Kolaborasi Pentahelix Perkuat Literasi Anak, Dorong Program hingga Kelurahan

BALIKPAPAN,Inibalikpapan.com – Upaya membangun budaya literasi sejak usia dini terus diperkuat di Kota Balikpapan. Pemerintah Kota Balikpapan bersama Tanoto Foundation dan Dinas Perpustakaan dan Arsip (Dispustakar) menggelar Focus Group Discussion (FGD) KIARA (Kelas Inspirasi Antar Penggerak) sebagai ruang kolaborasi lintas sektor untuk merumuskan program peningkatan literasi anak yang berkelanjutan.

Bunda PAUD sekaligus Bunda Literasi Kota Balikpapan, Hj Nurlena Rahmad Mas’ud, menegaskan bahwa forum tersebut tidak boleh berhenti pada sebatas diskusi. Menurutnya, seluruh gagasan yang lahir harus diwujudkan menjadi program nyata yang mampu memberikan dampak langsung bagi anak-anak di Balikpapan.

“Kolaborasi ini menjadi langkah yang sangat baik. Saya berharap KIARA mampu melahirkan program-program yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh anak-anak kita. Literasi harus menjadi gerakan bersama, bukan hanya tanggung jawab satu instansi,” ujarnya.

Nurlena menilai tantangan literasi di Kalimantan Timur masih membutuhkan perhatian serius. Karena itu, pendekatan kolaboratif melalui konsep pentahelix dinilai menjadi strategi yang tepat dengan melibatkan pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, media, hingga masyarakat.

Ia berharap hasil diskusi tidak berhenti sebagai rekomendasi di atas kertas, tetapi segera ditindaklanjuti melalui program yang dapat dijalankan hingga tingkat kecamatan dan kelurahan.

“Semua pihak harus bergandengan tangan. Setelah forum ini selesai, harus ada implementasi nyata sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” katanya.

Selain literasi, Nurlena juga menyoroti komitmen Pemerintah Kota Balikpapan dalam menciptakan lingkungan yang ramah anak. Salah satunya melalui penyediaan ruang bermain yang aman, nyaman, sekaligus edukatif di enam kecamatan.

Menurutnya, keberadaan taman ramah anak dapat menjadi alternatif bagi anak-anak untuk mengurangi ketergantungan terhadap gawai. Ruang terbuka tersebut diharapkan menjadi tempat bermain, belajar, membaca, sekaligus membangun interaksi sosial yang sehat.

“Anak-anak perlu lebih banyak beraktivitas di luar rumah, mengenal lingkungannya, berinteraksi dengan teman sebaya, serta membiasakan diri membaca sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari,” tuturnya.

Dalam kesempatan itu, Nurlena juga menyinggung perkembangan penanganan stunting di Balikpapan. Ia menjelaskan bahwa hasil pendataan terbaru menunjukkan adanya sedikit peningkatan jumlah kasus. Namun, kondisi tersebut dinilai sebagai dampak dari semakin baiknya proses pendataan yang dilakukan kader dan petugas di lapangan.

Dengan data yang lebih akurat, pemerintah dapat memetakan wilayah prioritas sehingga intervensi penanganan menjadi lebih tepat sasaran, termasuk di kawasan Balikpapan Barat yang masih memerlukan perhatian khusus.

Di tengah efisiensi anggaran, ia mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari kader PKK, Posyandu, relawan, organisasi masyarakat, hingga perangkat daerah, untuk terus memperkuat edukasi kepada keluarga mengenai pentingnya pola asuh yang baik.

Menurutnya, stunting tidak hanya dipengaruhi oleh faktor gizi, tetapi juga pola pengasuhan, perhatian orang tua, serta lingkungan keluarga yang mendukung tumbuh kembang anak.

“Bila literasi tumbuh sejak dini dan anak-anak dibesarkan dalam keluarga yang sehat serta penuh perhatian, maka kita sedang menyiapkan generasi Balikpapan yang cerdas, berkarakter, dan mampu menghadapi tantangan masa depan. Kolaborasi hari ini adalah investasi terbaik untuk masa depan kota ini,” pungkasnya.***

Penulis : Samsul

Editor : Ramadani

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses