Inflasi Balikpapan Juli 2026 Melandai, BBM dan Transportasi Masih Jadi Pemicu Kenaikan Harga

Pengisian BBM di SPBU
Pengisian BBM di SPBU (foto : Inialikpapan)

BALIKPAPAN, Inibalikpapan.com – Laju inflasi di Kota Balikpapan mulai menunjukkan tren yang lebih terkendali pada Juli 2026. Meski masih mengalami inflasi, tekanan harga tercatat lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya berkat penguatan sinergi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan berbagai program stabilisasi harga pangan.

Data Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Balikpapan menunjukkan inflasi bulanan (month to month/mtm) Balikpapan sebesar 0,25 persen, sedangkan Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mencapai 0,28 persen. Secara tahunan (year on year/yoy), inflasi Balikpapan berada di angka 3,06 persen, sementara PPU 2,34 persen.

Inflasi Balikpapan tercatat masih berada di atas inflasi nasional sebesar 2,88 persen, sedangkan inflasi PPU berada di bawah angka nasional. Meski demikian, keduanya masih berada dalam target inflasi nasional 2026 sebesar 2,5 persen ±1 persen.

Bank Indonesia menilai meredanya tekanan inflasi tidak terlepas dari kelancaran pasokan dan distribusi bahan pangan, serta berbagai program stabilisasi harga seperti Gerakan Pangan Murah (GPM), Pasar Murah, dan Operasi Pasar yang digelar sepanjang Juli 2026.

BBM dan Transportasi Jadi Penyumbang Inflasi

Di Kota Balikpapan, inflasi terutama dipicu kelompok transportasi. Lima komoditas yang paling besar mendorong kenaikan harga adalah bensin, pelumas atau oli mesin, bakso siap santap, biaya servis kendaraan, dan sawi hijau.

Kenaikan harga bensin dipengaruhi penyesuaian harga Pertamax (RON 92), sementara naiknya harga oli, jasa servis, dan makanan siap santap dipicu meningkatnya biaya produksi dan operasional. Adapun kenaikan harga sawi hijau disebabkan terbatasnya pasokan akibat faktor cuaca yang memengaruhi produksi pertanian.

Sebaliknya, tekanan inflasi berhasil diredam oleh turunnya harga sejumlah komoditas pangan seperti cabai rawit, tomat, bawang merah, serta penurunan tarif angkutan udara dan harga emas perhiasan. Penurunan harga tersebut dipengaruhi meningkatnya pasokan dari daerah sentra produksi serta turunnya harga avtur dan emas dunia.

PPU Dipicu Harga Ayam dan Ikan

Di Kabupaten Penajam Paser Utara, inflasi terutama berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Komoditas penyumbang utama meliputi daging ayam ras, ikan tongkol, ikan layang, bensin, dan bahan bakar rumah tangga. Kenaikan harga dipicu terbatasnya pasokan, tingginya gelombang laut yang mengurangi hasil tangkapan nelayan, serta penyesuaian harga energi.

Sementara itu, harga cabai rawit, tomat, buncis, jagung manis, dan kacang panjang justru mengalami penurunan berkat meningkatnya pasokan dari sentra produksi lokal maupun luar daerah.

El Niño Jadi Ancaman Inflasi Semester II

Meski inflasi mulai melandai, Bank Indonesia mengingatkan masih ada sejumlah risiko yang berpotensi mendorong kenaikan harga pada semester II 2026. Ancaman utama berasal dari musim kemarau dan fenomena El Niño yang diperkirakan dapat menurunkan produksi pertanian di Pulau Jawa sebagai pemasok utama bahan pangan ke Balikpapan, PPU, dan Paser.

Selain itu, peningkatan kebutuhan pangan seiring bertambahnya operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) juga diperkirakan akan meningkatkan permintaan komoditas pangan sehingga perlu diantisipasi agar pasokan tetap terjaga.

Untuk menjaga inflasi tetap terkendali, KPwBI Balikpapan bersama pemerintah daerah dan TPID akan terus memperkuat koordinasi melalui rapat pengendalian inflasi, Gerakan Pangan Murah, workshop TANI CAMP 2026, serta implementasi Gerakan Pengendalian Inflasi Pangan Sejahtera (GPIPS) di Balikpapan, PPU, dan Paser.

Sumber : BI Balikpapan

Editor : Abraham Johan

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses