IPLM Kaltim Masuk 10 Besar Nasional, Rudy Mas’ud Ingatkan Bahaya “Baca Judul Langsung Komen”

Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Kalimantan Timur mencapai 44,11, menempatkan Kaltim di peringkat ketujuh
Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Kalimantan Timur mencapai 44,11, menempatkan Kaltim di peringkat ketujuh (foto : Pemprov)

SAMARINDA, Inibalikpapan.com – Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Kalimantan Timur (Kaltim) mencapai 44,11, menempatkan Kaltim di peringkat ketujuh dari 38 provinsi berdasarkan kajian nasional 2025 yang dirilis Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Capaian tersebut dinilai menunjukkan pembangunan literasi di Kaltim terus bergerak. Namun, Pemerintah Provinsi Kaltim mengingatkan tantangan literasi saat ini tidak lagi sekadar meningkatkan minat baca.

Di tengah derasnya arus informasi digital, masyarakat dituntut mampu memahami, menyaring, memeriksa, dan menggunakan informasi secara bijak.

Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud mengatakan capaian IPLM tersebut patut disyukuri sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat gerakan literasi di seluruh daerah.

“Berdasarkan hasil kajian nasional Tahun 2025 yang disampaikan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, IPLM Kalimantan Timur mencapai 44,11 dan menempatkan Kaltim pada peringkat ke-7 dari 38 provinsi di Indonesia,” kata Rudy, dikutip dari IG Pemprov.

Literasi Tak Cukup Sekadar Bisa Membaca

Rudy menilai perkembangan teknologi telah mengubah makna literasi. Masyarakat tidak cukup hanya memiliki kemampuan membaca, tetapi juga harus mampu memahami konteks informasi sebelum memberikan respons.

“Pemahaman kita tentang literasi juga harus terus berkembang. Literasi hari ini jauh lebih luas. Masyarakat tidak cukup hanya mampu membaca, tetapi juga harus mampu memahami, menyaring, dan menggunakan informasi secara bijak,” ujarnya.

Ia menyinggung kebiasaan masyarakat di media sosial yang kerap memberikan komentar hanya berdasarkan judul atau potongan informasi.

“Apalagi di era media sosial ini, informasi begitu cepat. Baru membaca judul saja, belum membaca isi, komen langsung panjang,” ungkapnya.

Menurut Rudy, fenomena tersebut menunjukkan bahwa kemampuan membaca harus berjalan beriringan dengan kemampuan berpikir kritis. Masyarakat perlu memastikan informasi yang diterima benar-benar dipahami sebelum disebarkan atau dijadikan dasar mengambil keputusan.

Generasi Muda Jangan Hanya Jadi Konsumen Informasi

Rudy juga meminta generasi muda Kaltim tidak berhenti sebagai pengguna informasi.

Generasi muda, kata dia, harus didorong untuk membaca lebih banyak, berpikir kritis, menghasilkan karya, serta memanfaatkan teknologi untuk kegiatan yang produktif.

“Kepada anak-anak serta generasi muda Kaltim, kami titip satu pesan: jangan hanya menjadi pengguna informasi. Jadilah pencipta informasi dan pencipta karya,” pesannya.

Ia juga meminta Gerakan Literasi Kaltim tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Gerakan tersebut harus hadir dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari keluarga, sekolah, desa dan kelurahan, komunitas, tempat kerja hingga lingkungan masyarakat.

Literasi Kaltim Didorong Jadi Gerakan Bersama

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kaltim Lisa Hasliana mengatakan Festival Literasi Kaltim menjadi momentum untuk menyatukan langkah berbagai pemangku kepentingan dalam memperkuat gerakan literasi secara berkelanjutan.

Menurutnya, gerakan tersebut diarahkan untuk meningkatkan minat baca, kegemaran membaca, sekaligus kecakapan literasi masyarakat.

Penguatan ekosistem literasi dilakukan melalui kolaborasi pemerintah, keluarga, satuan pendidikan, komunitas, dunia usaha, dan masyarakat.

Dengan pendekatan tersebut, literasi diharapkan tidak hanya tumbuh melalui perpustakaan atau sekolah, tetapi menjadi bagian dari aktivitas masyarakat sehari-hari.

Bunda Literasi: Tantangan Kini Banjir Informasi dan AI

Bunda Literasi Kaltim Suraidah Harum menilai pemaknaan literasi harus diperluas mengikuti perubahan kehidupan masyarakat.

Literasi, kata dia, tidak lagi hanya berkaitan dengan buku, perpustakaan, membaca, dan menulis. Masyarakat juga membutuhkan kecakapan untuk menghadapi lingkungan informasi yang semakin kompleks.

“Anak-anak kita hidup di tengah banjir informasi. Mereka berhadapan dengan media sosial, teknologi digital, kecerdasan buatan, berbagai macam informasi, sekaligus disinformasi,” kata Suraidah.

Karena itu, generasi muda perlu dibekali berbagai kemampuan literasi, mulai dari literasi kesehatan, keuangan, lingkungan, budaya hingga teknologi.

Kemampuan berpikir kritis juga menjadi bagian penting agar masyarakat tidak mudah menerima informasi tanpa melakukan pemeriksaan terlebih dahulu.

“Literasi juga berkaitan dengan pembentukan karakter seseorang, agar mampu menentukan informasi maupun tindakan yang baik bagi dirinya dan orang lain,” terangnya.

Suraidah berharap Gerakan Literasi Kaltim berkembang menjadi gerakan bersama untuk membangun budaya belajar sepanjang hayat.

Budaya tersebut, menurut dia, harus dimulai dari lingkungan terdekat, yakni keluarga dan rumah, kemudian diperkuat melalui sekolah, komunitas, dan masyarakat luas.

Dengan IPLM Kaltim 44,11 dan peringkat ketujuh nasional, tantangan berikutnya bukan sekadar mempertahankan posisi tersebut. Pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan perlu memastikan capaian indeks tersebut benar-benar tercermin dalam kemampuan masyarakat menghadapi banjir informasi, disinformasi, media sosial, dan perkembangan kecerdasan buatan.

Editor : Abraham Johan

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses