pemadaman, penyekatan penjalaran api, pembasahan hingga pendinginan terus diperkuat di wilayah tersebut.

Kabut Asap Mulai Ganggu Penerbangan

Dampak karhutla juga mulai terasa pada aktivitas transportasi udara.

Jarak pandang di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang sempat turun hingga sekitar 700 meter pada pagi hari. Empat penerbangan yang akan mendarat harus melakukan holding akibat kondisi tersebut.

Di Kalimantan Barat, kondisi serupa juga masih perlu diwaspadai. Prakiraan cuaca maritim BMKG di kawasan Pelabuhan Utama Dwikora Pontianak menunjukkan udara kabur dengan jarak pandang sekitar 1 kilometer pada sejumlah periode pengamatan.

Sementara di Pekanbaru, konsentrasi PM2,5 terpantau berada pada kategori sangat tidak sehat. Kabut asap juga masih dirasakan di Jambi.

Kementerian Kehutanan menyebut kualitas udara di Indonesia masih bervariasi. Sejumlah wilayah di Sumatera dan Kalimantan bahkan berada pada kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat, sementara beberapa area lainnya masuk kategori berbahaya.

El Nino Sangat Kuat, Risiko Karhutla Masih Tinggi

Ancaman karhutla diperkirakan belum segera berakhir.

BMKG dalam prakiraan periode 18–24 September 2026 menyatakan pengaruh El Nino kategori sangat kuat bersama musim kemarau masih menyebabkan atmosfer relatif kering di sebagian besar Indonesia.

Kondisi tersebut meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan sekaligus memperbesar risiko meluasnya kabut asap.

Meski demikian, peluang hujan masih terbuka secara lokal. Hujan berpotensi terjadi pada 18–20 September di sejumlah wilayah, termasuk Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.

BMKG memperkirakan periode rawan karhutla masih berlangsung dalam beberapa pekan ke depan.

Presiden juga telah meminta pemerintah mempertahankan kesiapsiagaan dan memperkuat koordinasi menghadapi ancaman karhutla.

Dalam rapat terbatas pada 16 September, Presiden turut menginstruksikan penindakan terhadap korporasi yang setelah proses verifikasi terbukti bertanggung jawab atas karhutla, termasuk pencabutan izin dan penyelidikan unsur pidana.

53 Armada Udara Disiagakan

Untuk mempercepat penanganan, pemerintah menyiagakan 53 armada udara, terdiri dari 34 armada untuk water bombing dan 19 armada untuk patroli udara serta mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Operasi udara juga diperkuat tiga helikopter CH-47 Chinook dari Jepang yang dipersiapkan untuk mendukung water bombing.

Pengerahan armada disesuaikan dengan kondisi titik api di lapangan, hasil verifikasi hotspot, kondisi meteorologis dan faktor keselamatan penerbangan.

Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat dan dunia usaha terus melakukan pemadaman serta penanganan pascakebakaran.

Kementerian Kehutanan menegaskan bahwa hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit dan tidak otomatis berarti satu kejadian kebakaran. Satu kebakaran dapat menghasilkan beberapa hotspot sehingga seluruh indikasi tetap harus diverifikasi melalui pengecekan lapangan.

Habitat Gajah dan Orangutan Ikut Terancam

Karhutla tidak hanya berdampak terhadap kualitas udara dan aktivitas masyarakat, tetapi juga mengancam habitat satwa liar.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni pada Kamis (17/9) meninjau langsung Pusat Konservasi Gajah (PKG) Jalur 21 di Suaka Margasatwa Padang Sugihan, Sumatera Selatan.

Kawasan tersebut merupakan salah satu habitat penting Gajah Sumatra. Sebanyak 29 gajah binaan berada di PKG Jalur 21 dan hasil pemantauan menunjukkan seluruhnya masih dalam kondisi baik serta belum mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap karhutla.

Di Kalimantan Barat, BKSDA bersama masyarakat dan mitra konservasi juga menyelamatkan tiga orangutan di Kayong Utara pada 17 September.

Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) dan BKO BKSDA Kalbar bersama YIARI, Yayasan Palung serta masyarakat pengelola hutan desa terlibat dalam operasi tersebut.

Kementerian Kehutanan mengingatkan masyarakat agar tidak menangkap, mengejar, memberi makan atau mengevakuasi sendiri satwa liar yang keluar dari habitatnya akibat kebakaran.

Masyarakat diminta menjaga jarak aman, mencatat lokasi dan segera melaporkan kepada Balai KSDA terdekat.

Di tengah kemarau dan ancaman El Nino yang masih berlangsung, masyarakat dan pelaku usaha juga kembali diingatkan tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar.

Masyarakat di wilayah terdampak asap diminta memantau kualitas udara, mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kondisi memburuk dan menggunakan masker saat harus beraktivitas di luar. Anak-anak, ibu hamil, lansia serta masyarakat dengan gangguan pernapasan perlu mendapat perhatian lebih.

Sumber : Kemenhut

Editor : Abraham Johan

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses